Anitisipasi Sabotase Napi Australia, Indonesia Siap Siaga

Bayangkan, 250 polisi dilibatkan untuk proses eksekusi dua terpidana mati Australia yang kemungkinan akan dilaksanakan Minggu dini hari. Jumlah tersebut terdiri dari 120 regu tembak dan 130 pelindung. Di luar itu, ratusan TNI juga disiapkan bersiaga mulai dari perairan Pulau Nusakembangan terutama di dermaga Sodong Nusakembangan, bandara Tanggul Wulung Cilacap sampai dermaga Wijayapura,Cilacap, Jawa Tengah..

Sejumlah kapal TNI AL meningkatkan intensitas patroli sejak 24 Februari 2015 lalu. Selain itu, dua unit pesawat tempur mutakhir Sukhoi, SU 30 dan F-16 mengawal perjalanan pesawat  Wings Air dari Bali ke Tunggul Wulung, Cilacap. Di dalam pesawat, 20 petugas keamanan dari satuan Brimob menyertai ke dua terpidana mati tersebut.

Di sudut lain, PM Australia Tony Abbot masih meluncurkan dadu dominonya mengharapkan munculnya keberuntungan melalui sejumlah usaha berikut :

  • Mengirimkan tim lobi khusus seperti yang terjadi pada pembebasan ratu narkoba Australia, Corby melalui sejumlah pendekatan intensif sejak 2006, misalnya pengacara HAM dari Melbourne, Julia McMahon yang mencoba melakukan banding melalui Mahkamah Agung.
  • Menghubungi telepon langsung Presiden Jokowi membicarakan hal hal yang dapat didiskusikan.
  • Menawarkan barter dengan tiga tahanan Indonesia
  • Mencoba sentuhan kemanusiaan melalui memory bencana tsunami Aceh 10 tahun silam
  • Mengadakan rapat-rapat koordinasi internal dalam pemerintahan Abbot guna mencari solusi yang tepat sasaran meski bernilai amat mahal sekalipun.
  • Agen perjalanan Australia sepakat memboikot perjalanan wisata ke Bali. Sejumlah kampanye boikot Bali disosialiasikan ke media massa misalnnya di Tweeter dengan hastag BoicottBali.

Ada apa dan mengapa intensitas pengamanan terhadap terpidana mati dedengkot Bali Nine demikian luas biasa? Apakah ini hal yang biasa, rutin, wajar atau sebaliknya?

Seratus dua puluh personil regu tembak akan memuntahkan pelurunya seketika secara serentak, untuk menghindari gugatan tentang proses kematian terpidana tersebut dituduh berlangusng pelan-pelan, relatif lama dan tidak dijalankan sesuai prinsip kemanusiaan.

Seratus tiga puluh orang polisi pelindung di sekitar lokasi eksekusi bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja. Pasti ada potensi paling berbahaya di dalamnya. Oleh karena tindakan prefentif aktif sangat diperlukan meski menggelar petugas keamanan dalam jumlah besar itu jelas menyedot anggaran biaya sangat besar.

Pengamanan dan patroli di sejumlah tempat disebutkan di atas bukan sekadar gagah-gagahan dan membesar-besarkan masalah apalagi menghabiskan biaya teramat besar. Pelaksanaan patroli dan pengamanan ke dua terpidana mati tersebut telah mendapat masukan positif mengenai adanya upaya untuk menggagalkan proses pengiriman kedua terpidana bahkan menggagalkan eksekusi tersebut.

Hal ini sesuai dengan penjelasan juru bicara TNI, Mayjen Mucahmmad Fuad Basya kepada pers pada 26 Februari 2015. Juru bicara TNI Mayor Jenderal Mochamad Fuad Basya mengatakan persiapan itu dilakukan lantaran institusinya MENDAPAT INFORMASI akan ada pihak yang berupaya menjegal pelaksanaan eksekusi mati gelombang kedua. “Ini demi kedaulatan negara, kami berusaha mengawal agar eksekusi berjalan lancar,” kata Fuad.

Penekanan pada kalimat “MENDAPAT INFORMASI” yang ditulis di atas artinya intelijen nasional (BIN) maupun Intelijen TNI mendapat informasi positif dan layak bahwa sejumlah kegiatan rahasia telah dirancang untuk pembebasan ke dua napi tersebut.

Potensi terjadinya operasi penyelematan terhadap ke dua napi tersebut tergantung pada sejauh apa tingkat kewaspadaan dan antisipasi yang diterapkan oleh pihak keamanan dan pemerintah Indonesia. Jika dinilai lemah dan mencapat celah, maka proses penyelamatan tersebut dapat dilaksanakan oleh tim penyelamat Australia.

