Sistim Bayar Non Tunai, Antara Harapan dan Kenyataan di Indonesia

Sabtu,25 April 2015, Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Aceh di Jl. Cut Meutia No.15, Banda Aceh mulai dijejali peserta sosialisasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) kerjasama Kompasiana  dengan BI Aceh. Sejak pukul 09.00 WIB, pelataran parkir di gedung bersejarah peninggalan De Javashe Bank milik Hindia Belanda yang dibangun pada 2 Desember 1918 tersebut dijejali kendaraan peserta yang mencapai 130 orang termasuk kompasianer hampir 100 peserta.

Berkaitan dengan acara bertajuk “Kompasiana Nangkiring, Jelajah Non Tunai” di aula BI Aceh, berikut beberapa hal menarik yang menurut penulis perlu  sampaikan, yaitu :

  1. Acara tersebut mendapat perhatian serius pejabat, birokrat, Bankir, OJK, Akademisi dan pelaku usaha Banda Aceh dan bahkan dari luar kota Banda Aceh.
  2. Untuk pertama sekali menjadi ajang pertemuan Kompasianer Aceh dalam skala resmi dalam jumlah besar. Hampir 100-an kompasianer hadir dengan antusias yang pada akhirnya tercetus pembentukan Komunitas Kompasianer Aceh (KKA).
  3. Beberapa Kompasianer Aceh (termasuk penulis) baru pertama sekali dapat bertemu langsung dengan Pepih Nugraha, Iskandar Zulkarnaen dan Dikki dan lain-lain penuh akrab dan seperti melepas kerinduan pada saudaranya.
  4. Materi acara disiapkan dengan baik sekali. Suasana ruangan dengan penataan suara yang empuk, pendingin ruangan yang prima serta ukuran ruangan yang pas membuat peserta terasa agak leluasa dan betah di dalamnya.
  5. Acara pelengkap berupa Tarian Saman oleh salah satu sanggar seni dari Gayo memecahkan kekakuan dalam ruangan setelah pembukaan. Hidangan coffe break dan menu makan siang dengan cita rasa tinggi dari buffet dan prasmanan menyajikan aneka cemilan menghiasi Sabtu ceria di Bank Indonesia Kpw Aceh.
  6. Komedian lokal, Sukardi(?) meski tampil tunggal pada sesi Stand Up Comedy –sebelum berakhirnya acara- mampu  mengocok perut seluruh peserta membuat suasana rasanya jadi seperti di rumah sendiri.
  7. Konten materi  acara pengenalan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) dan pengenalan Lembaga Keuangan Digital (LKD) dibawakan dengan apik sekali oleh narasumber dari perwakilan BI Pusat, OJK Aceh dan Bankir BI dipandu oleh Iskandar Zulkarnen meramunya dengan santai, ringan namun tetap fokus ke inti ke dua sosialisasi program tersebut.

Sesungguhnya yang lebih menarik lagi adalah sosialisasi yang lebih tepat disebut dengan “Transfer Knowlidge” mengenai GNNT dan peranan Lembaga Keuangan Digital (LKD) dalam menyambut era Non Tunai yang ternyata telah digunakan secara massal dan intensif (masif) dalam sistim pembayaran di seluruh dunia.

GNNT telah dicanangkan secara nasional pada 14 Agustus 2014 lalu, namun gaungnya BELUM terlalu menyentuh hingga ke Masyarakat umum, mungkin ada semacam penolakan sekelompok masyarakat atau pelaku bisnis yang menantang dengan penyebaran issue kapitalis atau dengan stigma apriori yakni menghancurkan eksistensi bisnis sistim tunai atau menjaga kepentingan pelaku bisnis yang mempertahankan kultur pembayaran tradisional.

Itu sebabnya gerakan nasional yang telah diresmikan 6 bulan yang lalu belum mampu menyentuh warga kita seluruh Indonesia bahkan di Aceh sekalipun baru segelintir warga yang memahami lebih dahulu fakta dan manfaat pembayaran Non Tunai.

Dibandingkan dengan negara Asean lainnya, implementasi terhadap penggunaan instrumen pembayaran Nont Tunai dan Keuangan Digital ternyata belum mencapai 1% dari total bank people (nasabah yang memiliki rekening) di seluruh tanah air yang diperkirakan mencapai 177 juta orang seluruh Indonesia.

