PLN, Nasib Mu Tak Seterang Energi Mu

Sejak Michael Faraday memperkenalkan listrik pertama sekali pada manusia di planet kita seratus tahun lalu,  dunia mulai mengenal pemakaian listik secara massal meski dalam skala dan skop masih sederhana.

Hampir 40 tahun setelah listik dikenal di Eropa dan Amerika, barulah warga di negara kita mengenal nyata energi listik pada abad ke 19. Tepatnya 1909 pertama sekali negara menggunakan listrik yang dipasok oleh perusahaan listrik swasta Hindia Belanda (NIEM dan ANIEM) 1909 – 1942 di Surabaya.

Pada 27 Oktober 1947 Presiden soekarno membentuk jawatan khusus untuk menangani listik, yaitu Jawatan Listrik dan Gas, dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik saat itu berawal pada 157,5 MW yang sekarang kita kenal dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Sejak bediri secara resmi hampir 7o tahun silam, mari kita lihat salah satu pilar penting penyokong pembangunan Indonesia. Sejauh apa PLN telah mengangkat Indonesia dari masa “kegelapan” menjadi masa “terang benderang.”

Sekadar gambaran umum tentang profil dasar PLN zaman Oerde Baru pada serangkaian Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) masa rezim Soeharto hingga masa Presiden SBY, lihatlah tabel jumlah pelanggan PLN berikut ini :

14283579811050389922

Pada akhir Repelita I, 1974, jumlah pelanggan PLN hanya 1 juta pelanggan. pertumbuhannya sangat pesat, 37 tahun kemudian pelanggan PLN menjadi 45 juta pelanggan pada akhir 2011 dengan pertumbuhan 4400%. Kini, jumlah pelanggan PLN diperkirakan di atas 60 juta pelanggan karena pada awal 2014  lalu telah mencapai 57,1 juta pada awal 2014.

Sejak pertama hadir secara resmi hampir 70 tahun lalu, apakah PLN telah menjadi BUMN yang matang, mandiri dan dewasa alias BUMN yang sukses? Jika standarisasi tolok ukur sukses berupa Kondisi Keuangan , ternyata ternyata kondisi keuangan BUMN paling krusial satu ini telah jatuh bangun dihantam oleh persoalannya sendiri berupa benang kusut pada posisi yang sangat misterius.

Pada 2003 terdapat sepuluh BUMN yang mendominasi total kerugian  BUMN. Salah satunya adalah PLN dengan kerugian mencapai Rp. 3,5 triliun atau berkontribusi sebesar 58% dari keselurhan kerugian BUMN saat itu.

Pada 2006 hingga 2011, kinerja keuangan PLN dapat dilihat pada tabel yang dikutip dari http://www.pln.co.id.pdf sebagai berikut :

14283565861599389865

Pada 2006, PLN merugi sebesar 501 miliar rupiah. Lalu secara perlahan beberapa tahun setelah itu mengalami keuntungan meski tidak signifikan.

Secara kualitatif, keuntungan terbaiknyadicapai pada 2011 sebesar 11,46 triliun.

Pertumbuhan keuntungan tersebut jika dikatikan dengan pertumbuhan beban utang luar negeri (BPP PLN) tidaklah menarik karena dengan  TDL  dan BPP yang juga meningkat pencapaian laba tersebut teramat kecil, rata-ratanya hanya 2,7% hingga 7,5% saja.

Pada 2012, penyakit PLN kambuh lagi. Pada tahun 2012 labanya hanya  1 trliliun, tak sebanding dengan aneka dengan terobosan yang menggunakan nama program hebat bin menawan jor-jorannya.

Belum selesai penyakit kronisnya, pada 2013 PLN kembali masuk dalam masa kritis. Kerugian PLN masa Dahlan Iskan menjadi penguasa PLN 2013 mencapai rekor tertinggi, nilainya :  30 triliun rupiah.

Pada 2014, dengan menyandang aneka nama dan istilah program dan investasi yang menawan, laba PLN pada dapat membantu nafas PLN yang tersengal-sengal menjadi sedikit normal. Kali ini dengan segenap upaya, laba bersih dicapai Rp 13,7 triliun dari total penjualan 294 triliun rupiah atau memperoleh profit margin sebesar 14,7%.

Tapi, pada 2015 dari Januari hingga Mei 2015, kabarnya PLN masih merugi Rp 1,3 trliun dalam 5 bulan tahun bejalan terutama akibat fluktuasi runtuhnya nilai rupiah terhadap dollar AS dan Yen yang menjadi barometer pembayaran utang atas sejumlah investasi dan pembiayaan PLN.

Apakah akibat posisi ini PLN lalu diinfus kembali melalui deregulasi tarif dasar listrik melalui permen ESDM yang baru bertahan seumur jagung pada Nopember 2014 lalu?

Kenaikan TDL yang baru  akan berlaku pada  1 Mei 2015 nanti berdasarkan Pemen ESDM nomor 9/2015 untuk 10 golongan tarif, termasuk tarif untuk golongan rumah tangga 1300 VA dan 2200t VA  yang tertunda kenaikannya pada Permen sebelumnya nomor 31.

Asset besar, keuntungan kecil adalah stigma yang melekat erat dari masa ke masa pada BUMN ini. Belum lagi sistim penerapan tarif yang tidak transparan terutama melalui tarif pulsa yang sering membingungkan pelanggan akibat potongan yang otoriter. Bahkan sistem meteran pulsa pun kabarnya dapat menyedot saldo pulsa pelanggan. Entah benar atau tidak tudingan tersebut atau hanya kabar burung belaka, yang jelas stigma PLN kurang profesional telah melakat pada BUMN ini dari masa ke masa.

