Intip Twit Dubes Australia Paul Grigson

Menlu Australia Julia Bishop tak mampu lagi mengendalikan emosinya karena putus asa. Ia menyampaikan sedih luar biasa pada keluarga Duo Bali Nine atas pelaksanaan eksekusi hukuman mati terhadap keduanya pada Rabu dini hari (28/4/205) di sebuah lokasi hutan Pulau Nusakambangan.

Sejumlah ancaman (konsekuensi) yang akan dihadapi Indonesia kerap tersembur dari lontaran kata-katanya –dalam berbagai pertemuan-  ternyata tidak mampu menghentikan rencana Indonesia menerapkan pelaksanaan hukuman mati tersebut.

Aneka upaya dan lobi oleh pejabat atau utusan yang ditunjuk Australia untuk membebaskan Duo Balinan (Andrew Chan dan teman sehidup sematinya Myuran Sukumaran) telah dilaksanakan secara optimal namun ternyata tidak membuahkan hasil selain penundaan beberapa minggu lamanya dari rencana eksekusi Maret lalu.

Salah satu pejabat Australia yang paling sibuk di Indonesia sesungguhnya adalah Dubes Paul Grigson yang baru bertugas sejak 15 Maret 2014 lalu di Jakarta. Akan tetapi sikapnya sangat kontras dengan apa yang diperlihatkan oleh big boss-nya di Canberra, Grikson lebih tenang, menikmati tugasnya dan bersikap sangat elegan.

Lihatlah ketenangan Grigson pada sejumlah kicauan Paul dalam akunnya Paul Grigson @DubesAustralia. Terlihat betapa tenang dan santainya ia tunjukkan kedewasaan dan kenegarawannya serta profesional di bidangnya sebagai Dubes di negeri orang.

Entah akun itu dikelola oleh staf khususnya di kedutaan ataukah ia sendiri yang berbalas kicauan, yang jelas akun resmi tersebut telah berkicau sejak 25 September 2014. Jika akun palsu tentu tidak akan lama-lama berahan setahun lebih lamanya. Akun Grigson telah berkicau sebanyak 5.638 kali per 26 April 2015 atau sekitar 2 hari yang lalu (dari saat tulisan ini dibuat). Beberapa kicauannya sengaja penulis kutip pada bagian tertentu saja dari sumber berikut ini: https://twitter.com/dubesaustralia

Kiacaun Awal Paul Grigson

Kicauan pertama Mr Grigson yang tinggi besar tapi sangat ramah terhadap warga Indonesia di mana pun berada adalah kegembiraannya atas kehadiran kelompok musik perkusi Australia dalam sebuah festival musik di Jakarta pada 25 September 2014. Ia menulis “Aust percussion group @speakpercussion performing ‘Circuit’  @Salihara Festival Jakarta. New music and hybrid art.”

Setelah itu banyak ditemukan pertemuan penuh perhatian dan bersahabatnya pada Indonesia. Sorotan terpenting dalam pandangan penulis adalah aktivitas Mr Grigson  dalam beberapa bidang sebagai berikut:

Acara kunjungan ke berbagai universitas Indonesia; Pertemuan dengan mahasiswa perikanan Indonesia yang sedang belajar di Brisbane; Mendukung antikorupsi melalui forum Wanita Indonesia Australia antikorupsi; Pemberian aneka bantuan Australia kepada pelajar dan guru Indonesia; menghadiri acara militer dan sosial.

Pada 15 November 2014, ia meretwit gambar-gambar kunjungan Presiden Jokowi dan Ibu Ariane saat mengunjungi panangkaran Koala di Brisbane dengan kalimat bersabahat “Foto-foto Ibu Negara saat mengunjungi penangkaran Koala di Brisbane Australia.”

Pada 28 September 2014, berkunjung ke sejumlah Masjid termasuk kekagumannya pada Masjid Baiturrahman di Banda Aceh. Terlontar kalimat kagumnya pada akun Twitter-nya, “It is Great,” melalui kicauannya pada 30 September 2014 tentang kunjungannya ke Banda Aceh dua hari sebelumnya pada 28/9/2014. Suatu kehormatan bertemu Dr Zaini Abdullah, Gubernur Aceh, dan menerima gambar Mesjid Raya Baiturrahman.

Pada 21 Oktober 2014. Dengan antusias Paul Grigson mengirimkan ucapan selamat atas pelantikan Jokowi sebagai Presiden RI. Dalam akunnya Paul menulis “Selamat #PresidenJokowi atas nama Perdana Menteri Tony Abbott dan rakyat Australia. GM.”

