Pesan Antasari Untuk Samad Dari Wawancara di LP Kayangan

Seolah tak mau kalah dengan tayangan Kick Andy  yang berhasil mewawancarai Antasari Azhar (AA) mantan ketua KPK yang mendekam di penjara Tangerang pada 17 Januari lalu, penulis yang sudah lama ingin bertemu AA akhirnya punya kesempatan bertemu AA di sebuah tempat, di Lapas Kayangan.

Berbeda dengan saat wawancara dengan Kick Andy AA mengenakan T Shirt biru dan bercelana jean, kini AA tampil beda, berkemeja putih lengan pendek dan celana hitam layaknya orang kantoran. Peci hitam menutupi rambutnya terlihat lebih rapi, mengingatkan penampilan sejumlah menteri dalam kabinet Jokowi yang modis dengan tampilan tersebut.

AA terlihat sehat meski agak gemuk. Sorotan mata AA melihat saya lebih tajam terlihat garang mirip saat menjadi ketua KPK yang meringkus dan menahan sejumlah koruptor termasuk salah satunya besan mantan presiden SBY, yakni Aulia Pohan.

Di hadapannya tersedia dua cangkir kopi dan penganan empek-empek Palembang kesukaannya. Ia mempersilahkan saya duduk di kursi rotan klasik jaman tempo doeloe di sebelahnya. Katanya empek-empek itu kiriman dari keluarganya. Di sini boleh menerima kiriman makanan dari keluarga. Yang tidak boleh itu HP, Laptop dan TV. Kopian kliping tulisan saya tahun 2012 lalu itu diantar oleh keluarganya.

Antasari Azhar (AA) membuka pembicaraan dengan saya, ” Saya telah membaca tulisan anda mengenai saya tentang Memperingati 2 Tahun Antasari,” membuat saya sedikit kaget karena justru sudah lupa dengan tulisan dua tahun yang lalu.

Penulis (P) membuka pertanyaan ringan berapa lama sudah ditahan, beliau katakan sudah hampir 6 tahun. “Hampir 2 tahun ditahan di Polda Metro Jaya dan sudah 4 tahun di Lapas Tangerang ini, jadi saya telah menjalani hukuman hampir 6 tahun” lanjutnya.

Penulis (P) :Mengapa anda mengundang saya dan dalam kaitan apa? Apakah ada sesutu yang salah dengan tulisan saya terdahulu terhadap anda?

AA : Ohh, bukan bukan itu, hehehehhe.,” sambil menepuk pelan pundak saya. Ia masih bisa bercanda rupanya meski berwajah amat serius. “Bukan masalah itu, mas.. Saya mengundang anda ke sini untuk menyampaikan sesuatu yang teramat penting tentang saya dan  kondisi KPK lembaga yang pernah saya besarkan dahulu.

(P) : Kongkritnya seperti apa pak?

AA : Begini ya? Saya kan punya pengalaman menangkap koruptor mulai kelas kakap sampai kelas teri. Bukan soal besar kecilnya nilai korupsi yang merugikan negara, tapi kan kita harus menegakkan hukum agar roda ekonomi dalam pembangunan bangsa dan negara harus berjalan di atas relnya agar Indonesia tumbuh berkembang dan maju di segala bidang.  Betul tidak? Balik bertanya pada saya sambil menunjuk dengan isyarar angka 1.

(P) : Betul pak.. sambl manggut-manggut (memaksa mengerti hehehehhe).

AA : Dalam kaitan itulah saya dan KPK saat itu berjibaku siang dan malam mengumpulkan fakta, data, informasi dan pendalaman masalah serta pengumpulan bukti bukti dan saksi-saksi. Setelah itu barulah mereka disidang sampai akhirnya ditahan dan dipenjarakan.

(P) : Siapa saja yang paling bapak ingat koruptor kelas kakap itu?

AA : Salah satunya pak Aulia Pohan, mantan deputi Gubernur BI. Beliau sudah bebas dua tahun lalu, kan?

(P) : Terus siapa lagi yang bapak masih ingat?

AA : Oh iya itu pak Al-Amin, mantan anggota DPR RI yang tekait kasus alih fungsi lahan di Sumatera Selatan. Beliau malah sekarang ada disebelah saya, hehehhe.. Juga ada Putranefo Alexander Prayugo yang divonis tujuan tahun dalam kasus korupsi program revitalisasi Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan (Dephut) tahun 2006-2007. Ia juga ada sebelah kanan ruangan saya saat ini.

