Buah Simalakama Brunei di Kepulauan Spratly

brunai dkk klaim spratlySituasi di kepualauan Spratly memanas kembali tak habis-habisnya. Kini, Filipna melayangkan protes paling kerasnya tahun 2015 ini atas arogansi China di kepulauan Spratly.

Sama seperti Filipina, Vietnam dua tahun lalu membara akibat demonstrasi anti China merebak seluruh Vietnam Vietnam -dalam konstelasi pertikaian negara China (RRC) serta 4 negara lainnya- kini RRC membuat panas situasi di negara yang berkepntingan pada kawasan tersebut.

Hal ini ikut memancing perhatian kita sejenak untuk melihat kembali ke laut Cina Selatan, tempat bersemayamnya bara api “tahunan” pertikaian yang berpotensi timbulnya peperangan antara RRC dengan tetangganya.

Tercatat dalam sejarah pertikaian soal Spratly hampir seluruh negara yang terlibat pernah terjadi pertikaian, kecuali Brunai Darussalam. Beberapa catatan penting tersebut adalah sebagai berikut :

RRC vs Vietnam tahun 1974. RRC vs Vietnam tahun 1988. RRC vs Vietnam tahun 1992 RRC vs Filipina tahun 1995 Taiwan vs Vietnam tahun 1995. RRC vs Filipina tahun 1996. RRC vs Filipina tahun 1997. Filipina vs Vietnam 1998. RRC vs Filipina tahun 1999. Vietnam vs Filipina tahun 1999 Malaysia vs Filipina tahun 1999.

Di antara Enam negara yang bersitegang memperebutkan kepulauan Spratly dan Paracel di perairan tersebut negara manakah yang paling berpotensi menimbulkan pertikaian? Jawabannya adalah semua berpotensi bertikai, akan tetapi ada yang mampu menahan diri, ada yang mementingkan diri sendiri dan ada yang merasa tahu diri.

Negara yang mampu menahan diri hingga saat ini adalah, Malaysia dan Filipina. Mengapa mereka menahan diri, tentu berkaitan dengan kebijakan politik luar negerinya serta skala prioritas pemerintahnya yang lebih menduluankan pada persoalan menigkatkan pertumbuhan ekonomi juga mengedepankan pola diplomatis di dalam percaturan global.

Ke dua negara ini bukan tidak mampu menarik perhatian AS dan Inggris jika terlibat perang di sana, akan tetapi sebagaimana disebutkan di atas, ke dua negara ini lebih menggunakan cara-cara diplomatis dalam percaturan politik luar negerinya ditingkat regional maupun global.

Negara yang termasuk mengutamakan kepentingan sendiri adalah RRC dan Vietnam. Ke dua negara ini malah pernah terlibat perang sebanyak 3 (tiga) kali yakni saat RRC mengambil alih penguasaan kepulauan Parcel dari kepemilikan Vietnam (tahun 1994) hingga terakhir tahun 1992.

Dalam konfrontasi langsung dengan RRC, Vietnam tiga kali menderita kekalahan telak dari RRC. Ibarat permainan sepakbola, Vietnam kalah 3-0 dari RRC. Inilah yang menyebabkan rakyat Vietnam saat ini sedang bangkit rasa nasionalismenya seolah ingin segera melumat RRC dengan cara apapun.

Negara yang tahu diri adalah, Brunei Darussalam dan Taiwan. Ke dua negara ini memang unik, karena meskipun mampu memainkan peranan politiknya tapi lebih memilih sikap low profil saja dalam menyikapi arogansi RRC di sekitar kepulauan Paracel dan Spratly.

Taiwan, meskipun tergolong hebat dalam kepemilikan sistem pertahanan dan persenjataannya lebih memilih diam seribu bahasa. Bagi mereka “diam” atas arogansi dan determinasi RRC di perairan tersebut adalah lebih baik ketimbang memancing terbangunnya Singa lapar yang sedang tertidur.

Taiwan memang pernah terlibat pertikaian di perairan ini, yakni tahun 1995, tapi bukan dengan RRC, melainkan dengan Vietnam. Saat itu terjadi tembakan arteleri dari kapal Taiwan dan Vietnam beberapa saat saja dan tidak sempat menghebohkan dunia.

Bagi Taiwan sikap “tau diri” ini bukan berarti mereka lemah dalam menghadapi tekanan RRC dan negara lainnya, melainkan memberi pesan diplomatis kepada RRC bahwa tidak ikut nimbrungnya Taiwan di sana -salah satunya- bermuatan politis agar posisi Taiwan -meski tidak diakui oleh RRC sebagai negara merdeka, red- tidak mengalami ancaman berupa Psy War oleh RRC. Tebaran perang urat syaraf RRC terhadap Taiwan sedikit tidaknya telah membuat rakyat, pemerintah dan negara Taiwan selalu dirundung gelisah. Mereka selalu kuatir jika sewaktu-waktu RRC menyerang Taiwan secara mendadak.

Brunai Darussalam Tau Diri

Satu negara lainnya yang ‘tau diri’ adalah Brunei Darussalam. Negara yang menganut azas Monarki Absolut ini adalah salah satu negara yang paling kaya di dunia (berdasarkan Product Domestic Bruto dan Purchasing Power Parity). Negara ini menjadi negara urutan nomor 5 dunia tertinggi dalam hal income per kapita terbaik di dunia.

