Empat Tahun Perang Suriah, Refleksi Generasi yang Hilang

1426281402347760259

dailymail.co.uk

Siapakah pihak yang paling merasakan dampak negatif atas kekacauan di bumi Suriah selama kurun waktu empat tahun terakhir?

Pemerintah kah, Tentara, Pemberontak, Pebisnis ataukah negara asing termasuk tentara bayaran dan milisi asing? Ya, semuanya merasakan dampaknya, akan tetapi yang paling merasakan dampak serius adalah anak-anak seantero Suriah. Mereka tidak saja kehilangan orang terdekat di sekitarnya tempat mereka menggantungkan hidup dan perlindungan kasih sayang melainkan lebih menyedihkan adalah mereka kehilangan masa depan.

Penggunaan aneka senjata telah mengoyak masa depan mereka. Bom Cluster, Senjata Kimia, Rudal Scud, Bom bunuh diri, Barrel Bom, Bom Mortir hingga Bom Thermobaric (pembakar) menyertai tangisan dan lolongan mereka tidak kenal siang maupun malam.

Deretan tubuh mungil yang cantik dan tampan itu berjejer terbujur kaku bersimbah darah. Senyuman dari raut wajahnya meninggalkan pesan pada kita bahwa mereka tidak mengerti apa-apa. Sepotong  kalimat menhujam jantung kita dan menerjemahkan pesan mereka yang tertidur pulas, “Mengapa kalian memaksaku pergi selamanya dari tanah airku?”

Jumlah anak-anak Suriah yang tewas sejak awal meletusnya pergolakan Suriah pada 15/3/2011 lalu  hingga Maret 2015 mencapai  18242 anak. Sementara itu, warga sipil yang tewas mencapai 80 ribuan orang termasuk wanita 18.700 orang.

Prosentase jumlah kematian anak dan wanita disebutkan di atas mencapai 46% dari total kematian warga sipil. Sementara itu jumlah pengungsi anak-anak Suriah yang tersebar di sejumlah negara tetangga lebih dari setengah total pengungsi yang mencapai hampir 5 juta orang (versi PBB). Dengan demikian bisa terjadi sekitar 3 jutaan anak-anak yang terlantar dan tercabut dari rumahnya tempat mereka seharusnya merakit masa depan.

Di pengungsian lebanon dan Jordania saja jumlah pengungsi Suriah mencapai 2 juta orang. Jumlah pengungsi anak-anaknya mencapai setengah dari total pengungsi, kata Elizabeth, penulis di salah satu media sosial. Diantara mereka harus terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka di Lebanon tulisnya dihttp://mashable.com edisi 26/2/2015

Azzat, berusia 10 tahun berasal dari Deraa. Ia harus bekerja sebagai penyemir sepatu di kota Beirut, Lebanon demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Amal, berusia 6 tahun berasal dari Damaskus. Ia pun harus menjadi penjual roto di Beirut. Ia diwajibkan membawa pulang $6 setiap harinya, jika tidak ia tidak diizinkan kembali ke tempat pengungsiannya oleh keluarganya.

Eissa berusisa 9 tahun dari Hajjar al-Aswad. Ia pun tak luput harus berjualan kembang gula oleh keluarganya.

Masih banyak lagi peristiwa yang sama yang terjadi pada 2,5 anak-anak pengungsi Suriah yang tersebar di sejumlah negara. Mereka menanti kapankah tiba masa damai di negeri mereka agar mereka bisa pulang kembali ke kampung halamannya.

Kelihatannya mimpi mereka masih jauh dari harapan. Eskalasi pertikaian multi kompleks sangatlah krodit. Saling bunuh dan menebar kebencian dendam kesumat semakin menjadi-jadi. Pada tabel berikut ini dapat dilihat sejumlah indikator pertumbuhan dalam beberapa bidang peperangan Suriah, sebagai berikut :

142627104383252288

Sumber :Abanggeutanyo doc

Terlihat hampir semua indikator di atas mengalami peningkatan. Dari jumlah pengungsi hingga jumlah kematian pada seluruh komponen mengalami pertumbuhan. Bahkan laju kematian pada milisi pro pemerintah mengalami peningkatan 16 ribu kali lipat dari posisi tahun 2012 ketika penulis membuat resume refleksi 2 tahun perang Suriah, pada Kompasiana edisi 17 Maret 2013 di Sini

Dari tabel di atas memperlihatkan bahwa :

  • Total kematian di seluruh komponen hampir mencapai 300 ribu orang atau tumbuh hampir 3 kali lipat dari posisi sama pada 15 Maret 2013.
  • Jumlah pemberontak semakin bertambah hampir 3 kali lipat dari posisi Maret 2013. Di sisi lain, jumlah tentara Suriah semakin menyusut namun kualitasnya semakin membaik.
  • Jumlah tentara pemberontak yang tertangkap meningkat sangat signifikan, memperlihatkan bahwa kualitas tentara Suriah membaik. Di sisi lain, tertangkapnya pemberontak itu dapat juga terjadi karena menyerahkan diri.
  • Jumlah pengungsi semakin meningkat, memperlihatkan suasan damai yang didambakan ternyata semakin gerah dan mengganas.

Nasib pengungsi dan anak-anak pun semakin tak menentu akibat warning PBB melalui UNCHCR bahwa anggaran untuk pengungsi Suriah semakin menipis. Tak jelas apakah PBB mulai kehabisan dananya, yang jelas pada Desember 2014, mereka mengumumkan akan mengurangi bantuan untuk pengungsi Suriah.

“Ya kami telah mulai mengurangi bantuan dana bulan ini yang diberikan kepada 4.2 juta warga Suriah di negara tersebut,” kata Elisabeth Rasmusson direktur asisten eksekutif Program Pangan Dunia, pada Oktober 2014 lalu.

Kisah beratnya beban hidup anak-anak memang terjadi di mana-mana seperti juga di Indonesia. Yang membedakannya adalah ditengah keprihatinan tersebut mereka hidup dalam perang yang tak mengenal belas kasihan. Setiap orang ingin menyelamatkan diri, termasuk wanita dan anak-anak. Jika tidak masa depan mereka bukan saja buram akan tetapi bisa kehilangan waktu hidup untuk selama-lamanya.

Tidak terhitung berapa banyak anak-anak yang kehilangan orang tuanya sehingga terlunta-lunta dan terkapar mirip seonggok pengimis yang tertidur di sembarang tempat. Tidak ada yang melihat karena tidak ada yang dapat berbuat lebih banyak untuk itu karena sama-sama serba kekurangan dan serba membutuhkan perlindungan.

Jika demikian halnya, sangat disayangkan, sejumlah anak-anak tersebut akhirnya menjadi generasi yang hilang masa depannya. Di saat anak anak lain di belahan dunia ini menikmati hompila hompimpa bersama ayah bundanya sambil memeluk hangat, di sudut lain, jutaan anak-anak Suriah hanya memeluk kardus bahkan batu dijadikan penghangat tubuh mereka.

Tak jarang ditemukan mereka yang tertidur pulas itu ternyata tidak bangun-bangun lagi. Mereka telah pergi dengan satu tanda tanya dari sejumlah tubuh mungil terbujur kaku sebagaimana disebut di atas.

Hikmah refleksi empat tahun perang Suriah ini hendaknya memberi pelajaran bagi kita semua tentang mahalnya arti kedamaian. Oleh karenanya tetaplah kompak dan seia sekata dalam membangun bangsa dan negra kita. Dan sedapat-dapatnya mari sisihkan waktu sejenak buat mengenang saudara kita tanpa membedakan dari kalangan apapun mereka di Suriah.

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s