(P) : Bagaimana perasaan bapak melihat orang yang bapak tangkap dulu kini sama-sama mendekam di LP dan tempat yang sama?

AA : Kan hukum itu berlaku sama dan untuk siapapun. Tidak ada yang kebal hukum meski oleh dan untuk penegak hukum sekalipun. Hukum itu harus bersifat memaksa dan punya kejelasan atau kekuatan.

(P) Lantas apakah itu berarti bapak mengakui hukuman yang dijatuhkan terhadap bapak dan bapak tidak meneruskan Peninjauan Kembali yang selama ini giat-giatnya bapak perjuangkan?

AA : Dari sisi yuridis memang hukum berlaku terhadap siapapun dan utuk semua orang. Hukum bersifat memaksa dan kejelasan. Jika keberatan kan ada pembelaan dan peninjauan kembali seperti yang saya lakukan. Saya melakukan ini sebagai hak saya, karena saya melihat, merasakan dan mengalami kenyataan bahwa tuduhan yang ditjujukan kepada saya adalah FITNAH.. ujarnya sambil menerawang ke luar jendela selnya di Blog G..

(P) : Maaf, saya tidak terlalu paham dengan sistim dan materi hukum kita. Apakah saya bisa memperoleh hal lain dalam pertemuan ini?

AA :Tentang apa? AA memotong balik bertanya, lalu mempersilahkan ngopi yang disajikan petugas Lapas.

(P) : Melihat pada kondisi saat ini tentang suhu politik yang bersinggungan dengan hukum di Negara kita khususnya kisruh antara Polri dengan KPK yang pernah bapak pimpin, seperti apa yang bapak lihat?

AA : Saya punya pengalaman bagaimana berada dalam tekanan ketika sejumlah pejabat korup sedang dalam proses pemeriksaan KPK. Suasananya sangat gerah. Di mana-mana pejabat pemerintah dan Negara seolah melihat KPK itu sebagai lawan daripada seorang teman. Apalagi ketika pejabat public yang sedang diperiksa, lobi kanan kiri dan tangan dari langit tak henti hentinya coba mencampuri independesni KPK.

Ia memperlihatkan daftar nama sejumlah pejabat yang ditulis menjadi sebuah buku selama di dalam tahanan. “Ini mas, lihat siap saja mereka? Anda bisa menduga bagaimana rasanya berada dalam kondisi sedang memproses tersangka tersebut, bukan?”

(P) : Apakah bapak pernah merasa berada dalam jebakan sehingga bapak sadar bahwa hal itu akan meruntuhkan reputasi dan kredibilitas bapak?

AA : Ooo tentu saja. Mulai dari janji pertemuan penuh jebakan, pemberian gono gini yang katanya sekadar hadiah sampai wanita pun sering dijadikan jebakan. Tapi semuanya saya coba tepis.

(P): Tapi kasus bapak dikaitkan dengan tewasnya Dirut PT Rajawali Putra Banjaran, Nasruddin Zulkarnain karena berkaitan dengan wanita,?

AA :Itulah salah satu jebakan. Sampai kini saya tidak mengakui hal itu meski saya memang berada di hotel tersebut saat itu, Tapi semuanya sudah diatur. Ya sudahlah terlalu panjang jika diuraikan di sini. Intinya saya sudah dan terus melakukan Peninjauan Kembali (PK) kepada pengadilan tertinggi dalam hal ini MA.

(P) : Apakah ada tanda-tanda PK bapak akan direspon?

AA : Pejabat yang menangani perkara saya telah datang dan pergi silih berganti. Saya mendapat hukuman 18 tahun penjara. Telah saya lalui 6 tahun. Saya juga memperoleh remisi beberapa kali dan jika itu berjalan maka saya akan dibebaskan pada 2025 ketika usia saya 72 tahun.

Jika saya bersalah saya rela menjalani sampai saya dibebaskan, atau sampai mati sekalipun. Tapi masalahnya ini sebuah rekayasa dan mematikan karakter Antasari yang diidentikkan sebagai karakter KPK. Sejumlah orang melihat KPK itu sebagai musuh nomor satu, termasuk saya di dalamnya mau tidak mau menjadi pelampiasan dendam kesumat tersebut.

Nah, sejumlah pejabat yang datang dan pergi silih berganti itu kesannya belum cukup waktu berkonsentrasi mengurus kembali PK saya. Artinya saya melihat tinggal menunggu waktu saja pasti ada pejabat Negara atau pemerintah yang akan berani mengambil sikap tegas meninjau PK saya tersebut.

(P) : Siapa kira-kira pejabat yang bapak rasakan akan memperhatikan jeritan siang dan malam hati bapak?

