Dua Mantan Anggota Dewan DKI Mimpi Jadi Gubernur

Sumber gambar : Gaganawati

Sumber gambar : Gaganawati

Dua orang mantan anggota DPR DKI Jakarta ketika sudah tidak aktif menjadi anggota dewan bertemu di sebuah kafe menjelang siang.

Saat itu matahari di atas Jakarta tertutup awan pekat. Hujan gerimis di siang itu membuat orang memilih berteduh sambil makan siang di restoran, warung atau kafe. Salah satunya adalah dua orang teman “se-ia se-kata” mantan anggota dewan DKI periode 2010  2014.

Keduanya adalah Linglung dan Bingung, masih terkenang-kenang masa indahnya ketika menjadi anggota dewan DKI secara tidak sengaja bertemu di Kafe Kayangan, tak jauh dari rumah mereka.

Berikut ini, wawancara di kafe Kayangan yang dirangkum dari aneka kritikan dalam media sosial tentang kualitas sejumlah anggota Dewan saat ini, terutama yang sedang disorot adalah performan anggota Dewan DKI Jakarta.

Mereka, sebut saja Bingung  dari partai Kampret dan Linglung dari partai Terompet. Partai Kampret bersuara hingar bingar, gaduh dan bising demi menyuarakan suara dan hati nurani rakyat. Sedangkan partai Terompet hampir mirip, bedanya lengkingan Partai Terompet suaranya lebih panjang mungkin akibat sering muncul lontaran kata-kata hutan setiap muncul debat di gedung terhormat milik rakyat DKI tersebut.

Akan tetapi dedua partai tersebut punya visi yang sama yakni sama sama menyuarakan hati nurani rakyat dan membela kepentingan warga DKI menuju adil dan makmur serta sejahtera.

Setelah berbasa-basi bertanya tentang kabar masing-masing dan keluarganya, Linglung buka pembicaraan. “Usia DKI Jakarta sebenarnya sudah berapa ya?” bertanya pada temannya.

“Berapa, ya aku kira sudah lama juga. Apa maksudnya?” Bingung balik bertanya pada Linglung tanpa menjawab pertanyaan angka yang diminta Linglung.

Kan usia DKI ini sudah lama, tapi kok rasa-rasanya Jakarta semakin amburadul. Terutama tahun 2015 ini saat kita tidak jadi dewan lagi, banyak kasus, dari eksekutif sampai legislatfi Lihat saja contohnya, nikh” kata Linglung penuh semangat pada temannya sambil mengurai contoh kasus yang ia maksudkan, berikut ini :

  • Gubernur, baru kali diancam melalui hak angkut (ia lupa atau sengaja menyebut angket dengan angkut).
  • Gedung dewan, dilempari batu sama sama kelompok FBI (entah lupa atau sengaja menyebut FPI dengan FBI).
  • Banjir melanda lebih deras di mana-mana. Padahal ahli-ahlinya sudah belajar mengatasi banjir ke Polendom (mungkin maksudnya Volendam, sebuah kota di atas rawa-rawa di Noord Holland, Belanda).

Bingung memotong dengan tangkas,.”Bukan Polendom, yang di Belanda itu kan? itu Plendam..”

Linglung : “Oh iya, benar Plendam… ”

Bingung meneruskan contoh kasus lainnya. “Dulu jaman kita bikin anggaran buat beli-beli macam-macam gak kecium sama Gubernur, kok sekarang susah amat ya? kayaknya Gubernur sekarang galak, kesannya dia itu sok tau. Bayangin aja, beli USB saja ribut. Itu kan diperlukan sekolah manapun. Anak saya beli USB kecil saja 150 rebu, masak punya sekolah-sekolah 4,2 miliar diributin sama si Asoy,” maksudnya nyentil Ahok, Gubernur DKI.

Sambil membetulkan duduknya yang nyaris merosot, Bingung pun menimpali tak kalah semangat.”Ooo itu gak seberapa. Liat aja contoh kasus dana yang disebut siluman.Siapa bilang itu siluman, Itu kan biaya yang nyata. emang DKI bisa dibangun tanpa dana berlimpah.? Dia itu (maksudnya Ahok) perlu dimedisin cek out, itu.. hehehehe.” Tanpa merasa salah sebut (maksudnya mungkin, medical chek up).

“Benar juga ya? Dia tidak cocok jadi Gubernur DKI. Kata orang dia itu tempremen, tidak beretis, suka blak-blakan, emosi gak karuan. Bikin malu kita orang Dewan saja,”  kata Linglung tak kalah seru.

