Tim Aerobatik Jupiter Jangan Sekadar Nama dan Warna Pesawat

mustang_P51 tahun 1966Peristiwa kecelakaan pesawat dalam pertunjukan udara (airshow ) sering terjadi di seluruh dunia baik katagori tim militer maupun komersial. Dalam festival katagori militer salah satu peristiwa kecelakaan yang terkini adalah peristiwa kecelakaan pesawat yang dialami oleh tim aerobatik Indonesia, Jupiter Aerobatic Tim menjelang Langkawai Air Show 2015 (LIMA’15) di Langkawi, Malaysia pada 15 Maret 2015 lalu.

Tim aerobic katagori militer (angkatan udara) saat ini di seluruh dunia masih terdaftar 59 negara. Diantara negara tersebut banyak yang memiliki lebih dari satu tim aerobatik seperti Australia dan Austria kini mempunyai 2 tim bersamaan. Kanada memiliki  5 tim, AS 8 tim dan yang terbayak adalah dari Inggris, mempunyai 11 tim, salah satunya yang paling legendaris adalah tim Black Arrows yang didirikan secara resmi pada 1955 dengan 4 pesawat, cikal bakal Red Arrows yang terbaik di dunia saat ini..

Indonesia sendiri sesungguhnya mempunyai 6 tim aerobik yang pernah ada, yaitu dimulai pada 1966 ketika 4 penerbang Mig 17 (selain Mustang P-51) membentuk tim aerobik yang disebut Tim Pionir. Salah satu penerbangnya adalah Roesmin Nurjadin yang mendapat julukuan Elang. Ia bersama 3 pilot AU lainnya telah membentuk cikal bakal tim aerobik Indonesia.

Selain Tim Pionir, tim aerobik lainnya adalah :

  1. Tim F-86 Sabre
  2. Tim Sprit 85
  3. Tim Jupiter (JAT)
  4. Tim Elang Biru
  5. Tim Thunder

Sorotan masyarakat dan pemberitaan hangat media massa minggu ini adalah peristiwa insiden pesawat Jupiter yang nyaris menimbulkan korban jiwa 4 instuktur penerbang JAT TNI AU. Tim tersebut akhirnya kembali ke Indonesia pada 17 Maret. Di atas langit Yogjakarta, JAT membentuk formasi yang memberi pesan dalam keadaan kecewa atau tidak gembira.

Kemudian pada harian Kompas 19 Maret 2015, tim disebut dimuat di halaman utama dengan gambar besar mendapat sambutan haru biru dari keluarga masing-masing.

Di Malaysia sendiri, Menhankam Ryamizard dalam acara dinasnya berkesempatan meninjau tempat terjadinya kecelakaan pesawat tersebut dan menemui tim Jupiter serta menjenguk anggotanya yang cedera di Rumah Sakit Lankgawi.

Sejumlah media cetak dan elektronik serta media sosial dalam dan luar negeri tak luput memberitakan peristiwa itu sebagai berita hangat selama dua- tiga hari berturut-turut.

Namun demikian, sejumlah pertanyaan juga muncul mengapa pemberitaan itu kesannya dibesar-besarkan seolah tidak menerima kenyataan. Beberapa pertanyaan tersebut adalah :

  • Mengapa peristiwa tersebut mendapat perhatian sangat besar, padahal tim tersebut gagal tampil dan kembali ke tanah air dengan terasa hampa.
  • Selain itu mengapa peristiwa tersebut soelah-olah berlebihan karena kegiatan tersebut kesannya tidakterlalu penting.
  • Mengapa JAT harus kecewa bagaikan patah arang, bukankah menjadi tim aerobatik sudah menjadi pilihan?Konsekwensinya, seluruh keberhasilan dan kegagalan ikut menjadi catatan prestasi sesuai dengan pilihan.

Meski gagal tampil pada unjuk kemampuan oleh tim instuktur TNI AU di Langkawi ternyata JAT mendapat jempol juga. Dari 2 pesawat dan 4 pilot di dalamnya semuanya selamat. Mereka berhasil melontarkan diri pada ketinggian amat rendah pada kecepatan tinggi dan salah satu pesawatnya dalam posisi terbalik.

Kedatangan rombongan JAT di tanah air disambut haru biru oleh keluarga masing-masing. Ini juga hal wajar karena keluarga ikut merasakan kekecewaan yang dialami oleh ayah atau suami atau keluarga terdekat yang telah memberi support atas pilihan pilot-pilot (keluarga mereka) menjadi tim aerobatik dengan segala risikonya.

Menjadi pilot tim aerobatik memang langka dan rumit. Di Inggris tempat juara dunia aerobatik sendiri, Royal Air Force (RAF) sangat selektif memilih pilot AU mereka yang akan masuk ke dalam tim aerobatik (RAFAT)  khususnya menjadi tim Red Arrows. Sejumlah syarat dan pelatihan yang pelatihan yang ketat dan berat membuat persaingan masuk ke lini tersebut sangat kompetitif dan langka.

Meski di Inggris kini muncul kritikan tentang mahalnya biaya operasional tim aerobatik mereka akan tetapi nilai mahal tersebut sesungguhnya sebanding dengan hasil yang dicapai oleh pilot AU Inggris yang dibina dengan amat professional. Menjadi pilot tim Red Arrows merupakan obesesi pilot Inggris dan timbul semacam kebanggaan yang tidak dapat dilukiskan dengan biaya dan jiwa sekalipun.

