Menguji Daya Tahan Pulau Jawa Dari Pemerkosanya

Pulau Jawa berbahayaMasihkah planet kita mampu melayani 7 miliar manusia di atas perut bumi? Padahal saat piramida Mesir (Sphinx) pertama dibuat 2723 SM sampai 2563 SM, perkiraan jumlah penduduk bumi masih sekitar 30 jutaan orang. Lalu selepas perang dunia pertama (PD 1) meskipun melesat pertumbuhannya penduduk bumi masih sedang sedang saja, hanya 2 miliar orang.

Kini, bumi terasa padat dan sesak. Seluruh kebutuhan ummat manusia dan makhluk hidup di dalamnya semakin langka. Di sisi lain, pertumbuhan kelahiran tak sebanding dengan tingkat kematian akibat berbagai hal meskipun akibat perang di berbagai penjuru dunia.

Menurut catatan yang dikutip dari CIA FactBook 2015, rangking 10 besar negara berpenduduk paling banyak berdasarkan data Juli 2014, adalah :

Penduduk Indonesia 2014 versi CIA

Dikutip oleh : http://www.photius.com

Tanpa menduluankan data yang lebih terpercaya –namun tak kunjung tersedia- dari BPS dan Depdagri mengenai jumlah penduduk Indonesia per2014 (padahal kini sudah 2015) data yang dilansir oleh situs CIA di atas memperlihatkan posisi Indonesia sebagai negra nomor 5 berpenduduk terbesar di duni, hampir 254 juta jiwa.

Pulau jawa yang kini kita lihat luas daratannya 126 ribu km² dipisahkan dari pulau Sumatera dan Kalimantan serta Filipina dan Taiwan dalam perjalanan panjangnya hampir 12 ribu tahun lalu setelah zaman Pleitosin berakhir (1,8 juta tahun – 11.500 tahun yang lalu).

Sampai saat ini Belum ditemukan berapa persen angka penyusutan yang dapat dipercaya wilayah menurunnya permukaan pulau Jawa dari sejak masa terbentuknya hampir 12 ribu tahun lalu hingga kini.

Jaman Pleistosin berakhir (11500 tahun lalu) akibat pecahan pulau es seluas 5 kali Jakarta di Atlantik menyebabkan naiknya permukaan laut Antartika yang berimplikasi terhadap tenggelamnya beberapa daratan belahan dunia lainnya hingga Asia Tenggara dimana posisi daratan Jawa saat itu berada paling ujung Asia Tenggara.

Jakarta sebagai representasi masalah lingkungan di pulau Jawa, setiap tahunnya mengalami penurunan permukaan tanah dalam aneka angka bilangan yang berbeda-beda versi. Tapi seberapapun angkanya (katakanlah 3 cm setiap tahun) tetap memberi peringatan pada kita tentang dampak bahaya atas menyusutnya permukaan Jakarta.

Hal yang sama juga terjadi pada pulau Jawa. Menurut penelitian yang dilakukan selama 40 tahun dan dipublikasikan pada 2013 alu oleh Badan Geologi ESDM, terdapat empat wilayah di pulau Jawa yang mengalami penurunan sehingga menimbulkan cekungan tanah. Ke empat wilayah tersebut adalah Jakarta, Bandung, Yogjakarta dan Semarang. Rata-rata penurunan permukaan tanahnya (naiknya air laut ke daratan) sebanyak 5-9 sentimeter setiap tahunnya. Sumber : http://kurniazi.blogspot.com/2013/01/tanah-di-p-jawa-menurun.html

Pulau Jawa yang terbentuk seluas 126 kilometer persegi menjadikannya sebagai pulai terluas urutan ke 5 di dunia dengan jumlah penghuni sangat banyak.

Mengacu pada data yang dikutip dari BookFact CIA 2015, jumlah penduduk tanah air kita pada 2014 kurang lebih 253 juta jiwa. Diantara sebarannya terdapat di pulai Jawa sebanyak 140 juta jiwa. Sumber : http://www.theodora.com/wfbcurrent/indonesia/indonesia_people.html

Dengan asumsi pulau Jawa berpenghuni 140 juta jiwa tingkat kepadatannya mencapai 2000 orang per kilometer. Dibanding dengan DKI berpenghuni 10 juta jiwa dengan tingkat kepadatan mencapai 17 ribuan orang per kilometer, rasa-rasanya tingkat kepadatan pulau jawa masih sangat longgar. Akan tetapi mengingat lahan demografi DKI yang tidak memiliki jurang, gunung dan tebing bahkan hutan berliku-liku (kecuali hutan beton-red) maka luas pulau jawa kelihatannya tidak sepenuhnya benar-benar longgar.

Persoalan yang dihadapi pulau Jawa pun mirip dengan persoalan muti dimensi dibidang sosial yang dihadapi DKI. Salah satunya adalah rusaknya lingkungan serta pertumbuhan orang miskin.

