Bahasa Indonesia Disanjung Setinggi Mount Titlis, Swiss

bahasa IndonesiaTulisan ini adalah kisah nyata pengalaman penulis saat bepergian ke Swiss akhir 2012 lalu tentang keindahan bahasa Indonesia di mata negara Swiss sehingga menjadikannya sebagai salah satu bahasa pengantar informasi di negara tersebut. Salah satu tempat terindah di dunia itu lihatlah betapa bahasa kita dihargai setinggi langit melebihi puncak gunung terindah di dunia tesebut.

Mount Titlis, sebuah gunung yang bersalju abadi sepanjang tahun terletak di negara Swiss (Switzerland) tepatnya di kota Engelberge sekitar 45 menit dari kota Luzern (Lucerne) menggunakan jalur darat.

Sering kita dengarkan dan baca tentang keindahan dan kualitas jalan di kota-kota di Swiss, begitu juga halnya pada tulisan ini, perjalanan sejauh hampir 25 kilometer itu melalui jalanan yang indah dan sangat berkualitas mutunya meskipun tetap ada yang menikung naik-turun setelah diupayakan secara optimal meluruskan dan mendatarakannya di beberapa ruas.

Menurut informasi salju tahun ini turun lebih cepat dari biasanya. Salju telah mulai turun di Swiss sejak sebulan yang lalu dan telah membuat suasana kota Lucerne menuju Engelberge dan ke lokasi Mount Titlis (Mt Titlis) itu bagaikan lukisan yang sering terlihat kita tentang sebuah desa di kaki gunung yang diselimuti salju. Mempesona, damai dan tenang penuh sejuta imajinasi yang tak dapat disebutkan pada tulisan ini.

Menurut catatan, suhu rata-rata di Mt Titlis berada pada minus 10 derajat celsius, akan tetapi suhu paling ekstrim minusnya justru terjadi pada bulan Desember ini bisa mencapai di bawah minus 15 derajat celsius.

Meskipun suhu mencapai minus 10 derajat celsius pada saat ini tak mengurangi minat wisatawan berkunjung ke salah satu lokasi terindah di dunia tersebut. Bahkan menurut informasi, jumlah wisatawan mengalami masa puncaknya justru pada bulan Desember seperti ini sehingga memancing pengelola hotel menaikkan tarif kamar mereka hingga mencekik leher, tapi tetap saja ada dan banyak yang berminat.

Untuk mencapai puncak Mt Titlis setinggi 3238 m itu sangat mudah. Sudah ada kereta gantung (gondola) yang mengantar kita ke posisi 1800 m dan 2800 meter. Setelah itu sebuah kereta berbentuk bulat seperti UFO siap mengangkut sebanyak 60-70 penumpang ke posisi 3028 m.

1354578430477320814

Bahasa Indonesia digunakan dalam kereta gantung berputar di Mount Titilis.Sumber gambar : abanggeutanyo

Di dalam kereta bulat besar berbentuk UFO tapi berdesak-desakan itulah kita dapat melihat tulisan tentang keindahan Mt Titlis yang ditulis dalam 19 bahasa dunia, termasuk diantaranya adalah bahasa Indonesia. Lihatlah pada gambar sebelah ini bertulisan kalimat tentang ucapan selamat datang di kereta kabel bergantung berputar pertama di dunia.

Apa hebatnya tulisan berbahasa Indonesia di tempel di dalam kereta tersebut? Tentu saja itu adalah apresiasi pengelola dan pemerintah swiss terhadap Indonesia karena alasan multi dimensi. Bisa saja karena hubungan Indonesia dan Swiss sangat baik, bisa juga karena wiasatawan dari Indonesia yang berkunjung ke Swiss mungkin saja yang terbanyak di dunia, atau bisa juga karena bahasa kita diakui oleh dunia sebagai bahasa yang patut diperhitungkan. Atau mungkin ada alasan lainnya yang dapat rekan pembaca budiman menambahkannya.

Tidak di situ saja, di sebuah lorong di tingkat lima pada stasiun di puncak gunung Titlis itu terdapat juga sebuah tulisan berbahasa Indonesia tentang penjelasan dalam bahasa Indonesia mengenai dunia Es yang ajaib di mount Titlis.

13545785591398424910

Bahasa Indonesia satu dari lima bahasa dunia yang digunakan untuk mengungkap misteri tentang Es yang ajaib disebuah lorong stasiun di Mt Titlis. Gambar : abanggeutanyo

Ternyata bahasa Indonesia diakui dunia juga bukan? Lalu jika dunia atau orang lain menghargai bahasa Indonesia dan menguasainya dengan baik, benar, fasih dan bertutur kata dengan amat mempesona, terasa renyah di telinga. Lalu mengapa sebagian atau beberapa diantara kita atau bangsa kita sendiri merendahkan bahasa Indonesia?

Sering kita temukan bahasa dan tutur kata yang sulit ditemukan di dalam kamus Bahasa Indonesia. Entah itu prokem atau buat gaya-gayaan agar tidak disebut kuno dan  bernuansa udikan atau kampungan, bahasa Indonesia mulai terdegradasi eksistensinya oleh segelintir orang dari bangsanya sendiri.

Terlalu malukah mereka dengan bahasa Indonesia hingga memperolok-olokkan bahasanya sendiri? Sementara di tempat lain banyak orang asing belajar bahasa Indonesia dan menguasainya dengan benar. Bahkan di Swiss –sebuah negara terbaik dan bonafide di dunia–  telah memperlakukan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang diperhitungkan oleh dunia.

Tidak sampai di situ, penulis dan beberapa rekan yang berkunjung ke Mt. Titlis  pada  kesempatan  ini pun mendapat perlakuan yang amat luar biasa dengan disediakan bus milik The FCL (Football Coach) official coach of the Lucerne Football Team, sebuah klub porfesional papan atas di Swiss.

Bus milik klub terkenal tersebut pernah dipakai 3 hari oleh Lionel Messi beberapa waktu lalu saat berkunjung ke Swiss, menurut informasi dari sopirnya, Mark –yang sedikit dapat menguasai bahasa Indonesia– bis ekslusif itu dapat kami gunakan hanya untuk orang Indonesia.

Entah benar atau hiasan bibir saja penjelasan si sopir parlente itu, atau hanya sekadar menyenangkan saja. Terlepas apapun alasan dan latar belakangnya, ia telah memberi penghargaan kepada kita dengan menyampaikan kalimat seperti itu, bukan?

1354581362614931155Bukankah itu salah satu bukti kita sudah sangat diperhitungkan oleh bangsa lain terutama oleh Swiss? Lalu, mengapa masih ada sebagian diantara kita yang masih  merendahkan bahasanya sendiri dengan aneka bahasa gaul yang tak ada dalam kamus apapun dan hanya bisa mesubordinasikan posisi bahasa negaranya sendiri?

Tak tahulah, entah mengapa… hehehehehehehe…

Mungkin pembaca budiman dapat menjelaskannya.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s