Anggun C Sasmi Klarifikasi Suratnya via “Siaran Kayangan”

anggun jaring laba-labaTersebutlah Anggun Cipta Sasmi menjadi pembicaraan hangat selama dua pekan terahhir diseluruh Indonesia, tempat ia lahir dan dibesarkan sampai akhirnya pada usianya ke 19 tahun mengadu nasib dari satu daratan eropa ke daratan eropa lainnya hingga sukses sebagaimana telah diketahui bersama.

Hangatnya pembicaraan tentang Anggun kali ini BUKAN karena ia telah menambah (menimbun) koleksi penghargaan yang diraihnya melainkan akibat surat terbukanya untuk Presiden Jokowi atas sikap kontranya dalam eksekusi mati sejumlah gerbong Narkoba yang dalam pandangannya sebagai sikap yang kuno dan tidak manusiawi.

Aggun merasa sangat beruntung tinggal di Perancis bertahun-tahun, sebuah negara yang sudah super modern. Hukuman mati tidak akan mengurangi angka kriminalitas. Masih ada jenis hukuman lainnya yang lebih manusiawi, misalnya hukuman seumur hidup seperti di negara-negara maju lainnya tidak lagi menerapkan sistim hukuman mati. Begitulah sekilas beberapa petikan penting dalam suratnya kepada Jokowi yang dapat dibaca seluruh dunia, diposting  pada 22 April 2015 dalam akun Facebooknya.

Bak gayung bersambut, Anggun mendapat respon pro dan kontra di tanah kelahirannya, Indonesia. Sayangnya sambutannya lebih banyak kontra dengannya. Aneka surat terbuka balasan dari saudara-saudara dari berbagai penjuru tanah leluhur kini kerap menyerang Aggun sampai menyasar ke asal sejarah turunan dan budayanya. Belum lagi yang menilai dari sisi pribadinya, dituduh sombong, angkuh, lupa daratan dan mementingkan pesan terselubung suami ketiganya saat ini, Cyril Montana seorang penulis buku di Perancis.

Terpesona dengan reputasi Anggun –yang telah memunyai seorang anak perempuan (Kirana Cipta Montana Sasmi) pada Nopember 2008- membuat penulis takjub coba menggali tentang Anggun dalam aneka litaratur. Ternyata, semakin digali semakin mempesona. Hampir tak ada celah merendahkan Aggun yang mungkin saja sedang gerah bercampur sedih terlihat di “seberang sana” dengan tatapan tajam.

Rambutnya bergerai panjang di kedua bahu, menutupi ke dua dahinya yang kokoh dan manis. Di padu baju bak dewi Yunani dalam mitos dongeng Grace, begitulah Aggun terlihat.

Wow, terpesona melihat diva Anggun seolah sedang turun dari kayangan menghilangkan ketakutan pada wujud dewi yunani berbusana putih dengan rambut terurai panjang. Belum sempat menanyakan apa-apa, Anggun langsung datang menyapa.

“Maaf saya menganggu, bang,”

“Tidak apa-apa. Anda Aggun atau siapa?,” tanya saya curiga, kuatir siapa-siapa.

Ya benar, saya anggun cipta sasmi,” jawabnya yakin, sambil minta izin minta duduk dihadapan penulis.

“Oh.. yang sudah tinggal di Perancis bertahun-tahun itu ya? Mengapa anda datang ke tempat saya mba anggun, bukankah saya hanya kenal anda dari layar kaca saja? Kita kan tidak saling kenal?” saya mengingatkannya secara implisit.

“Bukan begitu abang. Maksud saya bertahun-tahun itu artinya sudah lama. Orang di negara maju kan biasa menyebutkan sesuatu dengan ukuran. Luasnya berapa meter, kilomter, hektar dll. Beratnya berapa ons, kilogram, ton dan lain-lain. kan harus jelas ukurannya abang…..” katanya meluruskan jenis olok-olokan yang ia baca pada sejumlah tulisan tentang dirinya di media massa dan media sosial di Indonesia.

Ooo la.la.. jadi orang Barat itu obyektif ya? Tidak mengambang menjelaskan sesuatu. Harus nyata dan tegas?”

Ya Iya laaah, makanya dalam mendiskripsikan waktu yang sangat lama itu saya menyebutnya dalam ukuran 8 tahun… begitu loh mas. “ Dialeg aslinya mulai keluar meski sudah lama (ehhhh delapan tahun) melanglang buana di Luar Negeri.

Terus kok saya yang dituju, apa gak salah alamat mba? Saya memotong cepat sebelum Anggun naik darahnya karena diledikan terus kuatir kadar kolesterolnya berproses.

Justru itulah saya datang pada orang yang tidak mengenal saya sebelumnya. Tapi saya kenal anda sering menulis. Dari andalah saya berharap dapat menyampaikan dengan baik dan benar tentang apa makna yang tersirat dan tersurat pada surat terbuka saya kepada Presiden Joko Widodo pada  22 April lalu dalam FaceBook saya,” katanya lirih dan tidak semangat.

