Ruki, Rupanya Kurang Impresif Buat KPK

1425521066587121096

Sumber: Tribunnews.com

Jam menunjukkan sekitar pukul 17.10, Menjelang persiapan acara Kompasiana TV penulis sudah hadir di depan layar kaca mengikuti siaran informasi Lintas Petang di Kompas TV pada tanggal 18 Pebruari 2015. Saat itu suasana seluruh stasiun telvisi lokal menayangkan berita tentang pemberhentian sementara ketua KPK Abraham Samad dan Bambang Widjojanto bersamaan dengan penunjukan Taufiquerachman Ruki sebagai Plt ketua KPK oleh Presiden Jokowi.

Presenter yang membawa acara tersebut (entah siapa namanya, yang jelas sangat cantik dan lugas) mendapat kesempatan mewawancarai (audio) jarak jauh Taufiquerachman Ruki yang berada di luar studio, seperti biasa bersemangat dan antusias.

Pembawa acara menyapa narasumbernya dengan hangat dan memberi apresiasi tanda ikut berbahagia. “Selamat sore pak Ruki. Anda telah ditunjuk oleh Presiden Jokowi menjadi ketua KPK yang baru. Selamat ya, pak.!”

Inilah jawaban Taufiquerahman yang menyentakkan saya hampir tidak percaya dengan ucapannya. “Bukan Selamat, tapi Musibah…” dengan suara berat, agak tinggi tapi tidak bersemangat.

Presenter sedikit grogi balik bertanya, “Loh, mengapa begitu pak, kan bapak sudah ditunjuk oleh Presiden mendapat kepercayaan untuk mengurusi KPK?”

Jawaban Ruki tidak fokus dan lari ke sejarah masa lalu. Terkesan ia telah duluan pesimis dan bernuansa menebar pesona mencari dukungan dari berbagai elemen meski di awal kalimat pembukannya merefleksikan ia tidak bersemangat mengurusi KPK.

Dalam beberapa kutipan yang masih penulis ingat dalam wawaancara tersebut ia juga menyampaikan posisinya bukan anggota parpol, sjuga bukan lawan untuk siapapun. Ia juga menjelaskan pernah berada pada posisi yang sama saat menjadi ketua KPK beberapa tahun silam. “Saya adalah ketua KPK jilid satu yang diminta kembali turun  untuk mengisi kekosongan KPK jilid tiga,” katanya.

Inti pesan yang TERSIRAT dari pernyataan Ruki dari wawancara tersebut adalah :

  1. Tidak bersemangat atau tidak antusias
  2. Tidak bernyali atau memilih jalur konservatif
  3. Jabatan sebagai ketua KPK adalah musibah
  4. Turun ke dalam tubuh KPK di jilid 3 artinya ia sudah pengalaman. Merasa mampu mengatasi masalah.  Akan tetapi di sisi lain pernyataannya di awal wawancara justru kontradiktif dengan sikapnya sebagaimana disebutkan pada urutan 1 sampai 3 di atas.

Bagi rekan pembaca budiman yang pernah mendengarkan wawancara tersebut dapat menambahkan sejumlah ekspresi yang memperlihatkan Ruki tidak ingin berada dalam lingkungan tersebut, paling tidak ia merasa tiak nyaman mengemban tugas tersebut, saat KPK sedang tidak kondusif.

Oleh karenanya TIDAK heran, apabila sejumlah analisa dan penilaian dari media massa dan media sosial kini bertubi-tubi mulai menyerang posisi Ruki dengan sejumlah pernyataan menjurus minor, Bahkan sejumlah pegawai KPK mulai kasak-kusuk dan gerah melihat arah sang legenda KPK ini terasa lain daripada yang lain.

