Pahlawan Sejati, Pahlawan Masa Kini dan “Pahlawan,” Serupa Tapi Tak Sama Risikonya

Pahlawan itu matinya pada (usia) muda.  Demikian sering terdengar kalimat itu entah dari orang tua atau pepatah, ungkapan atau kata-kata bijak. Tak tahulah dari mana asal muasalnya yang jelas kalimat itu telah sering tedengar di mana-mana, padahal usia merupakan rahasia dan ketentuan mutlak dari yang Maha Kuasa.

Kemyataannya, banyak ditemukan pahlawan yang berusia TUA bisa hidup sampai di atas 60 tahun bahkan lanjut usia, namun tidak sedikit yang meninggal pada usia relatif muda, misalnya adalah :

  • Amir Hamzah berusia 35 tahu.
  • Sultan Agung berusia 54 tahun
  • Teuku Umar berusia 45 tahun
  • Untung Surapati berusia 46 tahun
  • Jenderal Sudirman berusia 34 tahun
  • Brigjen Slamet Riyadi, 27 tahun
  • Pattimura, 34 tahun
  • Cut Meutia, 40 tahun
  • Maria Walanda Maramis, 52 tahun
  • Iswahyudi, 29 tahun
  • Ismail Marzuki 44 tahun
  • Halim Perdanakusuma 25 tahun
  • Ngurah Rai, berusia 29 tahun
  • Raden Ajeng Kartini, berusia 25 tahun
  • WR Supratman, berusia 35 tahun
  • Chairil Anwar berusia  27 tahun
  • Dan lain-lain

Mungkin di atas adalah pahlawan tempo doeloe (dulu) yang berkatagori sebagai Pahlawan Nasional atau Pahlawan Revolusi atau juga Pahlawan Anumerta yang pada masanya penuh dengan konflik bersenjata, culik menculik dan penjajahan. Mereka menjadi pahlawan karena pada umumnya membela kepentingan bangsa, negara, agama, warga dan wilayahnya atau organisasi mereka. Ada karena berjasa melalui maha karya seninya yang bernillai tinggi pada negara pada saat itu  hingga sampai kini.

Pahlawan Masa kini

Kini, di jaman modern, banyak ditemukan orang-orang yang pantas dihargai sebagai pahlawan. Dino Patti Jalal (pendiri Modernisator) menyebutnya sebagai “Pahlawan Masa Kini” yaitu mereka yang telah memberi sumbangsih heroik dan nyata pada masa kini. Mereka adalah :

Andi Rabiah, perawat yang sejak 1977 bertugas di Puskesmas Kepulauan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, yang lebih dikenal sebagai suster apung. Kemudian, Saur Marlina Manurung, pendiri sekolah rimba yang lebih dikenal sebagai Butet Manurung . Sumber : http://nasional.kompas.com

Pahlawan (dengan tanda petik)

Di samping ke dua jenis kelompok pahlawan Tempo Doeloe dan Masa Kini di atas, kita mengenal istilah pahlawan dengan tanda kutip. Mereka juga pemberani. Mereka juga meninggalkan kesan yang baik dan nyata berkontribusi meninggalkan warisan yang berkualitas pada bangsa dan negara. Sebut saja beberapa diantaranya adalah :

  • Munir Said, aktivis HAM, berusia 38 tahun menjadi simbol pahlawan penegakan HAM di tanah air.
  • Fuada Muhammad Syarifuddin (Udin) wartawan Bernas, berusia 32 tahun menjadi simbol perjuangan Wartawan Indonesia menyuarakan kebenaran.
  • Dan lain-lain

Pada masa kini, sosok pahlawan bertanda kutip semakin banyak. Lihat saja salah satu buruh yang tewas akibat bunuh diri pada pelaksanaan hari buruh sedunia di GBK Jumat lalu (1/5), Sebastian Manuputi (32) membakar dirinya. Percaya atau tidak, Sebastian telah menjadi pahlawan dalam pandangan kelompoknya karena dengan heroik dan gagah berani membela dan menyuarakan kepentingan kelompok buruh, meski dengan cara yang tidak lazim, bakar diri sampai tewas pada usia muda.

Fenomena pahlawan masa kini belum berhenti. Kini Abraham Samad sang pemberani dan gagah perkasa dalam membela kebenaran dan anti korupsi mulai tersisihkan. Meski kondisi ini tidak sama dengan usia pendek sejumlah aneka jenis pahlawan di atas tapi keberanian Abraham Samad paling tidak telah menghentikan kariernya, bahkan kini Samad ditahan oleh Polisi akibat sejumlah tuduhan Polisi padanya.

Seorang lagi pahlawan dalam birokrasi, Ahok atau (Basuki Tjahaja Poernama) juga coba dihentikan langkahnya oleh kekuatan besar bahkan teramat besar. Dari seluruh penjuru seakan menghadang Ahok sang maestro DKI Jakarta. Irama perseteruan Ahok dengan lawannya naik turun atau pasang surut silih berganti, tapi ancamannya tetap saja ada, yaitu menghentikan langkah ahok sebagai punggawa DKI Jakarta.

Di berbagai institusi dan lembaga baik pemerintah, swasta dan militer juga ditemukan sosok pahlawan yang mati atau dimatikan kariernya pada usia muda. Lihatlah Novel Baswedan, betapa heroiknya ia beberapa tahun lalu berpihak pada KPK bahkan sampai kini. Namun kariernya harus berakhir seiring dengan penangkapannya oleh Polisi.