“Anda keliatan layu, lemas dan tidak semangat?,” tanya saya sambil mentapnya lembut-lembut supaya dia tidak kuatir dengan matanya lelaki seperti dalam lagunya “Tua-tua Keladi.”

“Ya benar saya tidak bahagia sejak saudara-saudara saya di tanah air pada ngeledekin saya. Pada umumnya menentang dan menertawai saya, seolah saya ini seperti orang yang tidak tahu diuntung, mirip dalam peribahasa ‘kacang lupa sama kulitnya,’ saya sedih banget, bang,” kata Anggun.

“Terus apa yang perlu kita bicarakan selain sedih dan kecewa dari tadi,” saya mulai menyerang.

Begini bang, kalau tidak keberatan, abang rekamlah pembicaraan ini supaya nanti tidak salah ketik salah penyampaian, malah abang yang saya, tuntut akibat makin memperparah kondisi, bukannya memperbaiki kondisi, hehehehhe.” akhirnya Anggun mulai tersenyum seperti dalam senyuman salah satu hits nya Snow on The Sahara.”

“Hehehhe, bisa juga senyum akhirnya kan? OK silahkan sampaikan mba, saya rekam nikh melalui hape.” Saya pun menekan tombol hape menu rekaman.

“mhhhhh,” tombol rekaman sudah tertekan..”Silahkan mba..”

Anggun pun mulai aksinya. Dia mulai bediri membetulkan busananya. Terlihat bodi atletisnya dibalut oleh busana tipisnya berwarna putih berliuk-liuk mengikuti lekuk garis tubuhnya. “Woow…Pantes om Frank tertarik pada Aggun,” kata di dalam hati saya..

Saya kira adegan itu hanya sekejab. Ternyata lama juga (mengikuti Anggun, ya 1 menit begitu)..

Lalu dia menatap saya nyaris bikin aneka bulu kuduk  bediri (merinding). “Kenapa melotot saya begitu? Ada yang salah dengan busana saya? Kuno ahhhhhh..” mungkin itu pesan tatapan dari bola matanya yang hitam legam.

Sejenak kemudian dia ambil nafas, lalu terdengarlah suaranya. yang kemudian ditulis dalam susunan berikut :

dalam hitam kelap malam
kuberdiri melawan sepi
di sini di pantai ini
telah terkubur sejuta kenangan
dihempas keras gelombang
dan tertimbun batu karang
yang tak kan mungkin dapat terulang

wajah putih pusat pasi
tergores luka di hati
matamu membuka kisah
kasih asmara yang telah ternoda
hapuskan semua khayalan
lenyapkan satu harapan
kemana lagi harus mencari

kau sandarkan sejenak beban diri
kau taburkan benih kasih
hanyalah emosi

melambung jauh terbang tinggi
bersama mimpi
terlelap dalam lautan emosi
setelah aku sadar diri
kau tlah jauh pergi
tinggalkan mimpi yang tiada bertepi

kini hanya rasa rindu
merasuk di dada
serasa sumpah melayang pergi
terbawa arus kasih membara……………”

Oughhh ternyata  bait atau lirik pada paragraf terakhir lagunya di atas  menghiasi telinga saya ketika youtube yang terbuka beberapa menit lalu melelapkan saya dalam peraduan sejenak dan tercipta mimpi indah nan seksi  di depan laptop.  Penulis baru tersadar ketika lagu berjudul “Mimpi” yang membuat penulis bermimpi itu tiba pada bait terakhirnya “Terbawa arus kasih membara…” terasa menggelitik telinga hingga terbangun dalam sunyi, seiring berhentinya siaran kayangan di negeri mimpi….

Mungkin  siaran dari negeri kayangan alias mimpi itu berkaitan juga dengan gerahnya Anggun seperti dalam lirik lagu Mimpi. Sekadar menebak, mungkin suratnya bertujuan positif tapi karena kurang pas budaya penyampaian dan BUKAN bidang Aggun akhirnya telah membawanya dalam “arus kasih yang membara” dari saudaranya di tanah air.

Rasanya  ia ingin pulang saja akibat terasa sesak di dalam dada. Ternyata ikut-ikutan dalam hal bukan bidangnya membuatnya kegerahan dan mungkin tidak bahagia saat ini padahal ia memiliki banyak hal yang diinginkannya. Meski demikian ada satu hal yang tidak didapatkannya di luar negeri, yaitu gulai Otak kesukaannya. Rasanya memang nikmat sekali meski berkolesterol sangat tinggi sehingga jarang diitemukannya di luar negeri..

Baginya, no problem gulai otak langka di luar negeri, karena untuk mengencerkan otak orang barat dan khususnya negara maju membaca buku. Jadi buku adalah makanan penting bagi otak, kata anggun dalam sebuah pesan di facebooknya.

Ahhhhh Anggun, anggun. Bikin siaran ulangan sekali lagi saja, biar lebih bagus isi pesannya sehingga tidak menimbulkan salah tafsir, hehehehe..

salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s