  1. Sementara itu, dari media sosial dan media massa, sejumlah pernyataan yang mempertanyakan performa Ruki serasa menampar wajahnya diantaranya adalah :
  2. Romo Beni : Sikap Ruki, membuat hukum mati suri. (MetrotvNews 5/3/2015)
  3. KPK Belum aman, Kinerja Ruki Dipertanyakan. (citizendailynet 22/2/2015)
  4. Jatuhkan Moral Internal KPK, Ruki Dituntut Mundur (nasional rimanews,com 5/3/2015)
  5. Pegiat anti Korupsi Sulsel Kecam Pernyataan Ruki Soal KPK Kalah (Kompas.com 2/3/2015)
  6. Sikap Ruki Memalukan dan Menyakitkan (jakartagrater.com 5/3/2015) dan masih ratusan mungkin ribuan judul yang membombardir performa Ruki yang dianggap tidak kompatibel dengan semangat KPK yang didambakan oleh sebagian besar bangsa Indonesia.

Apa pendapat Ruki mengenai fenomena anti Ruki sebagaimana disebutkan dalam sejumlah media di atas?

Tidak ada beban. Benar baginya jabatan ketua KPK itu musibah. Dengarkan pendapatnya yang dikutip dari sejumlah media sebagai berikut : “Kalau Presiden menilai saya tidak firm (Inperforma -red,) saya dengan senang hati. Toh saya juga tidak mencari kerja,” ujar tokoh pejabat teras negara kini yang satu ini, sangaaaaat enteng.

Uniknya di sisi lain ia tidak dapat menyembunyikan hasratnya untuk berada dalam KPK. Misalnya dalam photo gambar dengan sejumlah komisooner KPK ia terkesan seperti orang tua terhadap anak anaknya menepuk pundaknya. Ia juga sering melakukan adegan salam tos, mirip salam anak-anak tanda kompak, dengan hom pila hom pimpa alaiom gambrengnya.

Saat memberi tanggapannya usai pegawai KPK menyampaikan petisi keberatan terhadap dirinya pada Presiden, secara implisit ia tidak menyangka jika anggota KPK -anak buahnya sendiri- melakukan penolakan atas dirinya. Ia malah terharu dan membandingkan KPK masa lalu -jilid 1 dalam istilahnya-  dengan kondisi  (jilid 3) saat ini, yang menurutnya adalah hasil jerih payah pembentukan KPK jilid 1, yaitu pada masanya menjabat ketua KPK (2003-2007).

Kita semua tahu, kebenaran dan kesalahan itu kadang relatif sifatnya. Dalam kaitan ini, meski sebagian kita melihat penistaan terhadap Ruki membahana di mana-mana tapi mungkin saja Ruki ada benarnya, makanya  ada saja pihak yang simpati dan menggantung harapan pada Ruki, misalnya Presiden Jokowi sendiri dan tim ahlinya.Entah Ruki yang salah atau gelombang preotes yang justru salah.

Di sisi lain, kini semakin banyak yang antipati padanya, ironisnya itu terjadi dari kalangan KPK sendiri. Bahkan dalam tampilan beberapa gambar komisioner lainnya yang menyertai tugas Ruki terlihat adegan-adegan yang bernuansa tidak bahagia.

Johan Budi misanya, sering mendapat jepretan wartawan sedang menunduk lesu ketika beradadi samping Ruki. Begitu juga Zulkarnaen, matanya menerawang saat bersama Ruki, entah memikirkan nasibnya dipanggil Polisi atau memikirkan bos barunya lain dari yang lain rasanya.

Melihat pada sejumlah fakta di atas mengenai munculnya opini hadirya sosok yang dianggap kontroversial dalam tubuh KPK, siapakah yang telah berjasa menetapkan Ruki pada posisi tersebut? Presidenkah,Wapreskah, Dewan pertimbangan Presidenkah, usulan DPR kah atau ada desakan khusus dari kekuatan tertentu mengajukannya sebagai jalur bebas hambatan menuju tercapainya impian “win-win solution” dalam menyikapi perseteruan KPK dan Polri?

Melihat kenyataan Ruki kini seperti ini, siapakah yang dahulu berada di balik penunjukan atas dirinya dengan menggadang-gadang sejuta impian? Hayo angkat jari telunjuknya, hehehehhe.

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s