Pemain Valas Ulung Itu Ingin Rupiah Terus Merosot

Terkejut sekaligus terkesima membaca harian Kompas hari Kamis (12/3/2015) pada halaman depan tentang pernyataan Menkeu Bambang Brojonegoro yang memberi tanggapan tentang melemahnya Rupiah tidak perlu dikhawatirkan. Dalam pandangan itu, Brojonegoro berpendapat, “Pelemahan kurs kita terhadap dollar AS  justru akan menciptakan surplus ke dalam anggaran. Jadi melemahnya rupiah tidak membahayakan anggaran.”

Terkesima karena tak mampu mencerna, entah bagaimana mekanismenya bisa terjadi seperti itu. Kita lihat dari kacamata awam, pernyataan tersebut sesuatu yang sangat tidak umum terjadi, karena pada umumnya pebisnis, masyarakat, perbankan bahkan sebagian pemerintah mengkhawatirkan melemahnya mata uang. Bahkan di negara manapun melihat menurunnya mata uang mereka bagaikan pukulan telak saat mata uangnya melemah.

Jika yang dikatakan Menkeu tersebut benar, pantaslah pemerintah senantiasa memberi tanggapan di media massa dan media elektronik  pada saat wawancara atau memberi keterangan pers bernuansa adem ayem dengan sejumlah kalimat singkat, misanya. “No problem,” atau “Tak perlu cemas dan panik,” atau “Devisa kita masih kuat” dan sejumlah kalimat yang bernuansa “Tenang-tenang saja lah…” (sambil komat kamit dan berkedip-kedip).

Kita ambil sisi positif saja. Mari kita duga apa yang disampaikan Menkeu yang lulusan luar negeri ternama dan memiliki staf di Kemenkeu yang berkelas dunia mempunyai reputasi handal dalam mengelola keuangan negara itu benar demikian.

Jika itu benar kemungkinan besar Indonesia akan menjadi contoh (role model) negara lain bahkan akan berguru pada pemerintah Indonesia tentang bagaimana mengelola melemahnya mata uang tapi mampu memberikan kontribusi pemasukan ke dalam kas negara.

Karena penulis bukan ahli keuangan dan berkompeten mengurusi cash in flow dan out flow keuangan negara dan Bank Indonesia, secara kasat mata hanya dapat membayangkan saja. Mungkinkah ekspor kita surplus? Mungkinkah cadangan devisa kita dalam dolar sudah bertumpuk dan berlimpah? Atau kita memberi pinjaman kepada sejumlah negara dalam mata uang dolar AS, ataukah ada hal lainnya?

Jika semuanya tidak, kita menduga bahwa kemungkinan besar adanya permainan valas resmi dan pemain valas itu justru pemerintah sendiri. Bisa secara individual, yaitu pejabat negara (legislatif, eksekutif dan yudikatif) yang tersebar di seluruh lembaga. Bisa juga secara kolektif, yaitu suatu lembaga keuangan atau perbankan milik pemerintah yang ditugaskan untuk menangani proses transaksi yang harus dilaksanakan saat rupiah merosot.

Pantaslah dari beberapa rezim telah berlalu tenang-tenang saja menyikapi fenomena melemahnya rupiah terhadap sejumlah mata uang asing terutama terhadap dollar AS yang menjadi rujukan utama nilai tukar transaksi dunia.

Kementerian Keuangan dan Kementerian Perekonomian tidak skeptis terhadap fenomena terpuruknya rupiah karena itu adalah hal yang biasa dan sedang terjadi negara lainnya. Entah lupa apa tidak sejumlah negara lain mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan atau tidak, nyatanya lembaga tersebut ringan saja menyatakan dampak tersebut akibat membaiknya perekonomian AS. Padahal, saat ekonomi AS sedang lesu beberapa bulan lalu, runtuhnya rupiah telah terjadi secara sistematis yang disebut dampak pengaruh global. Padahal penyebab dari dalam negeri TIDAK pernah disinggung, entah kenapa?