Berdasarkan kajian IMF tahun 2010, menggunakan pendekatan HDI (Human Development Index), negara ini menempati posisi ke 5 (setelah urutan pertama – ke lima : Bosnia; Qatar; Luxembourg; Singapore dan Norwgia).

Sedangkan berdasarkan kajian CIA Worldfact Book tahun 2010, Brunei menempati urutan ke 7 dunia berdasarkan metode dan alat ukur yang sedikit berbeda dengan pola pendekatan IMF.

Kembali ke masalah Brunei yang ‘tahu diri’ dalam eksalasi di perairan laut Cina Selatan yang sedang hangat-hangatnya saat ini.

Mengapa Brunei memilih bersikap ‘tahu diri’ ketimbang ikut memperkeruh suasana di antara raksasa-raksasa yang mulai gelisah? Apakah Brunei hanya pasarah saja, ataukah Brunei takut dan kuatir jika terlibat perang yang tidak seimbang jika terlibat dalam eskalasi tersebut?

Inilah rahasia yang perlu diketahui mengapa Brunei memilih ‘tahu diri’ tersebut. Rahasianya adalah, Brunei tidak memiliki angkatan perang yang memadai. Meskipun Brunei modern, mampu membeli perlengkapan perang canggih dan sanggup menyumbang kapal perang untuk negara tetangganya (termasuk untuk Indonesia 2 unit pada Maret lalu-red) tapi Brunei tidak memiliki jumlah personil memadai untuk ikut terlibat pada bidang yang tidak terlalu penting secara langsung. Maklum saja, jumlah penduduk Brunei Darussalam saat ini tidak melebihi 500 ribu jiwa. (sumber : http://www.detikfood.com)

Jumlah penduduk Brunei Darussalam saat ini sekitar 430.000 jiwa, hampir sepertiganya bermukim di dalam Bandar Seri Begawan. Brunei Darussalam termasuk sebagai negara maju, memiliki nilai HDI (Human Development Index).

Brunei memainkan peranan dibalik layar dalam menjembatani pertikaian antara Vietnam dan ‘teman-teman’ lainnya dalam melawan hegemoni RRC atas wilayah tersebut.

Brunei lebih baik mempertahankan status quo atas kepemilikan beberapa pulau di perairan tersebut. Dengan memainkan peranan di balik layar ini, Brunei berharap negara lainnya berteriak sekencang-kencangnya agar menjadi agenda sidang PBB atau menarik perhatian Mahkamah Internasional untuk melakukan perhitungan dan pengkajian yang matang dengan berbagai metode, misalnya berdasarkan ZEE, UNCLOS maupun berdasarkan metode batas landas kontinen.

Bagi Brunei, ketiga pola pendekatan batas dan perairan negera itu justru akan sangat menguntungkan mereka karena akan memberi peluang kepemilikan perairan tersebut tanpa harus terlibat peperangan atau pertempuran yang tidak seimbang bahkan mungkin saja tidak mereka inginkan.

Brunei dalam konteks bermain di balik layar ini hanya mengirim pesan moral dan dukungan politik serta dukungan finansialnya bagi negara sahabat yang ingin menyuarakan soal dominasi RRC di kepulauan Spratly sehingga bisa mencuat dalam forum dunia. Ironisnya malah RRC tidak ingin persoalan Spratly ini masuk dalam agenda sidang umum PBB apalagi masuk dalam agenda sidang Mahkamah Internasional.

Demikianlah Brunei yang terlihat kecil itu tetapi memiliki strategi hebat dalam menuntut “haknya’ diantara gajah-gajah yang bertikai. Sambil menantikan dibukanya sidang di forum resmi dunia (PBB) tentang Spratly, Brunei saat ini hanya mampu “kirim salam atau titip pesan’ kepada rekannya yang mau dan mampu menyuarakan aspirasi mereka secara tetutup.

Paling tidak Brunei wait and See dalam pertikaian gajah-gajah yang mulai gelisah memperebutkan kepulauan Spratly. Mungkin saja Brunei “kirim salam’ saja sambil menyampaikan pesan khusus dan sangat rahasia. Tapi bagi kita memang itulah yang terbaik bagi Brunei.

Meskipun kelihatannya kecil, tapi jangan kira Brunei Darussalam akan berdiam diri. Meski secara tertutup Brunai pasti telah memainkan peranan besar melalui pendekatan diplomatisnya melalui upaya menjaga hubungan bilateral dan multi regional dengan sejumlah negara yang terlibat pada kawasan Spratley.

Dengan kata lain, Brunai tahu diri dalam hal ini, minimal sampai dengan saat ini. Satu sisi menjaga kawasannya sendiri adalah harga diri bangsa dan negara Brunai, namun satu sisi lagi Brunai tidak akan gegabah ikut terlibat dalam amukan raksasa militer di kawasan tersebut.

Jika dapat mempertahankan status quo secara diplomatis mengapa Burnai harus narsis atau ikutt-ikutan memancing perbedaan pendapat menjurus permusuhan di kawasan tersebut bukan?

Brunai pasti punya perasaaan yang peka, tapi logika menjadi lebih utama karena strategi status quo yang diterapkan pada rebutan Spratley jauh lebih jitu ketimbang menghabiskan energi sekadar “gertak – menggertak” di kawasan tesebut.

Salam AGN

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s