Mungkin ketinggian melihat posisi AS, Inggris, Brazil dan Swiss atau Hongkong dalam pemakaian Non Tunai. Lihat Singapore saja, hampir setengah penduduknya (50%) telah menggunakan instrumen Non Tunai dan Keuangan Digital dalam implementasi transaksi ekonomi dan keuangan mereka.

Sementara itu, Malaysia dan Thailand meski berada di bawah Singapore namun tingkat kesadaran warganya menggunakan Non Tunai dan Keuangan Digital dalam dalam setiap transaksi  telah melebihi tingkat kesadaran warga kita di tanah air yang kabarnya tidak mencapai 1% dari total Bank People.

Ironisnya, di beberapa sudut Afrika terdapat negara-negara berkembang tak penrah sepi dengan aneka konflik, mafia dan perang. Sebut saja Nigeria, Tanzania dan Kenya ternyata kesadaran warganya menggunakan instrumen non tunai terutama melalui HP lebih massif daripada kita yang hidup tenang dan cinta damai.

Menurut sebuah laporan, Kenya misalnya, pada 2013 saja 15 juta warganya menggunakan instrumen NonTunai melalui HP (provider based) telah berjalan dengan efektif sehingga masyarakat Kenya kini terbiasa menggunakan instrumen pembayaran Non Tunai dalam aneka transaksi keuangan digital. Artinya 32% dari 46 juta (populasi 2015 warga Kenya) telah selangkah lebih maju dalam menyikapi perubahan dan tuntutan zaman dalam sistem pembayaran masa kini. Sumber : http://www.totalpayments.org/2013

Literasi keuangan masyarakat Indonesia harus diakui masih lemah. Bayangkan, tidak sampai 1% yang menggunakan Non tunai dalam kegiatan ekonominya. Artinya sebagian besar warga kita masih senang berada pada zona nyaman alias “alergi” dalam menggunakan Non Tunai.

Masih lemahnya kesadaran warga kita dalam menggunakan pembayaran Non Tunai mungkin juga hal yang wajar. Beberapa benang merah yang membuat masyarakat kita masih berkutat pada zona nyamannya seperti itu, yaitu  :

  • Kebiasaan tidak suka dengan hal baru atau alergi dengan perubahan.
  • Berada pada zona nyaman adalah hal yang paling mudah daripada memilih sesuatu yang tidak mereka mengerti. “Sistem pembayaran Tunai  sudah biasa dan telah turun temurun digunakan para leluhur, aman tenteram daripada menggunakan sistim yang tidak jelas,” dalam pandangan awam.
  • Informasi menyesatkan dari segelintir orang yang tidak mengetahui suatu masalah tapi bergaya seperti mengetahui masalah berimplikasi pada masyarakat. Apriori menjadi tantangan hebat dalam aneka sosialisasi termasuk dalam kampanye alat pembayaran transaksi Non Tunai.
  • Sebagian kelompok masyarakat yang lebih kritis dari kelompok awam ternyata belum memperoleh informasi dan sosialiasi yang terpadu, sistematis dan kontinu tentang sosok pembayaran Non Tunai. Jelas hal ini belum menyentuh alam pikiran mereka sehingga belum berkeinginan beralih pada sistim pembayaran Non Tunai.

Penyikapan seperti di atas memang wajar, sama seperti alam pikiran beberapa diantara kita dahulu ketika terlintas sikap “menolak” saat hadirnya program Excel dalam aplikasi komputer, sedikit tidaknya pernah mengeluh. Kita lebih senang menggunakan program Lotus ketimbang Excel yang nyelimet. Kemudian saat Windows 8 menghadirkan menu start anyer dalam komputer  banyak sekali pengguna komputer merindukan model “start kalsik” pada versi terdahulu. Apa yang terjadi saat ini? Ternyata orang mulai sadar bahwa fiture dan fasilitas serta kemampuan aplikasi pada windows 8 atau 8.1 ternyata mampu menjembatani kebutuhan pengguna komputer di seluruh dunia.

Hal yang sama juga terjadi pada gerakan nasional Non Tunai. Saat ini masyarakat mungkin belum terbebaskan dari sejumlah rantai yang membelungu wawasan dan pengetahuan mereka. Bagaimana memutuskan belengu rantai yang selama ini telah melilit masyarakat kita pada zona nyaman yang lebih tertrik sistim pembayaran Tunai daripada Non Tunai.

Inilah tantangan dalam masyarakat kita yang harus dapat diatasi segera, bukan mengharapkan keajaiban masyarakat cepat atau lambat pasti akan tersadar dengan sendirinya.