Meski demikian, tidak berarti tim aerobatik jawara dunia tersebut luput dari insiden. Sejumlah peristiwa yang merengut nyawa pilot termahal Inggris adalah :

  1. Kapten penerbang Jerry Bowler, tewas setelah pesawatnya dalam latihan gagal berformasi bergabung menabrak pohon pada 26 maret 1969.
  2. Peristiwa terakhir menimpa tim Reds lainnya, yaitu pilot John Egg  gagal terlontar pada ketinggian yang tinggi dari kursi pelontarnya pada 20 Agustus 2011 dalam acara Bournemouth festival.

Sama seperti Indonesia, pihak berkompeten dari AU Inggris (RAF) tentu melakukan penyelidikan atas sejumlah peristiwa insiden dan eksiden tim aerobik kebanggan mereka. Akan tetapi yang membedakannya adalah :

  • Tim aerobik Red Arrows Inggris kini menggunakan pesawat Hawk T1 pada saat ini. Sementara tim Jupiter kita menggunakan pesawat KT-1 Wong Bee, buatan Korea Selatan.
  • Tim aerobik Inggris jarang terpukul akibat berbagai insiden dalam pertunjukannya. Pertunjukan tetap dilanjutkan oleh tim lainnya. Mereka tetap bermental baja meski kegagalan tersebut berakibat merenggut jiwa teman satu tim sekalipun.
  • Media Inggris tidak mempublikasikan peristiwa tersebut sebagai peristiwa yang luar biasa. Berita tentang insiden tim aerobik tidak menjadi topik hangat dan tidak menjadi buah bibir masayakat pada umumnya. Hal ini dilakukan untuk tidak menimbulkan dampak cengeng yang justru bertolak  belakang dengan maksud dan tujuan membentuk karakter super tangguh pada pilot-pilot pilihan tersebut.

Mungkin terlalu jauh membandingkan antara kita dengan Inggris. Baik kita bandingkan saja dengan Royal Malaysia Air Force. Tim Smokey Bandits yang dibentuk pada 2001 dan dikembangkan go international pada Juli 2011. Si Taufan Ganas menggunakan Mig 29N/NUB.

RSAF Singapore, memliki tim handal, Black Knight yang dibentuk pada 1973 dengan armada Hawker Hunters. Mereka kini mempunyai armada F-16 C Fighting Falcons.

Tim aerobik angkatan udara Thailand punya tim tak kalah handal, Blue Phoenix. Pertama dibentuk 2012 menggunakan armada Mustang PC-9. Satu lagi tim handal negeri gajah putih ini adalah Kaset Green Hawk yang lebih senior. Pertama dibentuk pada 2007 dan juga berkembang hingga saat ini meski dengan pesawat sederhana Cessna 208.

Jika pun tim kita terpaksa harus ikut menjadi salah satu pilot terhandal kemampuannya di dunia, sebaiknya mereka dibekali peralatan dan system latihan dengan biaya yang memadai. Jika melihat pada jenis pesawat yang dipakai ada kemungkinan teknologi yang digunakan tergolong tidak high technologi, apalagi digunakan bermanuver pada jenis-jenis atraksi yang menuntut keepatan akselerasi dan kesimbangan pada ketinggian dan grafitasi tertentu.

Jika tidak demikian sebaiknya kita tidak perlu mengorbankan pilot isntruktur TNI AU kita untuk hal-hal yang kurang bermanfaat seperti itu. Mereka mempunyai tugas utama melatih pilot-pilot yunior dan menjaga territorial dan ruang udara negara dan bangsa kita.

Hilangnya nyawa pilot instruktur kita pada kegiatan yang tidak relevan akan sangat sia-sia rasanya.Belum lagi jika kecelakaan itu merenggut orang-orang tak berdosa di sekitar lokasi kejadian seperti di Langkawi, salah satu pesawat naas menimpa sebuah mobil dekat sebuah sekolah.

Dengan demikian JAT tidak sepantasnya lemah semangat bagaikan patah arang. Memilih jalur tersebut adalah pilihan dan itu adalah salah satu risiko.

Belajar dari kegagalan dengan menganalisa satu demi satu faktor kegagalan akan membuat tim lebih matang. Entah ke depannya tim ini masih menyandang nama yang sama atau muncul nama tim yang baru, tak penting dengan corak warna dan nama yang menggelegar. Yang terpenting adalah terus mengasah kemampuan jika pilihan ini merupakan yang paling tepat dengan seribu satu alasan.

Tak kalah penting adalah, tim harus didukung oleh pesawat yang setingkat lebih tinggi teknologinya untuk menyokong aneka teori dalam pertunjukan udara, misanya : Arrow Head Loop; Roll Back; Mirror; Loop and Bond Burst; Roll; Roll Slide; Solo Spin; Fice Card Loop dan Loop and Back Off atau semacam kemampuan langka lainnya..

Terakhir perlu diingat adalah pada pertunjukan air show Singapore 2014 lalu, kehadiran tim JAT kita sempat dilematis akibat ketegangan dengan Singapore yang mewarning kehadiran petinggi TNI saat itu berkaitan dengan kisruh politik dengan Singpore.

Tak kalah penting adalah, selain masalah teknis dan kemampuan pesawat di atas, tak salah memeriksa jenis bahan bakar yang digunakan oleh tim kita (JAT) apakah murni dan cocok digunakan untuk itu apa tidak? Siapa tahu jenisnya sama tapi kadarnya berbeda.

Melalui pemeriksaan pada sisa tempelan bahan bakar pada tangki atau mesin mugkin dapat mengungkap investigasi tersebut. Akan tetapi lebih baik memilih penyikapan pada sisi peningkatan mutu dan peralatan serta kerja sama tim agar lebih terpadu JIKA tetap ingin menjadi salah satu penerbang terhandal di dunia.

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s