Di Balik Senyuman Jokowi Jilid 1, Pertarungan Sengit di Batavia

Tulisan ini adalah tulisan penulis pada 14 Agusutus 2012 lalu di sebuah media sosial (Kompasiana). Tulisan yang menyororti tentang pesan psikologis Jokowi yang saat itu bertarung pada perebutan Gubernur DKI Jakarta melawana Fauzi “Foke” Bowo itu mengirim pesan mendalam melalui senyuman Jokowi.

Pesan dan senyum yang telah membuktikan dirinya menjadi Gubernur DKI saat itu (sebelum menjadi Presiden RI) menarik kita simak kembali sekadar mengaitkan dengan sejumlah senyum-senyum Jokowi pada masa kini ketika menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Kisah dibalik perjuangan merebut DKI-1 dahulu menjadi pengalaman menarik untuk menjadi Presiden RI. Bagaimana Jokowi mengirim pesan kepada pesaingnya, simak pesan lawas namun tetap anyer berikut ini.

==============================================

Sudah lihat senyuman calon gubernur DKI Jokowi baru-baru ini setelah kubu Foke terpeleset lagi saat menyatakan issue kontra produktif terhadap kelangsungan atau eksistensi Foke menjabat gubernur DKI untuk ke dua kali? Jika belum cobalah sejenak mencari gambarnya tentang senyuman penuh arti tersebut.

Senyuman Jokowi itu mencuat bukanlah karena -kabarnya– akan dipinang oleh Prabowo untuk maju ke calon wapres pemilu 2014, juga bukan karena mendapat sokongan ibu Megawati secara berapi-api. Senyuman Jokowi itu muncul hanya untuk menanggapi keseleonya lidah kubu Foke saja dalam beberapa kasus terakhir.

Senyuman itu mengandung pesan penting untuk warga pemilih di DKI. Itu adalah sebuah pesan yang edukatif karena -biasanya- hanya dapat dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya tatkala mendengar seorang anaknya berkelakukan nakal atau kekanakan.

Mengapa saya mempunyai kesimpulan seperti itu setelah melihat senyuman Jokowi itu? Karena dibalik senyuman itu  juga menyimpulkan Jokowi telah tiba pada ambang batas psikologisnya yaitu memberi tanda-tanda kepada kubu Foke  agar cagub DKI (Incumbent) Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli  itu lebih baik menyerah saja.

Berlebihankah Jokowi? Joko tak salah, sumber kepercayaannya antara lain terletak pada beberapa taktik keliru tim sukeses di kubu Foke sendiri yang telah menjadi bumerang bagi Foke sendiri. Beberapa bumerang penyebab “terhentinya” langkah Foke itu antara lain dapat dilihat pada sejumlah kasus demi kasus berikut ini  :