Inilah salah satu tujuan acara sosialisasi GNNT tesebut. Kompasianer Aceh (terutama penulis sendiri) dan di beberapa kota lainnya telah mendapat transfer knowlidge tentang Non Tunai dan Keuangan Digital. Meski sekilas namun melalui paparan narasumber dan tanya jawab dengan audien sedikit tidaknya telah membantu mengenal lebih dalam sosok Non Tunai dalam transaksi abad modern di planet kita  ini.

Konsep pembayaran Non Tunai ternyata efisien, cepat, mudah dan aman. Ssitem pertahanan Non Tunai telah dirancang menghadirkan ke empat konsep pembayaran disebut di atas. Apalagi di sekitar kita telah ditembus oleh aneka provider seluler atau mobil phone sebagai salah satu faktor pendukung sistem Non Tunai. Teknologi komunikasi Near Field Communications (NFC) disekitar kita mampu menjembatani Dompet dengan Hand Phone (HP) menjadi sangat dekat akibat dampak kerjasama antara teknologi  dan seni yang apik

Sel Chip yang terdapat pada kartu Non Tunai mirip kartu ATM yang indah dan menarik telah dibuat demikian tinggi proteksinya. Tingkat keamanannya mampu melindungi konsumen layaknya menggunakan aneka kartu pembayaran dan transaksi lainnya.

Seni dan teknologi antara Dompet dan HP membuat isi fisik Dompet tak perlu setebal dahulu lagi yang bertujuan mengurangi jenis risiko pada umumnya (pembobolan, perampokan, copet, penggandaan data dan lain-lain).

Jujur harus diakui tidak akan ada satupun program yang mampu menjamin 100% aman dari aneka kejahatan. Akan tetapi secara teoritis sistim proteksi yang menyertai produk pembayaran non tunai telah memperhitungkan jenis risiko standard terhadap sebagaimana berlaku pada buku tabungan, ATM, Kartu Debet, Kartu Kredit serta sistem pembayaran elektronik (e-Money) lainnya.

Skema pembayaran digital yang ditawarkan ada dalam dua pilihan, menggunakan HP atau kartu Chip. Piihan tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat memilih sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Keduanya pilihan tersebut memenuhi prinsip pembayaran yang efisien, cepat, mudah dan aman.

Saat  ini, sejumlah Merchant telah menerima sistim pembayaran Non Tunai di seluruh tanah air. Bahkan pedagang batu akik dan warung kopi di Banda Aceh ternyata telah lebih duluan menggunakan pembayaran Non Tunai. Hal ini menandakan sebagaian warga kita literasi keuangannya telah lebih baik  akibat berjalannya proses transfer knowlidge literasi keuangan mereka tepat sasaran dan efektif.

Tantangan terberat pada sosialisasi sistim pembayaran Non Tunai sesungguhnya bukan pada kontra opini segelintir pelaku bisnis yang merasa terancam kepentingannya dari budaya pembayaran tunai. Yang paling berat adalah bagaimana informasi yang benar dapat menyentuh hingga ke akar rumput masayarakat kita agar memahami fakta dan manfaat Non Tunai dengan benar.

Jangan biarkan mereka yang salah menerima informasi atau senang pada zona nyamannya semakin tenggelam dalam sikap apriori mereka. Padahal planet kita saat ini telah menuntut manusia yang hidup diatasnya agar segera beralih ke Non Tunai karena lebih efisien, mudah, cepat dan aman. Di banyak belahan dunia di atas bumi kini sistem Non Tunai telah menjadi kebutuhan masa kini dan masa depan.

Kapan kita terbebas dari Non Tunai? Mungkin ada pembatasannya. Pemberian remeh temeh adalah pengecualian dan belum dapat menyentuh non tunai, misalnya pemberian uang pada anak kecil dan jajan anak di sekolah atau pemberian sedekah dan pemberian uang untuk pengemis dan lain-lain. (Jika pengemis pun ternyata menerima pemberian Non Tunai, apa kata dunia? hehhehehehe..)

Planet bumi abad ini telah menyiapkan sarana dan prasarana untuk bertransaksi melalui alat pembayaran Non Tunai. Marilah kita sikapi dan bantu sosialisasikan kepada seluruh warga kita.

Salam AGI

Artikel terkait dengan ini dapat dilihat di sini : http://www.kompasiana.com/abanggeutanyo/bersiaplah-sistim-bayar-non-tunai-berlaku-di-planet-bumi-kita_553c06cf6ea8342a5df39b18

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s