Strategi AS dan Rusia Tak Berpengaruh Pada Perdamaian Suriah

Analisa sejumlah pengamat tentang potensi ledakan Perang Dunia (PD) ke tiga berawal dari krisis Suriah kelihatannya akan sirna dan tidak akan pernah terjadi. Sebabnya tidak semata-mata akibat sejumlah negara berpengaruh di dunia memahami betul konsekwensi terhadap penderitaan ummat manusia dan perusakan ekosistim dan iklim global tapi karena adanya konsesus (kesepakatan) rahasia AS dan Rusia yang kurang signifikan pengaruhnya dalam mengakhiri krisis Suriah.

Meski diakui peranan kedua jangkar raksasa tersebut sedikit tidaknya -hingga saat ini- mampu mengstabilkan dan mereduksi menjalarnya perang Suriah menjadi perang lebih besar menjurus PD 3. dan sejumlah  langkah bersama telah dilakukan untuk mengatasi dan mengeliminir risiko yang tidak diharapkan tersebut, faktanya ke duanya ternyata tidak terlalu berperan sebagai pencetus damai di negeri tersebut.

Secara diam-diam, ke dua negara berpengaruh tersebut telah melakukan serangkaian pertemuan rahasia menyangkut konflik Suriah. Beberapa indikasi pertemuan rahasia AS dan Rusia yang terkait dengan pengendalian dampak perang Suriah menjadi PD adalah sebagai berikut :

  1. Pada 15 Maret 2015, Menlu AS John Kerry menyatakan pada akhirnya akan bekerjasama dengan pemerintah Suriah mengakhiri konflik Suriah. AS dan sejumlah negara lain akan memaksa dan menekan Suriah dan rezim Assad mematuhi perjanjian Jenewa-1.  Menurut Kerry, negosiasi tersebut terpaksa dilakukan dengan mengacu pada hasil pertemuan Geneva 1.
  2. Di sela-sela acara pertemuan delegasi AS dan Rusia sesunguhnya telah terjadi pertemuan “di balik layar” (secara rahasia) saat KTT Group of 20 (G-20) berlangusng di St. Petersburg, Rusia pada 5 Desember 2013 lalu. Delegasi AS dan delegasi Rusia terlibat dalam sejumlah negosiasi dalam tawar menawar, antara lain persetujuan penghancuran 1000 ton senjata kimia Suriah dengan konpensasi jaminan tidak ada serangan udara sekutu untuk rezim Assad, selain itu pembatalan pengiriman bantuan senjata untuk pemberontak Suriah.
  3. Jauh sebelumnya pada 23 Februari 2013, pertemuan rahasia antara John Kerry dengan Sergei Lavorov  di Belin, keduanya sepakat mempertemukan pihak yang bertikai dalam mekanisme atau skenario yang ditetapkan proposal Moskow. Dua mekanisme rencana (skenario) pertemuan antara perwakilan kubu pemberontak Suriah diwakili NCC dengan perwakilan rezim Suriah yang dihadiri oleh beberapa menteri dan penasihat militer Suriah disetujui AS. Pada akhirnya, rencana pertemuan tesebut telah terlaksana pada 11 Maret 2013 di Moskow.
  4. Pertemuan Genewa -1 antara kubu Assad dan NCC yang juga disetujui AS dan Rusia dan menghasilkan beberapa syarat yang diajukan kubu pemberontak juga tidak membuahkan hasil yang diharapkan sampai saat ini.

Atas beberapa pertemuan di atas, apa yang telihat kini dengan kasat mata tentang sikap AS (sekutu) terutama sikap pers barat dalam menghadapi persoalan di Suriah adalah sebagai berikut :

