Tony Abbot, Kami Kembalikan Uang Anda atau Jadilah Diplomat Sejati

http://www.freecurrencyrates.com/exchange-rate-history/AUD-IDR/2005

Jika sebuah pernyataan kasar disampaikan oleh rakyat biasa mungkin kurang bermakna meski berbalut emosional. Orang paling menilai, irasional dan setengah stres. Tapi menjadi lain jika pernyataan itu keluar dari mulut pejabat negara, pablik figur, terlebih lagi oleh pejabat tinggi negara lain, bisa runyam rasanya.

Tanpa bermaksud ikut emosional seperti PM Australia Tony Abbot yang mungkin tidak bermaksud merendahkan alam pikirannya sendiri dalam menangani pembelaan kasus hukuman mati terhadap dua warganya, berikut ada baiknya menimbang “sisi lain” yang pantas diketahui oleh PM Tony Abbot jika rakyat Aceh saat ini secara simbolis “mengembalikan” bantuan Australia sebesar 850 juta dollar Australia (AUD).

Beberapa hal yang perlu dijadikan bahan pertimbangan adalah :

  • Bantuan yang diberikan kepada Indonesia, khususnya untuk Aceh pada saat itu BUKAN patokan (besaran) yang diminta oleh Aceh atau pemerintah Indonesia. Australia –pada saat itu– atas dasar nurani kemanusiaan membantu (katanya) 1 miliar AUD, tapi menurut catatan BRR sebesar 850 juta AUD.
  • Mengaitkan masalah pembelaan terhadap dua warganya yang terancam hukuman mati dengan mengkonversikan dengan sejumlah bantuan kemanusiaan atas peristiwa Tsunami tersebut di atas jelas tidak mempunyai korelasi dan akal sehat. Siapapun di atas muka bumi ini kapitalis sejatipun tak akan mengaitkan antara bantuan kemanusiaan dengan kepentingan lainnya kecuali lintah darat asli penghisap darah yang berkeliaran di desa-desa menyedot keuangan warga desa yang meminta bantuan dari rentenir atau ijon.
  • Pemerintah Indonesia pernah mengabulkan permintaan Australia dengan melepas tahanan ratu narkoba asal Australia, Sherny Corby pada 2014 lalu. Alasan kemanusiaan mempengaruhi pemerintah Indonesia dalam menjalankan pengecualian pemberlakuan hukum terhadap terpidana kasus narkoba Schapelle Leigh Corby pada 10 Februari 2014 lalu.
  • Setiap negara diwajibkan menghormati aturan dan peraturan hukum yang berlaku di negara lain, Memang ada pengecualian kebal hukum terhadap diplomat negara lain akan tetapi secara keseluruhan wajib menghormati hukum yang berlaku di sebuah negara.
  • Indonesia menghargai Australia sebagai sahabat, negara yang berdaulat meski selalu dihantui bayang-bayang jahil Australia dalam beberapa hal, misalnya penyadapan terhadap komputer dan telepon Presiden SBY. Belum lagi satelit mata-mata yang ditempatkan di Pulau Christmas (Pulau Natal) pulau terluar Australia yang paling dekat dengan Indonesia yakni 510 km (311 mil pantai) dari Jakarta  atau 2600 km atau 1600 mil dari Perth  senantiasa merekam dengan jelas dan detail seluruh informasi yang diinginkan kepentingan intelijen Australia terhadap Indonesia.
  • Sejumlah kapal nelayan bernasib malang, hancur berkeping ditengah laut akibat hanyut ke perairan Australia. Sebagian menemui ajalnya. sebagian lagi ditahan di daratan Australia. Mau pulang ke tanah ait, sejumlah keluarga nelayan kirim uang untuk ongkos pulan gsaudara mereka ke pihak yang mengurusi nelayan malang tersebut.

Mister Tony Abbot yang kami hormati…

Adakah pemerintah Indonesia ikut campur tangan, menghiba dan merengek-rengek seperti anak kecil yang menuntut permen jika tidak diberikan?

Mungkin persoalannya lain, tak bisa dikonversi antara anak kecil peminta permen dengan masalah nyawa dua warga Austalia tersebut.

Jika tidak sebanding maka sama halnya tidak tepat mengkonversikan bantuan kemanusiaan yang lalu itu dengan mengaitkannya dengan proses penegakan hukum di Indonesia. Selayaknya Australia yang beberapa langkah lebih maju di segala bidang dari Indonesia menjadi guru dan contoh teladan bagi Indonesia dalam penegakan hukum.

Belum lagi Indonesia selama ini sangat bersahabat dengan Australia sampai mencetak uang pecahan 100.000 rupiah pun dipercayakan pada perusahaan Australia pada 1999. Kabarnya perusahaan Note Printing Australia (NPA) membuat Indonesia kebobolan dua kali akibat pemakaian bahan yang berkualitas rendah dan sialnya jumlah cetakannya melebihi kesepakatan.