Bingung manggut-mangut sambil menyalakan rokoknya barunya kembali. Setelah menghembus jauh-jauh asap rokoknya ia bertanya ke Linglung, apa saja contoh mata anggaran yang penuh mistis itu. Kok aneh diributin terus.

“Lihat ini ya? Pengadaan Studio Class, cuma 12 miliar pun disoal. Padahal itu kan penting buat anak-anak sekolahan untuk belajar ekting di studio sekolah mereka,” jawabnya penuh rasa geram.  Mungkin Linglung mengira Audio Class itu sama dengan studio untuk latihan drama di sekolah.

Tanpa memperlihatkan datanya Linglung terus mengoceh, “Ini lagi, lebih seru. Smart Friend utuk SD Cempaka Putih hampir 5 miliar, katanya biaya itu juga dihapus. Tega amat itu Gubernur, padahal kalau siswa sekolah SD itu dikasi kartu telepon  gratis kan bisa nelpon papa-mamanya kalau ada apa-apa.”

Bingung : Itulah Ling, aku kira sebaiknya Ahok itu diganti..

Sama Siapa?:”  penuh semangat Linglung memotong.

Sama yg pantaslah. Maunya sih dengan yang seide dengan kita-kita. Kemarin dari FBI sudah ada calonnya buat gertak dia tapi gak jelas kelanjutan nasib Gubernur versi FBI itu. Gak kedengaran juntrungannya sekarang,” jelas Bingung.

Kopi dan penganan sudah hampir habis. Suatu ketika dua wanita bule masuk ke kafe, materi, lalu secara otomatis materi pembicaraan menjurus ke soal lain lagi, kali ini tentang dolar.

Terus nikh sekarang kan dolar Paman San kan sedang menguat nikh, loe setuju gak pemerintah lakukan aborsi..?” tanya Linglung

Apresiasi maksudnya, Ohhh penguatan rupiah itu maksudnya??” (kali ini Bingung agak tajam karena menyangkut fulus, hehehe).

Oh iya, benar apresiasi. Lupa, maklum sudah tua. Itu maksud saya tadi ” Linglung berkilah tak mau kalah.

Kayaknya gue setuju banget.” jawab Bingung tegas.

Kalau geu kagak.. Masalahnya kalau rupiah menguat, deposito dolar ane bisa gembos lagi. Selama ini setiap penghasilan yang di dapat dari obyekan tambahan dan honorer anggota dewan aku tukarin ke dolar. Luamyan lah, bisa buat hidup sampai anak cucu, frend..hehehehhehe…” Linglung memberi alasan.

Sambil mengunyah kacang asin yang kulitnya bertaburan kemana-mana Linglung meneruskan materi lainnya tentang upaya menurunkan Gubernur Ahok.

“Sebetulnya mudah saja urus DKI, gak perlu repot amat. Kalau aku jadi Gubernurnya beberapa terobosan tokcer aku siapkan biar kompak gitu…”  Linglung meneruskan dengan membeberkan jurus ampuhnya membenahi DKI, Misalnya adalah :

  • Setiap anggota Dewan dan Pejabat teras Provinsi sampai inpektor, berikan asuransi gratis semuanya. Kalau mau kasi hadiah jgn uang, kasi properti atau lahan atas nama orang lain “Kong kali kong lah penyusunan anggarannya, dimain deh” kata Linglung
  • Pembebasan lahan kanal dan waduk buat kendalikan banjir kasi saja sama preman, biar mereka yang urus, ngapain repot amat?
  • Sampah DKI, buang saja ke laut, kan rekremasi pantai di Jakarta Utara perlu diuruk. Kirim aja tuh sampah berjibun ke sana buat dijadikan daratan.
  • Persoalan macet juga gak perlu ribet seperti sekarang. Siapkan satpol PP 24 jam di setiap persimpangan, kalau ada yang gak bener dipentungin aja, pasti kapok. Mudah kan?hahahha. (Kali ini keliatannya Linglung bercanda).
  • Soal hubungan dengan KPK juga mudah di atasi. Kasi dana lebih rapi dikit kenapa?. Mereka juga bisa KKO loh.. (kanan-kiri Oke maksudnya) tanpa kuatir sedikit pun Linglung menduga KPK bisa dibayar, mungkin karena merasa banyak uangnya.
  • Soal penghijauan atau rebotrasi tanam aja pohon mangga, duku, rambutan di sepanjang jalan. Kan pasti banyak yang demen tukh sama buahnya di pohon itu, gak bakal ditebang dengan alasan apapun.
  • Soal angkutan massal, ngapain bikin MRT dibela-belain dan Trans jakarta dimanjain. Berdayakan saja bemo kembali atau sekelas Bajaj. Gak banyak habisin BBM, mudah masuk kemana-mana dan irit lagi dan merakyat..
  • Pelayanan publik juga mudah saja prosesnya. Bikin pelayanan satu atap atau one stop shoping, jadi gak peru ngeloyor kemana-mana lagi..
  • Anggota dewan sekarang teman teman kita yang masuk koalisi  musti kompak lagi. Jika ada beberapa yg sudah goyah, yakinlah mereka akan kembali, cuaca masih bisa berubah, hehehhe.
  • Masih ingatkan, dulu saat kita menggolkan anggaran Trans Jakarta, aman-aman aja tukh, gak bakal dipanggil atau diperiksa kitanya, lagian sudah pensiun jadi gak usah khawatir, Belanda masih jauh, bro.