  • Tidak ada serangan udara AS (sekutu) menyasar ke target-target penting rezim Assad, padahal beberapa bulan lalu sekutu pimpinan AS melaksanakan serangan udara ke berbagai lokasi dan posisi ISIS di sebagian wilayah Suriah.
  • Tidak ada pernyataan AS dan PBB menetapkan kejahatan kriminal pada rezim Assad atas peritiwa serangan senjata kimia yang menewaskan hampir 1400 warga Suriah pada 22 Agustus 2013. Meski  komisi beranggotakan empat orang pimpinan diplomat Brasil Paolo Pinheiro ini telah menyusun empat daftar orang dan kelompok yang diyakini bersalah atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan Suriah, namun hingga kini masih merahasiakannya. Padahal tim tersebut telah  selesai bekerja pada Nopember 2013 lalu. Sampai saat ini  belum ada pernyataan pengumuman resmi PBB tentang hal tersebut.
  • Tidak ada persetujuan senat AS untuk memberi bantuan finansial dan persenjataan terhadap pemberontak Suriah. Pers Amerika kerap melaporkan penolakan parlemen AS terhadap rencana aksi Amerika di Suriah, Hal yang sama juga diperlihatkan pers Inggris, intensif meberitakan penolakan warga Inggris keterlibatan negaranya dalam konflik Suriah.
  • Tidak ada kelanjutan tentang bantuan pelatihan dan persenjataan terhadap pemberontak (FSA) Suriah yang digadang-gadang akan dilatih dengan menyiapkan FSA sebagai pasukan tempur yang mampu mengalahkan rezim Suriah.
  • Tidak ada penerapan sistim zona larangan terbang di atas  Suriah atau sektiar Damaskus sebagaimana yang diterapkan sekutu di sekitar Tripoli pada proses penghancuran kekuatan vital dan mengeliminir pergerakan AU Libya rezim Khadafi 2011 lalu.
  • Tidak ada tekanan khusus terhadap Iran yang terang benderang membantu Suriah dalam segala hal. Persetujuan pembatasan pengayaan uranium di sejumlah reaktor nuklir Iran kelihatannya seabgai salah satu bentuk tawar menawar dengan barat (sekutu)  untuk keleluasaan Iran terlibat di Suriah dan mempengaruhi kawasan Timur Tengah.
  • Media barat (cetak dan eletronik) kini ramai-ramai memberitakan perang Suriah dengan kolom khusus (katagori atau rubrik) Suriah. Media barat kini intensif memberitakan gambar-gambar dan video dari sisi rezim Suriah. Beberapa portal berita seperti Associated Press, CNN, Huffingpost, The Guardian, US News, Daily Mail, nytimes dan lain-lain kini kerap menampilkan video perkembangan rezim Assad. Bahkan berulang kali aneka media mewawancarai Bashar Al-Assad tentang kesediaannya membuka dialog dengan AS dam posisi persahabatan (bukan ancaman atau tekanan) seperti yang dirilis di  Di Sini oleh Huffingpost  pada 17 Maret 2015 lalu, sedikit tidaknya telah mengubah citra posisi Assad lebih membaik dari sebelumnya.

Tentu saja serangkaian pertemuan rahasia dan sikap positif  media barat terahadap rezim Assad di atas tidak serta merta menjadikan aneka skenario dan tawar menawar dalam issue Suriah berjalan dengan mulus. Seiring dengan berjalannya waktu, yang terlihat oleh kita sekarang faktanya adalah ketegangan Rusia dan AS makin kental. Selain itu, kenyataannya konflik Suriah semakin krodit dan berdarah-darah.

Pertemuan antara kepala negara AS dan Rusia berikutnya yang terlihat adalah kekakuan dan raut wajah dingin saat pertemua khusus antara keduanya. Selain itu pergolakan di Suriah kini semakin membahana, mengoyak sisa kedamaian yang semula masih terjadi di beberapa sudut wilayah Suriah.

Ketegangan kedua pimpinan jangkar raksasa tersebut sesungguhnya diakibatkan oleh agresi Rusia terhadap Crimea di wilayah Ukraina. Dukungan terang-terangan Rusia terhadap pemberontak Republik Rakyat Donestsk untuk memisahkan diri dari Ukraina lebih beralasan memburuknya hubungan Rusia dan barat ketimbang masalah Suriah.

Selain itu, kebangkitan ultra nasionalis Rusia untuk mewujudkan impiannya sebagai The Great Russia dengan pamer kekuatan di sekitar wilayah aliansi NATO dianggap AS dan sekutunya sebagai upaya memicu kembali bangkitnya era perang dingin dengan tema “perlombaan mempengaruhi dunia.” Ini juga menjadi sebab memburuknya hubungan Rusia dan barat ketimbang persoalan kererkaitannya di Suriah.

Meningkatnya eskalasi perang Suriah saat ini lebih disebabkan oleh persaingan pengaruh antara kekuatan dukungan Iran dan Arab Saudi (negara Arab). Perang yang besifat seperti itu adalah persoalan klasik dan telah turun temurun dari masa ke masa.

Atas dasar penjelasan di atas, kelihatannya Rusia dan AS (dan sekutunya) memilih konflik Suriah berkahir dengan sendirinya saat semua pihak yang terlibat di dalamnya kehabisan tenaga, energi bahkan inspirasi untuk saling melumat.

Rusia sebagai pihak yang membentengi pertahanan rezim Suriah dan AS pihak yang membantu aliansi pemberontak (diluar ISIS) kelihatannya menyadari betul bahwa mereka tak ingin membuang energi pada konflik Suriah, apalagi berniat menjadikannya sebagai cikal bakal PD-3 sebagaimana yang dianalisis sejumlah pengamat selama ini.

Di sisi lain, peranan Iran dan Arab Saudi dan sekutu pan-Arabia juga tidak akan memperoleh tujuan sempurna selain menghabiskan energi semata. Memenangi rebutan (perang) pengaruh di Suriah tidak mengubah keadaan, sebab dua kekuatan berpengaruh tesebut tetap akan muncul di Suriah yang dibawa kembali oleh jutaan penduduk Suriah yang kini terlantar dan terkurung dari kebebasannya. Saat damai itu tiba nanti, kebebasan itu akan terulang kembali, termasuk kebebasan dalam mengembangkan pengaruh, memilih perbedaan, mashab, aliran dan agama.

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s