Bagaimana trengginasnya Komjen Soesno Duajie menjalankan perannya sebagai Polisi anti kriminal dan diharapkan menjadi pahlawan dalam reformasi di tubuh Polri, tapi akhirnya berujung pada kematian kariernya.

Lihat juga Antasari  bisa jadi sebagai “pahlawan” anti korupsi tak kenal takut dari KPK, akhirnya juga terjebak yang menghentikan kariernya bahkan menghadapi risiko atas pilihannya, ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di balik jeruji besi.

Di kalangan anggota DPR RI juga ada “pahlawan,” Adjie Massaid namanya. Ia meninggal pada usia muda (43). Disinyalir Adji bnyak mengetahui dan menyimpan sejumlah informasi praktek korupsi Bank Century dan kasus pembangunan wisma atlet di Palembang.

Jenderal Chairuddin Ismail, mantan Kapolri juga masuk katagori “pahlawan” meski hanya menjabat Kapolri seumur jangung dalam masa jabatan hanya 2 bulan. Meski statusnya pejabat sementara (Plt)  tapi pangkatnya  menjadi Jenderal. Dia sosok yang berani karena berani ambil risio mengakomodir kepentingan politik presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia memilih lebih dekat dengan Presiden Abdurrahman Wahid ketimbang dengan institusinya sendiri pasa masa itu. Tak heran 102 perwira tinggi dan menengah Polri saat itu menolak pengangkatan Chaeruddin dengan alasan tak ingin terlibat dalam politik. Chaeruddin diharapkan menjadi pahlawan, akan mampu menjaga beberapa strategi ketertiban dan keamanan kepentingan politik Presiden Gus Dur saat itu. Sayangnya usia jabatannya langsung mati seketika, hanya bertahan dua bulan saja.

Di sebuah BUMN seorang karyawan terkenal juga menjadi pahlawan karena membela kepentingan rekan-rekannya atas prinsip senasib dan sepenanggungan harus dipecat dari perusahaan. Tak lama ia pun disingkirkan bahkan dikucilkan lalu diberhentikan dengan segudang masalah adiminitrasi yang berat-berat sehingga bermasalah saat mengambil hak pensiun atau pesongonnya.

Di sisi lain, seorang pimpinan kantor perusahaan swasta yang menjalankan tattertib dan aturan menjadi pahlawan menjaga eksistensi dan masa depan perusahaannya, tapi ia harus berhadapan dengan karyawan anti disiplin yang senang dengan zona nyaman, suka pola lama, semena-mena dengan aturan. Ia pun juga harus menyingkir, tersingkir atau disingkirkan akibat dianggap tidak kooperatif.

Tak sedikit sejumlah pejabat daerah disingkirkan akibat dianggap tidak sejalan dengan kepala daerah juga menuai nasib malang berhenti kariernya akibat menjadi pahlawan membela kebenaran daripada membela kepentingan politik dan bisnis bos besar.

Kalimat kasar seperti berikut kerap menghiasi penistaan sang pahlawan. “Hmmm mau sok jadi pahlawan, ya?” atau “Mau jadi pahlawan??” atau lebih seram lagi, “Rasain jadi pahlawan kesiangan..” dan lain-lain kalimat sejenis itu adalah pernyataan yang menusuk bagaikan membunuh karakter seseorang.

Menjadi pahlawan masa kini dan masa lalu sama-sama berisiko.  Bedanya dengan pahlawan jaman kini adalah masa jabatan pahlawan masa kini sangat pendek. Pada titik tertentu nasib usianya juga sama risikonya, terancam mati pada muda usia disingkirkan segera atau dibunuh karakternya.

Meski demikian mengapa selalu  ada yang menjadi “Pahlawan” di jaman kini? Meski akal sehat mengetahui risiko atas pilihannya namun selalu saja ada sosok-sosok legendaris yang menjadi pahlawan masa kini untuk teman-temannya, untuk organisasinya, untuk lembaga dan insitusinya, untuk koleganya, untuk kepentingan atasannya bahkan untuk membela orang yang tidak dikenalnya sekalipun dalam aksi kejahatan pada orang lain yang terlihat di hadapannya.

Nalurikah (panggilan jiwa) atau sekadar hobi atau sekadar pamer diri (gagah-gagahan) menjadi pahlawan masa kini? Kelihatannya yang terbanyak adalah karena panggilan jiwa. Hati nurani menggerakkan sesorang dengan reflektif menjadi pelindung bagi yang lain meski ia harus menjadi korban atas pilihannya.

Dari penggunaan sebutan pahlawan saja pun kini telah tergerus maknanya, konon lagi mau obyektif mengingat jasa para pahlawan sejati dan pejuang  terdahulu yang telah nyata memberi warisan hidup masa kini. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat (menghargai) jasa pahlawannya.

Perang, revolusi, pendudukan, penjajahan tidak ada lagi mengapa para pahlawan saat ini harus mati atau berhenti masa depannya oleh kekuatan yang tidak sepaham dengannya? Terlalu berbahayakah “pahlawan” masa kini? Atau jangan-jangan kekuatan yang mengkhawatirkan mereka itu justru berbahaya.. Mari kita renungkan sejenak, hehehehhe..

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s