Lelah Jadi Sopir Angkot Jadi Pengusaha Restoran di London

13539694231563675640
Ketika tiba di London, Inggris tahun1986 dana yang tersisa di saku Daus hanya Rp.10.000 (sepuluh ribu rupiah) bantuan keluarganya di Bekasi. Saat itu Bapak Firdaus Ahmad alias Daus ke Inggris hanya sebagai turis sehingga hanya mempunyai visa sebagai turis.saja.

Akan tetapi pada saat itu kebijakan imigrasi Inggris masih sedikit longgar. Berkat bantuan seseorang di KBRI London visa turis Daus itu dibantu urusannya menjadi visa pelajar.

Dua puluh enam tahun kemudian –saat penlis bertemu Daus dua tahun lalu di rumah makan miliknya yang disewa di 11 Dean Street, Soho, London- Daus bukanlah Daus yang dahulu ketika harus melalui hari-harinya dengan sangat getir di ruas jalan antara Bekasi dan Jakarta saat menjadi kernet dan sopir angkot jurusan Bekasi-Pulo Gadung- Kampung Melayu.

Daus sekarang telah mempunyai rumah makan mewah di daerah elite di sekitar Oxford Street bagian timur, salah satu daerah paling  komersial di kota London. Di rumah makan yang sarat dikunjungi wisatawan Indonesia dan pengunjung lokal itu, Daus mempekerjakan 8 (delapan) orang pekerja termasuk Daus sendiri sebagai pemilik sekaligus terlibat mulai dapur, manajemen hingga permodalan.

Dari 8 pekerja tersebut setengahnya adalah orang Indonesia sehingga suasana di restoran yang tak sempat dicatat namanya di alamat tersebut di atas suasananya memang benar-benar mirip seperti kita berada di warung makan atau restoran asli Indonesia.

Menu makanan dan minuman disediakan berkhas Indonesia. Disain interiornya  diilhami suasana Indonesia banget (The Trully Indonesia). Di seluruh ruangan dihiasi oleh ornamen Jawa dan Bali. Lagu pengiring makan malam kami pun diiringi oleh musik kecapi Sunda sehingga suasananya bagaikan di negeri sendiri.

Daus yang berisiteri orang Indonesia asli, kini mempunyai 3 orang putra dan putri. Anak tertua (24) kini sedang kuliah di salah satu universitas di London. Anak ke dua (19) dan ke tiga (14) masih sekolah di SMA dan SD.

Sukses mantan kernet angkot itu tentu bukan saja itu. Daus juga mempunyai bisnis penginapan murah meriah di kota London yang diberi nama “Wisma Indonesia.” Penginapan yang dibarengi dengan jasa antar jemput ke bandara itu telah membuat orang Indonesia yang berkunjung dan meninggalkan London menjadikannya sebagai sebuah “nilai tambah” yang tak terlupakan.

Kamar dengan sewa yang amat terjangkau dan penataan wisma yang amat profesional itu menjadikan Daus amat terkenal di mata orang Indonesia dan seluruh karyawan KBRI di London. Fasilitas wisma yang di disain oleh “Geni Interior Disign” itu dilengkapi peralatan kamar dan dapur yang apik. Masih lagi ditambah dengan free WiFi serta tempat parkir yang aman dan nyaman itu membuat tarif sewa mess per malam sekitar £16.00 – £20.00 itu memang terasa amat murah. Lengkapnya lihat di : Sini

Ketika ditanyakan padanya, berapa orang Indonesia yang berkunjung ke restoran dan wismanya setiap tahun? Sambil tersenyum ia menjawab “Tak bisa menyebut angkanya karena sudah sangat sering dan teramat sering.”

Sebuah ekspresi implisit yang memberi pesan kepada kita bahwa omzet dan bisnisnya tak pernah sepi dari pengunjung, terutama pengunjung Indonesia.

Menurut informasi, rata-rara 30-an orang Indonesia yang menginap tetap di wismanya. Sementara itu, ada sekitar 15 ribu orang Indonesia yang berada di London dan sekitarnya yang senantiasa berkunjung ke restoran  Daus untuk mengobati rindu makanan di kampung halaman.

Tinggi hatikah Daus dengan hasil yang dicapainya kini? Menurut salah satu anak buahnya, Daus sekarang adalah Daus yang dahulu di kenalnya saat kecil. Ia tetap ramah, supel, rajin dan memang pekerja keras dan cerdas. Keakraban dan kehangatan yang diperlihatkan Daus kepada setiap orang bukanlah basa-basi belaka, semua itu memang bakat dan karakternya, dia adalah sebagai sosok yang ramah dan pekerja keras seperti dahulu.

Ketika ditanyakan kepada Daus apa resep atas semua yang diraihnya. Jawabnya sederhana saja. “Gagal itu hal yang biasa asal mau dan mampu bekerja lebih keras dan cerdas lagi. Boleh saja menggantung harapan atau cita-cita setinggi langit, akan tetapi jangan meletakkan harapan yang muluk-muluk. Lakukan saja tahap demi tahap tentang apapun yang harus dikerjakan.”

Apakah ada sesuatu hal yang penting kita petik dari pengalaman seorang Daus..? Jika ada marilah kita coba mengadopsinya.

Meskipun penulis tidak dapat mengambil gambar suasana di dalam restoran dan wisma milik Daus karena kamera tertinggal di dalam kendaraan yang diparkir agak jauh dari lokasi restoran Daus, paling tidak pengalaman Daus yang di tulis pada halaman ini akan  memberi warna menarik pada cakrawala berpikir kita bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin asal segala sesuatu itu dilaksanakan dengan cerdas dan bertahap.

Kisah Daus-Daus lainnya tentu ada di belahan sudut negara lainnya di dunia ini. Siapapun dia, yang jelas kisah mirip Daus ini telah memberi inspirasi kepada kita tentang usaha dan doa serta ketekunan harus senantiasa menyertai dalam cita-cita kita. Setidaknya peristiwa seperti ini dapat menjadi pembanding buat kita yang mungkin sedang ketar ketir mewujudkan impian dan cita-cita..

Salam AGI

Iklan

4 pemikiran pada “Lelah Jadi Sopir Angkot Jadi Pengusaha Restoran di London

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s