AA : Saya lihat ini sifatnya kolektif. Saya berharap mulai dari Kepolisian, Keajgung, MA, Menteri terkait dan Presiden akan mempunyai sikap yang sama menyetujui  usulan tesebut.

(P) : Kenapa Polri juga bapak sebut? Kan bapak dilaporkan? Terus pihak Kejagung juga trauma. Meminjam istilah Soetan Batugana, sejumlah pejabat Kejagung jadi “masuk barang itu” saat bapak pimpin KPK..Bapak yakin?

AA : Iya, kan kolektif. Kalau Polisi tidak berniat menerima PK itu dengan mengajukan bukti baru kan jadi panjang? Kalau kejaksaan itu kan saya katakan itu bukan keinginan pribadi saya. Saya menjalankan tugas sebagai pimpinan KPK yang kebetulan pelakunya terbukti petinggi Kejaksaan. Saya kira Keajgung sangat professional menyikapi hal tersebut.

(P) : Apa yang akan bapak lakukan jika PK bapak dikabulkan dan ternyata kasus bapak selama ini hanya rekayasa?

AA : Saya tidak melakukan tututan balik karena bagi saya yang penting status dan pemulihan nama baik saya telah berada kembali pada kondisi wajar dan normal. Saya tidak menuntut siapapun. Ini bukan janji memelas dan setelah itu saya berbuat sebaliknya. Tidak.., tidak akan seperti itu, karena usia saya sudah lanjut dan saya hanya berharap dapat hidup dengan normal bersama keluarga saya.

(P) : Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, sejumlah pimpinan KPK akan dijadikan tersangka, bahkan ketua KPK saat ini Abraham Samad dikaitkan juga dengan masalah wanita dan masalah politis, apakah anda setuju menilai langkah tesebut sebagai upaya Kriminalisasi KPK?

AA : Tadi telah saya ingatkan bahwa terlalu banyak lawan KPK, Anda melihat kan, musuh KPK itu sangat banyak. Berbagai upaya dilakukan untuk menjebak dan memberangus pimpinan KPK. Kalau memberangus KPK begitu saja tidak mampu karena KPK itu kana da dasar hukum pendiriannya. Dengan tidak berfungsinya pimpinan KPK maka proses apapun di KPK yang berkaitan dengan keputusan dan kebijakan tidak akan terjadi dan itu berarti KPK sudah lumpuh. Jika KPK lumpuh maka proses terhadap saksi dan tahanan baru TIDAK akan terjadi terhadap pemeriksaan atau penahanan siapapun dalam kaitan korupsi. Bisa jadi tahanan KPK yang sedang ditahan pun bisa dibebaskan jika tidak ada koordinasi memindahkan mereka ke tahanan yang ditunjuk jika suatu saat KPK akan bubar dengan sendirinya.

(P) : Sejauh apa anda menduga KPK akan lumpuh?

AA : Melihat KPK pada Samad sangat ofensif, kelihatannya musuh anti KPK juga melakukan ofensif bawah tanah. Segala trik dilakukan dengan pengumpulan bukti-bukti yang dapat menjerat pimpinan atau anggota KPK sebagai tersangka.

Jika bukti bukti tersebut sah atau bukan rekayasa maka sebagaimana saya sebutkan tadi itu juga terjadi bagi siapapun termasuk KPK. Lemabga ini kan bukan lembaga Super Body. Anggotanya bukan malaikat. Jadi yang diperlukan di sini adalah jejak rekam anggota yang bersih dan bekerja dengan bersih meski penuh risiko termasuk risiko jebakan dan risiko bubarnya KPK dengan sendirinya.

Saya melihat KPK akan bubar dan nantinya dalam renang waktu setahun atau dua tahun akan muncul lembaga baru dengan nama yang tak kalah ekstrim tapi tugasnya sama, yaitu memberantas Korupsi.

(P) : Jadi anda melihat potensi bubarnya KPK pasti terjadi?

AA : Kembali pada fakta apa yang terjadi, bukan rekayasa apa yang terjadi. Sebab jika rekayasa cukuplah saya saja yang merasakannya. Jika karena fakta dan dampaknya penangkapan terhadap unsur dan pimpinan KPK, itu artinya KPK sudah lumpuh. Konsekwensi logisnya bermuara pada saya sebutkan di atas.

(P) : Anda kan sudah punya pengalaman sebagai pimpinan KPK dan juga pengalaman berada dalam jebakan. Apa kira-kira pesan anda terhadap Abraham Samad pimpinan KPK sekarang?