  1. Pemilu kepala daerah bukan pemilu di lembaga legislatif yang diwakili oleh partai-partai. Sehebat dan secanggih apapun calon (Gubernur) diusung oleh partai politik (Parpol) BELUM TENTU akan meloloskan sang jagoan. Apa lagi Foke-Nara dijagokan oleh salah satu parpolyang sedang menjadi sorotan masyarakat akibat gaya Utopia politkusnya sehingga menuai cibiran panjang masyarakat dan mulai tertawa lebar melihat kelucuan partai itu. Bumerang Foke di sini adalah, kubu Foke menerima partai full utopia tersebut sehingga makin membuat kubu Foke terseok-seok ditinggal pemilihnya nanti.
  2. Beberapa kali tim sukses Foke-Nara dibenturkan oleh issue SARA yang menuai banyak kritikan pedas. Issue SARA sudah  tidak poluler lagi pada masyarakat-masyarakat yang lebih maju dan pragmatis sekarang ini di beberapa provinsi apalagi di  kota maju seperti Jakarta. Beberapa kali “tim ahli” yang digunakan oleh tim sukses Foke-Nara tak mampu membendung perasaan dan logikanya sehingga mencipatakan kondisi yang justru kontra produktif terhadap esistensi Foke menjabat gubernur DKI untuk periode ke dua.
  3. Strategi menjaring golput tak akan efektif dengan pendekatan mendadak. Golput adalah golongan yang sudah mati rasa dan apatis akibat frustrasi teramat panjang dan tak mungkin dapat diobati secara instan memilih calon atau jagoan tertentu.
  4. Strategi menyedot suara dari kubu suara empat kandidat lainnya yang telah duluan berguguruan pada pemilu putaran pertama juga tak akan membawa hasil karena justru para calon-calon gubernur yang telah berguguran lainnya punya semangat menggoyang Gubernur Incumbent yang dinilai tidak mampu mengatasi penderitaan Jakarta secara optimal. Sudah otomatis para calon dan para pengurusnya akan memiliki penilaian istimewa terhadap kandidat yang memiliki sikap manis low profile tapi cerdas dalam berpolitik dan bermanuver.
  5. Menciptakan pemilih tambahan tidak akan cukup signifikan menambah suara, karena jika pemilih tambahan itu prosentasenya mencapai angka yang fantastis tentu akan menimbulkan reaksi masyarakat dan protes ke Panwaslu, siapa yang mendtangkan  pemilih baru dari negeri siluman itu?
  6. Pada saat digelar digelar Sidang Paripurna Istimewa DPRD DKI pada Juni lalu (24/6),  ke enam calon gubernur telah menyampaikan visi misi masing-masing yang menjadi skala prioritas nomor satu (Number One) jika terpilih nanti. Lihatlah pandangan yang sangat kontras antara keduanya dalam melihat persoalan apa yang paling utama untuk DKI, yaitu :
    • Fauzi Bowo (Foke) memiliki program skala prioritas paling utama adalah : SEKOLAH GRATIS. Sesuatu yang tak mungkin ada selain gratis jadi-jadian atau asal-asalan.
    • Joko Widodo (Jokowi) memiiliki program skala prioritas menciptakan DKI yang lebih modern dan nyaman.

Kini, terlihat Jokowi menikmati seluruh bentuk manuver kubu Foke. Apapun yang dilakukan oleh Foke yang berapi-api ditanggapi adem ayem saja oleh kubu Jokowi, seolah Jokowi mengirim pesan kepada warga “lihatlah apa yang dilakukan oleh Nya..?” sambil tersenyum simpul.

Pesannya itu sederhana saja. Tapi yang luar biasa adalah senyumannya. Ada apa dibalik senyuman Jokowi yang kelihatannya sudah tak sabar lagi menanti datangnya hari penentuan itu? Apakah Jokowi ingin mengatakan “Menyerah sajalah Foke. Menghabisi energi saja…

Bagi saya sendiri mantan warga DKI sebetulnya siapa pun yang jadi Gubernur DKI hanya titip pesan, kelolah DKI Jakarta itu dengan sebenar-benarnya pengelolaan ibukota yang nyaman untuk dihuni. Jangan jadikan Jakarta sebagai kampung terluas di dunia. Sebagai mantan warga DKI saya merasa tidak nyaman lagi berada di DKI yang banyak diprediksikan para ahli akan menjadi kota penuh masalah jika tidak disikapi penanganannya secara tegas dan terpadu dari sekarang.

Kita akui tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang mengecewakan seluruhnya selama kepemimpinan Foke. Banyak sudah yang dilakukan oleh gubernur Foke untuk DKI, akan tetapi DKI memerlukan pembenahan segera sebelum terancam “tenggelam” dalam masalahnya sesuai prediski para ahli yang telah kita dengar  atau baca dari berbagai media massa.

Lantas, apakah kubu Foke akan geram membaca senyuman Jokowi atau tulisan ini? Tentu bukan itu yang kita harapkan pada kubu Foke. Yang kita minta adalah Foke harus baca tanda-tanda tersebut dan berbenah sebelum terlambat.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s