Menurut catatan BPS pada Maret 2013 saja jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 28,1 juta orang. Kemudian pada 18 September 2013, jumlah orang miskin mencapai 28,55 juta orang di seluruh Indonesia. Mengalami kenaikan hampir 500 ribu orang hanya dalam kurun waktu 6 bulan.

Jumlah penduduk yang padat menuntut aneka kebutuhan yang lebih banyak meliputi konsumsi energi, sanitasi dan kesehatan, transportasi, sandang dan pangan serta aneka kebutuhan berdimensi sosial lainnya.

Dengan jumlah penduduk melebihi setengah dari penduduk setanah air, apa dan bagaimana gambaran secara umum yang terjadi di Jakarta khususnya dan pulau Jawa pada umumnya sangat sering menghiasi wajah informasi di berbagai media massa, cetak, elektronik dan internet.

Tak terhitung jumlah tulisan dengan judul-judul membuat bulu kuduk merinding membaca judul berita yang menitik beratkan pada rasa prihatian terhadap kondisi pulau Jawa. Salah satu tulisan tersebut adalah tulisan oleh penulis sendiri yang diterbitkan pada 19/1/2012 di sini : http://green.kompasiana.com/iklim/2012/01/19/menguji-daya-tahan-pulau-jawa-dari-bencana-alam-431859.html

Seperti disebutkan di atas, menurunnya permukaan daratan atau naiknya permukaan laut (subsidence) terjadi di mana-mana. Di pulau Sumatera pun terjadi hal yang sama, misalnya menurunnya permukaan tanah di beberapa pulau (Pulau Padang, Pulau Rangsang, Pulau Rupat, Pulau Tebing Tinggi, Pulau Bengkalis dan beberapa pulau lainnya) di Provinsi kepulauan Riau. Pulau Padang sendiri menurunnya sangat signifikan, mencapai 7-8 cm setiap tahunnya. Diperkirakan 60 tahun lagi pulau Padang akan hilang dari peta.

Berdsarkan informasi di atas, di manakah di planet kita terdapat tempat yang aman? Rasa-rasanya hampir tidak ada. Semua wilayah, semua daerah dan semua permukaan di atas muka bumi selalu rentan oleh kondisi alam.

Bedanya adalah, mengacu pada sejumlah fakta dan informasi rusaknya ekosistim di pulau Jawa akibat eksploitasi dan eksplorasi alamnya seperti kasus Lapindo dan pembangunan super Blok atau Mega Blok serta pembangunan perumahan dan menciutnya areal persawahan dan menipisnya kemampuan resapan air di atas bumi pulau Jawa dengan jumlah penduduknya melebihi separuh total penduduk Indonesia akan sangat rentan dan mempercepat ancaman berkurangnya daya tahan pulau Jawa di banding wilayah lainnya.

Sejumlah penduduk yang tidak perduli atau kurang peduli pentingnya merawat lingkungan jumlahnya sangat besar dibanding dengan jumlah perusak lingkungan di daerah lain. Dengan alasan klasik yang diusung oleh kelompok pencari sesuap nasi atau konglomerat berlisensi lulus Amdal, mereka seakan tak punya beban dengan apapun risiko yang bakal terjadi jika ketahanan pulau Jawa membuat alam menjadi murka tak mengenal siapa yang perduli dan tidak perduli terhadapnya lagi.

Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak itu kita khawatir jika hal itu berpotensi menjadi bencana alam internasional dan tragedy kemanusiaan yang sangat parah karena jumlah manusia yang menghuni pulau Jawa teramat sesak.

Tulisan ini BUKAN untuk mendramatisir topik hangat dengan tema yang membuat ciut pembaca budiman atau penghuni pulau Jawa, tempat saudara, rekan dan sejawat kita menggantung hidup dan matinya di sana. Tulisan ini hanya ingin mengetuk hati dan kesadaran semua pihak yang merasa hidup dan bergantung pada alam dan bumi pulau Jawa betapa pentingnya menjaga alam sekitar masing-masing.

Mulai dari rakyat melarat pencari sesuap nasi, konglomerat pencari segenggam mutiara sampai birokrat pencari sebongkah berlian, sepantasnyalah semuanya besungguh-sungguh merawat alam dan lingkungan pulau Jawa. Pejabat negara tidak sekadar basa-basi lagi mendukung program pemeliharaan lingkungan dengan hanya berpartisipasi pada lounching programnya lantas hilang bersama angin tak tentu rimbanya.

Hidup memang sekali, akan tetapi jika yang ditinggalkan adalah puing-puing kehancuran bagi anak dan cucu di kemudian hari apakah dijamin mereka tidak akan menyalahkan generasi sebelum mereka? Jika itu terjadi, mereka pasti tidak akan menghargai sejumlah pengorbanan orang terdahulu, termasuk anda, kita dan saya karena yang mereka dapatkan hanyalah sebuah fakta, bahwa pendahulu mereka hanya dapat memperkosa alam, bukan merawat dan mendadaninya untuk warisan regerasi mereka.

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s