Bank Indoneisa, senantiasa memberi penilaian over convidience dalam setiap jenis laporannya dengan menuliskan resume di akhir kolom laporannya, “Masih dapat terkontrol,”atau “masih dapat diatasi” atau “Membaik atau tumbuh” dan sejumlah kLimt penilaian beraroma mirip bumbu penyedap rasa.

Bank Indonesia seperti BUMN lainnya kerap menerbitkan laporan yang tidak up todate. Angka pembanding tergolong kadaluarsa. Informasi transaksi tahun berjalan yang disampaikan tidak sampai pada kuartal tahun berjalan apalagi membandingkan dengan bulan ini (pada tahun berjalan). Padahal informasi itu disajikan di dalam situs dengan microsite khusus, Publikasi. Contohnya lihat di http://www.bi.go.id berikut ini :

Laporan yang diunduh pada hari ini (13/3/3015) tentang Perekonomian Indonesia yang dapat kita nikmati adalah performa Perekonomian 2013, itu pun disajikan pada 2 April 2014.

Hingga saat ini, sejak Desember 2013,  kita hanya dapat melihat performa perekonomian 2013, tak dapat melihat dengan pasti sejauh apa sudah pencapaian kinerja pemerintah (dalam hal ini Kemenkeu dan BI) mengelola perekonomian, keuangan dan moneter negara periode Desember 2014 apalagi dua bulan pertama 2015.

Apa sebetulnya yang terjadi? Apakah peralatan pengolah data di Kemenkeu dan BI kurang canggih atau tergolong kuno? Kenyatannya tidak!

Apakah SDM pengelolanya kehilangan improvisasi dalam mengkoordinasikan aneka penilaian ekonomi makro yang berkaitan dengan strategi dan rahasia negara menjadi sebuah laporan yang akurat? Ataukah memang begitulah budaya turun temurun dari sejumlah rezim yang telah menjadikan lembaga tersebut hanya sebagai sapi perah dan pemberi informasi pelipur lara untuk bangsanya sendiri?

Di sisi lain, memang disadari, permasalahan yang dihadapi pemerintah yang berkompeten pada bidang tersebut (pengelola perekonomian, keuangan dan moneter) sangatlah pelik sehingga TERPAKSA menyajikan informasi yang terbatas dan tidak konprehensif.

Berdasarkan penyikapan dan pernyataan adem ayem pemerintah di atas  tentu tidak salah MENDUGA kemungkinan adanya permainan Valas berjamaah oleh pemerintah melalui lembaga yang disebut di atas. Syukur sekali jika permainan itu menguntungkan posisi keuangan negara sebagaimana disebutkan oleh Kemenkeu, meski ia TIDAK menyatakan adanya permainan tersebut.

Kemungkinan besar rupiah akan terus terpuruk dan semakin terpuruk. Tak perduli pengusaha dan debitur yang menggunakan mata uang asing dalam perjanjian hutangnya kini harus menombok selisih kurs yang semakin membengkak dan mencekik leher.

Kini tak perlu kuatir lagi. Ada kemungkinan penggembosan rupiah akan dilakukan rame-rame dan lebih dahsyat lagi.

Apa tindakan nyata BI, Menkeu, Menteri Perekonomian dan pihak terkait lainnya menyikapi itu? Sekali lagi pasti tenang – tenang saja dan pernyataan optimistis dalam laporan yang terasaji untuk konsumsi publik.

Kita memang tidak ada pilihan maka tak perlu merasa kuatir, karena kita punya pemain valas ulung di lembaga resmi yang bekerja untuk itu. Dari balik layar, mereka telah memberi kontribusi positif bagi cadangan devisa negara. Setidaknya mereka telah berdedikasi menambah pemasukan ke kas negara. Hebat bukan?

Semoga nantinya tidak berdalih lagi, ketika ternyata buntung Hehehehehehe….

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s