Bukankah semua itu tanda wujud saling ketergantungan, persahabatan dan penghormatan sejati Indonesia utuk Australia, Mister Abbot? Lalu mengapa politikus sekelas Anda bisa berpikir“jauh” seperti itu sampai tak sanggup kami kalkulasikan? Mungkin Anda tidak bermaksud seperti itu dan tidak berniat mengusik harga diri orang (bangsa) lain melalui penjelasan kalimat bersayap dan diplomatis ciri khas politkus kaliber kakap seperti Anda.

Peristiwa Tsunami itu BUKAN keinginan kami dan kami tidak mengerti tentang hal itu sebelumnya, mungkin juga sebagian bangsa dan negara lain di muka bumi belum mengenal secara detaik wujud Tsunami seperti apa. Meski kami menjadi korban keganasan Tsunami, paling tidak di seluruh dunia dapat belajar dari pengalaman pahit yang kami rasakan, termasuk Anda, keluarga anda dan seluruh bangsa Australia yang kami kenal dari dahulu bangsa yang cinta damai, sedikit tidaknya belajar mendalami peristiwa yang terjadi pada kami, bukan?

Jika anda tetap bermaksud seperti itu juga, kami yang harus menanggungnya, karena (mungkin) Pemerintah Indonesia akan tetap teguh pendiriannya menjalankan ekseskusi terhadap dua warga anda dan Anda melupakan seluruh rangkaian hubungan baik dan beberapa contoh sikap persahabatan sejati yang pernah kami berikan seperti contoh di atas.

Mengacu pada nilai bantuan yang kami terima secara nyata sebesar 850 juta  AUD (bukan 1 miliar AUD) dan dikonversikan dengan kurs yang berlaku setelah Tsunami (katakan Januari 2005) sebesar Rp 6.947 per AUD  ( perbandingan 1 IDR = 0.0001 AUD).

Artinya kami mendapat bantuan senilai Rp 5,9 trliun dalam koversi mata uang kami atau setara dengan 850 juta AUD yang negara anda berikan pada masa itu.


Bagaimana kami membayarnya?

Berdasarkan jumlah warga Aceh pada Oktober 2013 sebanyak 4,7 juta jiwa (sumber :http://aceh.bps.go.id) golongan usia produktif 20 – 49 tahun sebanyak 2,44 juta jiwa maka setiap usia tersebut hanya menyumbang Rp 2,4 juta saja.

Mungkin terasa berat bagi kami mengumpulkan setiap orang untuk mencapai nilai tersebut, tapi kami punya reputasi mampu berdikari dan mampu mengatasi masalah ketika kami ingin mendapatkannya. Apalagi jika niat kami ini akan dibantu oleh Pemerintah Indonesia atau saudara kami lainnya yang sepaham dalam hal ini di seluruh tanah air Indonesia. Anda tahu berapa besar nilainya?  “Hanya memerlukan Rp.2000 saja per orang mister Abbot..!”

Jadi tak ada yang tak mungkin untuk mengembalikan dana tersebut. Tapi apakah hal itu akan menyelesaikan masalah dan menyisakan bekas positif bagi bangsa kami dan Australia?

Kami percaya, Anda tentu tidak  berharap hal itu, bukan?

Sebaiknya Anda menyesali hal tersebut seperti Anda pernah menyesali intelijen anda pernah menyadap telepon mantan presiden kami (SBY) beberapa waktu lalu, tanpa bermaksud menekan alanglah bijaksananya Anda sampaikan terbuka pada publik.

Dan jika anda tidak menginginkan hal tersebut sebaiknya anda berguru ke Perancis. Lihat dan dengarkan apa pendapat Presiden Hollande ketika negara negara Arab mendesak Perancis untuk melonggarkan peraturan berhijab pada wanita muslim di Perancis. Dengarkan apa jawabnya :

“Anda adalah sahabat kami, akan tetapi di negara kami mempunyai hukum dan aturan yang mengharuskan setiap orang menghormatinya termasuk negara sahabat kami.”

Kami menyadari banyak sekali warga kami yang menetap di Australia menyandarkan harapan besar pada negara Anda, seperti juga kami di sini. Sebagai sahabat dekat sewajarnya memperlihatkan juga sikap bersahabat dan sebagai negarawan sejati paling bermutu tinggi di Australia.

Atau biarkanlah kami dengan bersusah payah menggantikannya. Meski kami juga memiliki pemodal yang mapan, biarkan kami memecahkan tabungan dari celengan kami atau dari bawah bantal atau kasur kami demi melunasi bantuan yang pernah anda berikan.

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s