Pada 16 Oktober 2014, ikut serta memperingati tenggelamnya fregat Australia di Selat Sunda pada PD-2. Ia menulis Indonesia, Aust & AS pd peringatan tenggelamnya HMAS Perth 1 & USS Houston dlm Pertempuran Selat Sunda @TNI_AL

Kicauan Paul Grigson terkini menjelang eksekusi Duo Bali Nine.

Saat topik eksekusi Duo Bali Nine semakin menghangat, Bapak Dubes berkicau lagi. Kali ini lihatlah betapa enjoy-nya Grigson melalui catatan berikut:

  • Pada 1 April 2015. Grigson menulis, “Tetangga itu seperti saudara, kata @Pak_JK ketika menerima @DubesAustralia Paul Grigson http://wapresri.go.id/index/preview/berita/25120 …”  Mengutip pesan Jusuf Kalla ketika ia bertemu dengan JK pada sebuah acara kunjungan persahabatan.
  • Pada 6 April 2015 saja kicauannya mengajak pengikutnya sebanyak orang mendengarkan sebuah lagu. Ia menulis, “Dengarkan lagu ‘You’ve Got Something‘ dr @thejunglegiants #GDayMateJKT.”
  • Pada 21 April 2015, mencicipi empek-empek pada salah satu acara di Jakarta. “Jadwal #ACTjkt2015 hari ini di @GrandIndo LEVEL 5 West Mall: ngobrol ttg foto makanan,kopi,bisnis impor makanan dg alumni Australia.”
  • Pada 23 April 2015. Jadwal #ACTjkt2015 hari ini di @GrandIndo LEVEL 5 West Mall: ngobrol ttg foto makanan,kopi,bisnis impor makanan dg alumni Australia.
  • Pada 24April 2015, mengundang calon penerima bantuan Hibah kecil dari Austrlia. Ia menulis: Mengundang pemohon dr Indonesia & Australia ajukan usulan proyek utk Program Hibah Kecil! Info lbh lanjut http://bit.ly/1DqdAOs
  • Pada 25 April 2015, mengingatkan pengikutnya menghadiri demo masak oleh salah satu pakar terkenal kuliner Indonesia. Pakar kuliner Ind @williamwwongso menampilkan demo masak hari ini #ACTjkt2015 di @GrandIndo LEVEL 5 West Mall jam 1.15 siang

Lihatlah di atas, tidak ada kicauan Grigson yang membuat dia atau kita menjadi sangat gelisah. Kicauan terakhir Grigson pada 26 April lalu masih tenang-tenang saja, hanya mengenai demo masak oleh juru masak anak-anak. It’s #ACTjkt2015 last day! Let’s join the kids cooking demo by Little Chef Wonder at 11 am @GrandIndo LEVEL 5 West Mall.

Atas analisa pada catatan kicauan Paul Grigson di atas  kelihatannya memperlihatkan Grigson  memang  sangat dewasa dalam menyikapi sikap Indonesia dalam isu hukuman mati Bali Nine memang sangat beralasan. Kematangan seorang Grigson karena pengalamannya sebagai salah satu diplomat berpengalaman di berbagai negara Asia membuatnya mampu memahami betul bagaimana berinteraksi dengan penduduk dan wilayah tempat ia berpijak berdiri, tidur, makan dan segala-galanya di tempat ia ditugaskan oleh negaranya.

Grigson adalah sarjana psikologi dan ahli dalam ilmu komunikasi, berpengalaman dalam bidang keuangan dan paling terkenal sebagai kepala negosiasi dan kepala pengawas perjanjian Bouganville  (North Salomon) pada tahun 2000 yang lalu.

Mengapa Grigson lebih enjoy menikmati hari-harinya di Indonesia. Apakah Grigson tidak berempati atau mati rasa terhadap beban (acting) pemerintahnya menghadapi persoalan super berat Duo Bali Nine mereka?

Grigson pasti telah melihat dan mengetahui sejumlah fakta sejak setahun terakhir bagaimana pemerintahnya -dalam kendali- Tony Abott tak habis-habisnya mencecar Indonesia dan memberikan peringatan pada sejumlah konsekuensi yang bakal dihadapi pemerintah Indonesia jika eksekusi Duo Bali Nine dijalankan, antara lain adalah:

  • Memutuskan kerja sama Komisi Yudisial antar negara
  • Menghentikan kerja sama polisi Federal Australia kepada Polri dan Kopassus
  • Menghentikan dan memotong A$ 600 juta bantuan luar negeri Australia kepada Indonesia pada tahun ini.
  • Tidak akan membantu Indonesia dalam fit and propert test tentang peluang Indonesia mengambil keuntungan dalam kerja sama ekonomi di tingkat dunia.
  • Tidak akan mengirim utusan pejabat tinggi militer Australia pada saat pensiun masa bakti Jenderal Moeldoko sebagai Panglima TNI.
  • Menangguhkan pertemuan penting antarpejabat menyangkut kerja sama militer, pendidikan, keamanan dan bidang hukum.
  • Akan terlibat dalam sanksi ekonomi apabila dijatuhkan pada Indonesia di masa yang akan datang.

