Damai Aceh Mulai Terasa Goyah?

TNI-di-desa-AcehkitaRabu, 25 Maret 2015, sekitar pukul 14.00 siang yang terik di Kecamatan Mila, Kabupaten Pidei, Aceh, dua polisi dari Polres Pidie, melakukan penyergapan terhadap bandar Narkoba yang diduga kuat memiliki dua kilogram ganja kering.

Ke dua petugas Polisi, Briptu T Khairul Amal dan Bripda Said M Riza yang sedang menyamar menjadi pembeli ganja diketahui gelagatnya oleh geng Narkoba Pidie.

Ketika hendak diringkus pelaku melakukan perlawanan dengan merebut senjata jenis pistol yang sedang dipegang M Said. Berhasiil merebut senjata tersebut, M Said pun ditembak seketika.Sementara itu Briptu T. Khairul meloloskan diri sehingga selamat saat bersamaan pelaku juga melarikan diri dengan membawa senjata rampasannya.

M Said menghembuskan nafas terakhirnya saat dilarikan ke rumah sakit Sigli. Akibat pendarahan di bagian punggungnya, Nyawa polisi yang sedang melaksanakan tugas itu akhirnya tidk tertolong lagi.

Meski tidak ada kaitannya dengan kasus tewasnya dua petugas intel Kodim 0103 Lilawangsa, kepergiannya menambah luka yang baru saja terjadi beberapa hari sebelumnya yang menimpa patugas TNI AD di Aceh Utara.

Senin, 23 Maret 2015, sekitar pukul 16 WIB, dua orang intel Kodim 0103 Aceh Utara dihadang belasan orang tak dikenal di tengah lalu lalang pengguna jalan raya . Mereka berdua beberapa menit  sebeumnya baru saja keluar dari salah satu rumah kerabat, kepala dusun di desa Alue Mbang, kecamatan Nisam Antara Aceh utara, lebih kurang 50 Km arah barat Lhokseumawe.

Menurut penuturan beberapa saksi mata yang diminta keterangan, kendaraan (Toyota Kijang) kedua petugas yang sedang menjalankan tugas tersebut dihadang sekitar 300 meter dari rumah kepala dusun yang mereka singgahi sebelumnya.Ke duanya dipaksa turun dari kendaraannya lalu di bawa ke hutan terdekat. Beberapa saksi mata mendengar  (dari kejauhan) sayup-sayup letusan senjata beberapa kali dua jam setelah peristiwa tersebut.

Selasa pagi (24/3/2015) pukul 08.30 Kepala penerangan Kodam Iskandar Muda, Letkol Machfudz mengumumkan, keduanya telah ditemukan tewas mengenaskan di desa tetangga, Desa Batee Pila kecamatan yang sama. Kondisi keduanya telungkup, tangan terikat dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Keduanya sedang bertugas, salah satunya adalah dalam rangka pengumpulan informasi mengenai keberadaan kelompok Din Minimi yang dalam setahun terakhir telah mencuri perhatian publik tentang sepak terjang kelompok tersebut dalam aneka penyerangan, penculikan dan penyanderaan tanpa tertangkap oleh Pores Aceh Timur atau Polda Aceh sampai kini saat tulisan ini diterbitkan.

Sehari sebelumnya, Minggu (22/3) sekitar pukul 19.30, salah satu Panglima Muda, Komisi Peralihan Aceh (KPA) yang dikenal dengan julukan Ayah Mud atau Mahmudsyah (38) duluan diculik sejumlah orang tak dikenal (OTK) bersenjata laras panjang di depan rumahnya saat sedang menikmati rokoknya di desa Paya Terbang, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Din Minimi (Nurdin) kombatan yang memilih memanggul senjata pasca perjanjian damai Helsinki mengirim keterangannya pada harian Serambi Indonesia bahwa ia tidak terlibat dalam penculikan anggota TNI Kodim 0103 Lilawangsa. Tapi ia mengaku menculik panglima muda KPA, Ayah Mud.