Berbagai perbaikan manjemen  dan sistim operasional serta semoboyan yang terang benderang selama ini ternyata belum dapat mengobati luka akut dan menahun BUMN yang sangat strategis ini.  Membingungkan memang sampai beberapa dirutnya pernah kebingungan sendiri dibuatnya.

Sebut saja mantan Dirut PLN Nur Pamudji terpaksa harus mengagumi masa keemasan PLN pada masa lalu melalui statemennya agar PLN ingin kembali lagi ke sistim zaman Soeharto karena dinilai sistem tersebut tidak menimbulkan gejolak dalam masayarakat. Tentu bukan sosok Soeharto yang tegas menjadi tolok ukurnya melainkan kemampuan pemerintah saat itu mampu mengeliminir berbagai risiko yang berpotensi pada tekanan ekonomi rakyat menjadi acuannya.

Menurut Pamudji, pada masa itu PLN menganut sistem floating tariff (tarif mengambang) pada beberapa dimensi yang mempengaruhinya (nilai rupiah, inflasi dan harga BBM). Biaya Pokok Produksi (BPP) PLN masa itu relatif stabil meski tetap berfluktuasi. Tak heran

Entah karena itu Nur Pamudji  akhirnya dicopot atau mengundurkan diri. Kenyataannya sekarang teori tersebut mulai diterapkan pada tarif listrik yang akan berlaku pada 1 Mei 2015 untuk golongan non subsidi.

Dahlan Iskan, mantan dirut PLN yang kabarnya mencatat rekor tertinggi kerugian PLN saat ia memimpin (30 trliliun) ikut kesetrum. Beliau memberi perbandingan performa PLN tak kalah bertegangan tinggi. Katanya, “PLN sudah merugi sejak jaman Majapahit” yang ditulis di dalam blog pribadinya.

Ia menjelaskan, harusnya PLN merugi 100 trliliun pada masa itu, namun dengan berbagai terobosannya mampu ditekan menjadi 30 triliun. http://blogdahlaniskan.blogspot.com

Meski beberapa kali ternyata untung, tapi PLN terus dianggap merugi, padahal PLN dikelola oleh pegawai mencapai 33464 pada 2011 (tidak termasuk pegawai di kantor pusat, jasa dan proyek). Kini pegawai PLN diperkirakan mencapai 50 ribu orang di seluruh Indonesia. Mungkinkah jumlah pegawai tesebut sangat minim  sehingga tidak optimal menjembatani pelayanan listrik untuk rakyatnya sendiri?

Stigma PLN bermodal besar untung kecil tidak hisapan jempol. Investasi menggelegar PLN tidak dibarengi dengan mutu pelayanan PLN yang kini lebih sering mati hidup kadang sehari 3 kali hidup mati. PLN berkonsentrasi pada produksi energi dan pembangkit serta infrastrukturnya tanpa memperhatikan kualitas layanan dan transparansi sistem pengendalian biaya.

Listrik padam silih berganti kadang sehari mencapai 3 kali, rusaknya peralatan eletronik pelanggan serta carut marutnya lintanan kabel listrik bersewileran di atap rumah dan jalan-jalan dan sistem pemotongan pulsa prabayar menjadi topik sehari-hari yang sudah bosan dibicarakan oleh pelanggan selain pasrah setiap akan mengisi pulsa.

Jika dikaitkan dengan kisah perjalaan dalam performa data dan fakta di atas kelihatannya BUMN yang memiliki asset raksasa ini BELUM bekerja secara prfesional. Asset yang besar dan wewenang monopoli penjualan listrik kepada rakyat belum mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Di manakah simpul misterisu PLN itu? Mungkin kondisi apapun tenang kualitas layanan PLN tidak mempengaruhi sejumlah pelanggan yang berkantong tebal, tapi apakah seluruh pelanggan PLN itu berkantong tebal? Padahal hanya PLN yang diberi mandat oleh pemerintah untuk menjual TDL kepada rakyat Indonesia.

Apa jadinya jika suatu saat nanti rakyat atau pelanggan PLN sendiri menemukan solusi bagaimana tidak tergantung lagi pada PLN dengan menggunakan teknologi baru semacam sel surya yang mampu memberikan energi gratis sebesar 2200 VA dan menyimpannya dalam sistem penyimpan energi layaknya baterai?

Apakah nantinya malah gengster di PLN yang minta sendiri membeli temuan tersebut lalu dikelola dengan cara-cara misterius seperti model dan gaya PLN yang sudah-sudah? Temuan BPK pada 2012 yang juga masih misterius saat ini adalah adanya temuan mafia dalam pengelolaan PLN yang merugikan negara sebesar 37,59 triliun rupiah.

Selain itu, apa jadinya jika pihak swasta asing mendapat hak melayani listrik untuk rakyat indonesia seperti hak beberapa perusahaan asing yang boleh menjual bbm di SPBU sejumlah kota di tanah air? Apakah nantinya PLN akan menjadi bongkahan besi-besi tua yang berkarat, atau bikin slogan anti listrik swasta karena hegemoninya dalam monopoli penjualan listrik telah terancam.

Semoga pertanyaan di atas tidak menjadi kenyataan. Kita ingin melihat PLN benar-benar tampil profesional, tak salah mseski harus tampil dengan gaya dan style orde baru seperti yang disampaikan mantan diriutnya Nur Pamudji.

Tapi mengakali tarif yang berasumsi pada kondisi kurs rupiah, inflasi dan harga bbm jangan hanya musiman semata. Jika tiba saatnya bbm turun atau rupiah stabil bahkan pertumbuhan ekonomi membaik malah PLN mencari celah baru untuk menutupi penyakit kronisnya. Misalnya, pulsa pelanggan malahan ikut lenyap tiba-tiba secara misterius, hehehehe.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s