Meski demikian, dapat saja terjadi target minimal yang diterapkan adalah, apabila proses penyelamatan gagal maka tindakan yang dijalankan adalah mengacaukan proses pelaksanaan ekseksui tersebut, meski menimbulkan korban jiwa di kedua belah pihak.

Siapakah tim penyelamat yang kemungkinan akan bergerak sebagaimana indikasi yang disebutkan oleh jurubicara TNI di atas? Mereka yang diantasipasi tersebut bisa saja dari kelompok jaringan mafia narkoba internasional. Bisa juga Gengster dari sejumlah negara yang menjadi korban eksekusi (Brazil, Australia, Perancis, Belanda, Filipina, Nigeria, Ghana dan lainnya). Atau bisa juga petugas khusus Australia yang disusupkan ke Indonesia dengan metode penyelamatan gerak cepat sekelas SASR (Australian Special Air Service Regiment).

Kita ambil contoh, Resimen SAS Australia memang tugas utamanya adalah mengkonter terorisme dan pemulihan keamanan dlam negeri, tapi resimen ini sering diterjunkan ke luar negeri. SASR pernah terlibat dalam penyusupan di Indonesia, tepatnya di pedalaman Kalimantan saat Australia membantu Malaysia dalam konfrontasi dengan Indonesia. Australia memberi sandi Operasi Claret pada misi tersebut. Dalam operasi itu, SASR hanya kehilangan 2 persobil, sayangnya korban TNI mencapai 20 orang dalam catatan SASR.

Reputasi lainnya SASR terlibat dalam beberapa tugas di Afganistan, Somalia, Vietnam, Irak, Kamboja, Kuwait dan Timor Timur sebagai pasukan yang terlibat langsung sebagai pendukung daya gempur sekutu.

Unit pasukan khusus andalan AD Australia ini memiliki akses perintah langsung dari Komando Operasi Khusus. Bertugas memberikan kemampuan khusus operasi untuk mendukung pasukan pertahanan Australia dalam misi khusus dan tugas strategis sensitif. Kemampuan intelijennya menjadi terandal di Australia.

Jadi bukan tidak mungkin hal itu terulang kembali dengan peralatan dan sistem yang lebih memadai dibanding peristiwa sama 49 tahun silam meski jenis misi dan tujuannya berbeda

Meski demikian halnya, JANGAN terburu-buru mengartikan akan terjadi perang antara Indonesia dengan  Australia akibat mahalnya harga kedua napi tersebut. Jika karena ini akar masalahnya tipis terjadi eskalasi dan konflik militer ke dua negara meskipun penyusupan penyelamatan itu berakhir sukses atau gagal.

Secara logika tidak cukup alasan untuk berperang karena masalah ini, karena bisa saja Ausrtalia melakukan pembalasan pada tahanan Indonesia yang tertangkap melakukan kesalahan fatal dalam hukum Australia walaupun bukan hukuman mati.

Alasannya lainnya, proses penangkapan kelompok Bali Nine, termasuk ke dua sisa dedengkot di atas sebetulnya juga akibat bocoran yang disampaikan oleh polisi Australia kepada polisi Indonesia ketika sekelompok tim Bali Nine akan berangkat menuju Sydey pada 17 April 2005.

Informasi tersebut terlontar dari pernyataan orang tua dari ke dua terpidana kelompok Bali Nine lainnya, yaitu orang tua dari Scott Rush dan Renae Lawrance yang menuduh polisi federal Australia telah mengetahui hal tersebut beberapa minggu sebelum mereka berangkat ke Bali dan membocorkan hal tersebut kepada Polri karena hukum di Australia tidak berpeluang membuat jaringan Narkoba jera akibat tidak berlakunya hukuman mati.

Pemerintah Australia memilih negara yang menerapkan hukuman mati untuk menangkap mereka, karena jika tertangkap di Australia mereka akan lolos dari hukuman tersebut karena Australia tidak menganut jenis hukuman mati.

Australia seperti menyesal dan berusaha mendapatkan mereka kembali dengan berbagai cara sebagaimana disebut di atas mesku penuh risiko. Akan tetapi andai kata itu terjadi (terlaksana atau tidak) hal tersebut TIDAK AKAN menimbulkan perang antara ke dua negara.

Dari satu sisi kita kasihan terhadap dua terpidana mati warga Australia itu. Naluri kita menyentuh sensor manusiawi setidaknya tidak diterapkan hukuman tembak mati, namun satu sisi lagi hukum harus ditegakkan agar membuat jera pelaku yang merusak ratusan juta generasi penerus bangsa ini.

Oleh karenanya, upaya siap siaga atau prefentif aktif ini memang perlu, paling tidak jangan sampai kecolongan dua kali dan menampar wajah bangsa dan kita. Jangan sampai kecolongan dua kali, hehehehehe..

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s