Gubernur Aceh dalam keterangannya menanggapi peristiwa penculikan maut tersebut meminta aparat untuk menangkap hidup atau mati pelaku yang dinilai meresahkan dan merusak perdamaian Aceh.

Pangdam Iskandar Muda, Mayor Jenderal Agus Kriswanto mengakui telah mengantongi identitas pelaku dari kelompok yang masih dirahasiakan. Akan tetapi ia kini telah mengerahkan ratusan TNI AD menuju Kecamatan Nisam Antara dan mengepung desa lokasi tempat ditemukan ke dua jenazah anggotanya.

Kapuspen TN AD, Brigadir Jenderal (Brigjen) Wuryanto, dalam keterangan persnya di Jakarta menduga bahwa penembakan dua anggota intel Kodim 0103 Aceh Utara adalah perbuatan teroris.

Inikah yang diharapkan oleh segelintir orang yang menginginkan Aceh menjadi kacau balau kembali?

Fenomena Culik Menculik Benih Virus Konflik

Berlandaskan pada perjanjian Helsinki 2006 lalu, hampir seluruh warga yang menyandarkan hidupnya di Aceh sangat menikmati berkah dari perjanjian damai tersebut. Meski UUPA (undang-undang pemerintahan aceh) belum seluruhnya disetujui pusat, setidaknya beberapa hal yang telah disetujui, perdamaian tersebut ternyata mampu menjadi  penyejuk dan warga Aceh mendapat hikmah dari peristiwa masa lalu tersebut betapa perdamaian itu harganya sangatlah mahal.

Seluruh korban moril dan materil dalam konflik historis 4 dekade silam dan konflik sistematis 15 tahun lalu seakan terlupakan. Dendam kesumat yang membara dan kebencian berkarat terbalut murka akhirnya tersapu juga oleh angin perdamaian meski di sana sini menyisakan sisa rongsokannya di beberapa tempat.

Tetesan setia embun damai di setiap pagi telah datang menyapa dan membelai lembut alam dan warga Aceh dalam sejuknya rasa damai dalam sepuluh tahun terakhir. Embun perdamaian itu juga akhirnya secara lambat namun pasti telah menyatukan kembali kebersamaan dan semangat warga Aceh dari seluruh kalangan yang sempat tercerai berai akibat konflik.

Tetesan embun damai itu telah mengobati rasa dendam kesumat berganti persahabatan dan saling menghargai di seluruh kalangan terutama yang terlibat konflik langsung saat itu (TNI, Polri, Kombatan GAM, Politisi, Pemerintah dan rakyat).

Akan tetapi, sejak awal 2014, sang embun damai yang menyapa setiap pagi rasa-rasanya mulai menguap akibat panasnya suhu politik di Aceh. Menjelang pemilu legislatif benih-benih kekacauan yang dilkaukan pihak tertentu mendompleng kendaraan pemilihan umum legislatif mulai terlihat.

Semester ke dua 2014, kedamaian yang telah dirasakan 10 tahun mulai terusik oleh hadirnya aneka informasi melelahkan mengenai aksi penembakan, penyerangan, penculikan dan kedigdayaan kelompok Din Minimi. Sepak terjang kelompok ini sering tampil di media massa dan media sosial lokal. Kelompok Din Minimi yang licin bagaikan belut, sering tampil dalam berita media massa lokal tidak dapat ditangkap petugas keamanan dari Polisi dan TNI sampai hari ini.

Penembakan terhadap sopir truk yang  awalnya terjadi di jalan-jalan desa kini mulai merambah ke jalan provinsi Medan Banda Aceh mulai tejadi akhir 2014.

Sejak awal 2015, penculikan oleh sekelompok orang tertentu belum diketahui dari organisasinya dengan tuntutan sejumlah puluhan hingga ratusan juta uang tebusan mulai marak terjadi. Beberapa korban menyerahkan uang tebusan yang diminta kelompok penculik.