AA : Saya kira pak Samad pasti lebih tahu dari saya jadi tak perlu dinasihati, tapi karena anda minta pendapat saya memberi pendapat begini.

AA tidak melanjutkan, tiba-tiba berhenti meneruskan pembicaraan. Petugas lapas mengingatkan jatah waktu tinggal 10 menit lagi.

AA : Pak Samad memang pemberani tapi saya harap penilaian saya salah, terkesan emosional. KPK tidak boleh ditunggangi oleh dan kepentingan kelompok manapun karena sifatnya indepen. KPK hanya tunduk pada perintah Presiden karena KPK berada di bawah pengawasan Presiden.

Menurut saya Momentum penetapan Komjen BG sebagai tersangka menjelang pelantikannya sebagai Kapolri meski langkah berani tapi kelihatannya emosional. Harusnya itu terjadi beberapa saat (bulan) atau tahun sebelum itu. Katakanlah berkas buktinya baru selesai atau lengkap tapi momentum seperti itu kurang tepat. Jelas itu menjadi jebakan yang berimplikasi sebagaimana yang terlihat saat ini terhadap pimpinan KPK.

(P) : Ada tuduhan pak Abraham Samad mengatur pertemuan dengan politikus untuk meraih posisi Wapres, bagaimana pendapat bapak?

AA : Mengenai pimpinan atau unsur KPK yang diduga berpolitik saya kira sebagai petugas KPK dan sebagai manusia tentu tidak dapat menghindari pertemuan-pertemuan dengan siapapun termasuk politikus. Akan tetapi sebaiknya menghindari pada sasaran politik misalnya ada keinginan tetentu berperan dalam dunia politik. Meski politik ada di dalam menjalankan roda KPK tapi tidak berarti ikut dalam kancah dunia politik praktis.

Tugas KPK mengumpulkan bukti-bukti, saksi, pemeriksaan dan menetapkan tersangka tanpa ditunggangi oleh kepentingan politik pihak manapun. Dengan itulah KPK bisa bekerja dalam iklim independesinya.

(P) : Kalau boleh saya simpulkan, berarti bapak menggaris bawahi bahwa, KPK itu tidak boleh terbawa arus politik. Pimpinan KPK itu emosional saat mengumumkan Komjen BG sebagai tersangka. Pimpinan KPK harns belajar ilmu jebakan wanita yang bapak pernah bapak alami meski menurut bapak itu rekayasa dan membunuh karakter bapak dan lembaga KPK?

(P) : Bapak melihat potensi karamnya kapal KPK dalam waktu 1 atau 2 tahun. Bagaimana langkah menyelematkannya?

AA : KPK harus segera minta ketegasan presiden tentang posisi KPK dan beberapa persoalan besar yang sedang ditanganinya. Tapi presiden juga tidak gegabah. Presiden pasti tahu dengan istilah dalam hukum tentang azas in dubio proreo, yakni demi tujuan yang lebih utama akan memilih membaskan 1000 orang bersalah ketimbang menghukum satu orang BERSALAH.

(P) : Jadi itu artinya bapak melihat tanda-tanda lenyapnya KPK akan terjadi?

AA : Bisa terjadi bisa juga tidak. Tergantung bagaimana segera mungkin KPK tidak bekerja seperti emosional. KPK tidak ditunggangi kepentingan politik dan indepensinya diperlihatkan dengan melakukan koordinasi skala tinggi dengan Kepolisian, Kejaksaan dan MA tentunya dengan Presiden.

KPK harus berbenah, menjaga beberapa piranti lunak yang saya sebutkan tadi. Jika tidak KPK akan terkubur. Saya secara pribadi mendambakan Indonesia yang damai, terjalinnya persatuan dan kesatuan di segala bidang. Menghormati Hukum dan prosesnya secara profesional. Jadi siapapun yang terpilih jadi Kapolri saya mengucapkan selamat. Mampu membawa dan menjadikan Polri sebagai lembaga negara yang patut dibanggakan. Begitu mas…” AA meneguk kopi kembali dengan nikmatnya.

“Kopinya diminum sudah dingin tukh…”

Teriakan itu lebih lembut terdengar, membangunkan saya dari terlelap di hadapan komputer, setelah menonton tayangan wawancara AA dalam tayangan Kick Andy di youtube.

Ahha…Istri saya mengingatkan kopi yang disediakan hampir satu jam lalu masih utuh. Ternyata asik juga bertemu mantan ketua KPK di Lapas Kayangan, meski hanya dalam mimpi. Hehehehhe..

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s