Lihatlah betapa murkanya pemerintah Australia, bukan? Tapi menurut penulis tidaklah begitu sebenarnya dalam pandangan Mr Grigson. Ia paham betul bahwa posisi dan peranan Indonesia sangatlah penting bagi Australia, sama halnya dengan peranan Australia pada Indonesia.

Hubungan baik dengan Indonesia telah berjalan pasang-surut, namun lebih banyak pasangnya ketimbang surutnya. Hal ini menandakan bahwa hubungan Australia dan Indonesia BUKAN bergantung pada Duo Bali Nine semata meski penulis yakin bahwa ia amat terpukul dengan kenyataan tersebut seperti kita juga pada umumnya sangat menyesali kepergian mereka semua (termasuk Duo Bali Nine) di ujung timah panas regu tembak pada dini hari 29/4 barusan.

Grigson mungkin teringat pesan salah satu negarawan kondang Australia yang paling terkenal, yaitu Paul Keating mantan PM Australia. Dalam sebuah kunjungannya di Indonesia pada 1990, Keating mengatakan: “No country is more important to Australia than Indonesia. If we fail to get this relationship right, and nurture and develop it, the whole web of our foreign relations is incomplete ” kata Keating dengan menanyakan tiga kali berturut-turut, “Why can not we be friends? Why can not we be friends? Why can not we be friends?” betapa strategisnya Indonesia bukan sekadar basa-basi.

Hal ini ditindak lanjuti Keating dengan melaksanakan kerja sama ekonomi (ekspor dan impor) saling membutuhkan di mana pada 1999 ekspor Australia ke Indonesia mencapai hampir 290 juta dolar. Sedangkan impor Australia dari Indonesia hanya sekitar 130 juta dolar pada 1999. Sumber : wikipedia.org

Ini adalah fakta yang dilihat oleh diplomat cerdas seperti Grigson. Ia menemukan paradigma obyektif yang memperlihatkan Indonesia memang sasaran empuk untuk meningkatkan perekonomian Australia ketimbang menjadikannya sebagai musuh. Ratusan juta penduduk Indonesia adalah sumber pemasukan bagi negaranya ketimbang membuat penduduk Indonesia tidak menggantungkan lagi harapannya pada Australia.

Grigson juga pasti tahu bahwa Indonesia adalah peminjam terbesar dana dari Australia yang berarti Australia perlu menjaga hubungan baik dengan pelanggan (debiturnya) bukan dengan membuatnya pergi entah ke mana meninggalkan segudang hutang yang tak jelas rimba saat dan cara pengembaliannya.

Kesimpulannya, Grigson tidak melihat sikap melankolis Tony Abott dan Julia Bishop sebagai hal yang serius, artinya ancaman tersebut tidak akan pernah terjadi dan tak perlu terjadi. Indonesia bukan mau melawan atau menantang Australia, tapi ia menjalankan produk hukum di negerinya sendiri. Jadi mengapa harus kita ancam, tokh yang rugi juga kita sendiri. Mungkin begitu dalam pandangan Grigson yang penulis tangkap dari pengamatan sikap dan tindak tanduk Paul Grigson dari aktivitas akunnya dalam setahun lebih menjabat Dubes Austrlalia untuk Indonesia.

Kita tidak tahu apakah dengan tulisan ini lantas akun Twitternya langsung dihapus atau hilang mendadak? Atau tiba-tiba Grigson digantikan oleh penerusnya? Tulisan ini juga TIDAK bermaksud memecah hubungan baik Grigson dengan “big boss” atau pemerintahannya di Australia.

Sesungguhnya ia telah mencoba pendekatan psikologis dengan pemerintah Indonesia sejak Maret 2014 melalui sejumlah sikap yang dewasa, ikhlas, bersahabat, setara dan seimbang dengan pemerintah dan rakyat Indonesia. Meski sikap dewasa menjurus tenang tersebut ternyata tidak membuahkan hasil, kita dapat melihat indikasi apa di balik sikap tenang Mr Grigson ini terhadap hubungan ke dua negara. Ancaman yang ditebar oleh Toni Abott dan Julia Bishop tidak akan seraparah itu dampaknya.

Apa pun yang terjadi kita berharap sikap seperti Grigson perlu diperlihatkan oleh siapa pun teman (negara sahabat) yang ingin bersahabat dengan negeri kita, Indonesia Raya yang sedang berjuang menegakkan benang kusut dalam tatanan hukum dan demokrasinya.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s