Sejurus kemudian, Linglung melihat kanan dan kirinnya. “Bing, bing. kemana bing?..”. Begitu asiknya ngobrol, ia tak sadar temannya (Bingung) yang kebelet sudah menuju toilet kafe. (Bingung mungkin sampai kebelet menertawakan teman seia-sekatanya karena banyak salah dalam memahami duduk masalah atau penggunaan istilah tidak tepat, seolah ia lupa, dirinya pun keliru).

Belum selesai Linglung cilangak clinguk, petugas kebersihan kafe itu menghampiri. “Pak, maaf. Kulit kacangnya jangan bertaburan ya? Di samping bawah meja itu ada tong sampah yang sudah tersedia untuk membuang sampah..”

Linglung membenahi taburan sampah yang di mejanya yang bertabur pecahan kulit kacang asin hobinya  sampai ke lantai kafe itu. Linglung memang doyan kacang asin kesukaannya. Ia kadang sengaja membawa bekal ke dalam tasnya dan mengunyah pelan-pelan saat sidang berlangsung ketika masih aktif dulu. Itu juga penyebab dia kerap terserang asam urat dan tidak bisa ngantor jika kakinya kumat asam urat. Tapi ia tetap doyan kacang, alasannya, supaya tidak ngantuk, hehehhe.

Tidak lama mereka keluar meninggalkan lokasi tersebut dan bersalaman terus beranjak ke tujuan masing-masing.

Bingung dan Linglung yang teman seia – sekata  di atas adalah potret imajinasi sebagian anggota Dewan. Wujud seperti itu sebetulnya tidak banyak, hanya segelintir saja ditemukan.

Ilustrasi ini hanya untuk menyentil beberapa anggota Dewan kita dari tingkat lokal sampai nasional di seluruh tanah air masih banyak yang belum paham inti masalah, tetapi bergaya tahu masalah, bahkan menggunakan istilah yang tidak benar pada tempatnya. Ironisnya lagi suka berteriak dan menyalahkan pihak yang lebih tahu dan berkompeten di bidangnya.

Pantas banyak maslaah di lembaga ini karena sebagian dihuni oknum-oknum yang tidak kompatibel dengan kondisi perubahan jaman yang menuntuk kinerja positif dan menjadi suri tauladan dari lembaga tersebut.

Masih untung, di gedung dewan itu masih banyak anggota Dewan yang memang berkapasitas dan kompatibel dengan bidangnya. Sayangnya, suara-suara dari partai mirip Kampret dan Terompet itu membuat suara mereka nyaris tenggelam tak terdengar. Performa mereka pun seolah tersapu oleh ganasnya lagak dan gaya anggota dewan sejenis dengan partai kampret dan terompet di sana.

Memang sudah tersedia mikropon di meja masing-masing anggota dewan yang kabarnya harganya mencapai ratusan juta. Tapi itu tak cukup membantu. Masalahnya anggota partai mirip seperti partai Kampret dan Terompet itu masih juga bawa TOA masing-masing, sehingga suasana di lembaga tersebut saat sidang mirip seperti lapangan pertandingan sepakbola.

Suara riuh di dalam gedung dewan memekakkan telinga. Pret.. pret.. tret.. trettttttet.. tretetet… Belum lagi lontaran kebun binatang kerap menghiasi suasan debat di gedung terhormat itu.

Mungkin itu sebabnya partai Kampret dan Terompet demen sama profil seperti Bingung dan Linglung ini, hehehehehe..

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s