Kekerasan ala cowboy Texas secara terbuka menghiasi media massa, misalnya sekelompok orang menculik taoke (jurangan) Karet, pengusaha dan kader partai politik. Selain itu penyerangan kantor  kontraktor dan perusakan alat berat pengerjaan proyek waduk atau irigasi di pedalaman Aceh Utara

Sejumlah modus punculikan berlatar belakang dendam, uang dan urusan pribadi sampai alasan main-main (iseng dan  mencari sensasi) pun mulai terbiasa terlihat. Bahkan seorang anggota dewan di sebuah kabupaten pun ikut merancang penculikan terhadap seorang pria yang dituduh menganggu isteri kedua anggota dewan tersebut.

Pendek kata, aksi penculikan sepertinya mulai marak. Entah karena terinspirasi pada gaya dan tingkah polah kelompok perlawanan di luar negeri semacam teroris dalam aksi penculikan atau motif lainnya, kenyataannya gaya dan model ini terlihat marak terjadi berulang kali.

Tiga peristiwa terkini penculikan dan pembunuhan diatas adalah akumulasi dari riak-riak brutalisme dan vandalisme yang berawal dari anggapan atau penyikapan berkatagori kecil atau biasa-biasa saja namun lama-lama berubah wujudnya  menjadi luar biasa dan kini berpotensi terjangkit wabah, virus konflik.

Alam Aceh telah memberi contoh dan pengalaman kepada penghuninya tentang betapa mahalnya harga sebuah perdamaian. Sayangnya sebagian orang lain tidak penting menjaga perdamaian tersebut . Tak penting juga berharap agar si embun pagi yang selama ini dengan setianya mengusap damai bumi Aceh untuk bertahan selamanya.

Jika sebagian orang menganggap menjaga kedamaian dan perjanjian itu tidak penting bahkan lebai, pertanyaannya adalah mengapa mereka sangat senang membuat Aceh terjerembab kembali dalam kubangan konflik yang sama?

Mengapa Aceh terus menerus menjadi target kekacauan sehingga tidak mampu mandiri dan senantiasa harus menggantung kebutuhan perekonomianya pada provinsi tetagga? Berapa banyak proyek mega infrastruktur yang harus berhenti dan terbengkalai akibat memburuknya situasi keamanan, politik dan perekonomian Aceh? Padahal Aceh sangat tergantung pada kucuran dana pusat untuk mengembangkan daerahnya dan meningkatkan kualitas SDM nya serta taraf hidup warganya.

Rakyat tidak ingin dihadapkan lagi pada sikap memilih buah “Simalakama”. Ibarat anekdot, “Maju Kena, Mundur pun Kena,” telah menjadikan kenangan masa pahit masa lalu itu sebagai pengalaman pahit sekaligus menjadikannya sebagai sebuah hikmah yang masih hangat rasanya meski coba dibekukan secara paksa oleh pihak yang ingin merusaknya.

Terlalu kuatirkan kita dengan potensi hadirnya konflik kembali? Tentu saja, karena kita semua tidak menginginkannya terulang kembali karena sejumlah alasan disebut di atas.

Jangan hadapkan warga Aceh di manapun ia berada pada posisi tidak dapat memilih. Terlalu banyak janda dan anak yatim  dari warga sipil, TNI, Polri dan pejuang GAM, produk kekerasan masa lalu yang tidak terurus orang tuanya sehingga diantaranya ada yang tumbuh dewasa tanpa menyimpan memori pernah merasakan hangatnya berada dalam dekapan ayah dan ibu mereka,

Di sisi lain, mereka yang tidak terurus hingga kini menjadi liar saat usia dewasa. Diantaranya banyak yang minim bekal pengetahuan, kurang berakhlak mulia, tidak mengenal etika, tidak patuh pada tatatertib bahkan ada yang minim norma-norma dalam ajaran Islam.

Marilah menjaga perdamaian ini. Jangan sampai menambah lagi lembaran kelam dan menambah daftar deretan produk generasi yang liar serta tidak terurus seperti disebutkan di atas.

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s