Ruang Udara Kita Banyak Penyusupan Black Flight

14151038941498102421

Pesawat jet jenis Gulf Stream HZ-103 milik Saudi Arabian Airlines dipaksa turun oleh dua unit Sukhoi di Bandara El Tari. Nampak para pilot dan kru pesawat sementara diamankan, Senin (3/11/2014). (Kompas.com/Sigiranus Marutho Bere)

Soal cegat-mencegat pesawat asing yang melintasi sebuah negara tanpa izin adalah hal yang biasa. Di mana pun di seluruh dunia yang telah memiliki sistem pertahanan udara terintegrasi serta memiliki landasan hukumnya pasti akan melakukan pencegatan dan pemaksaan turun atau keluar dari area terlarang jika ruang udaranya dilalui pihak asing tanpa izin.

AS dan Rusia pun kerap dilanda persoalan cegat-mencegat penyusupan area wilayah udaranya. Salah satu kasus terjadi pada 20 September 2014 ketika 6 pesawat tempur Rusia melintas Alaska dalam ruang AS dan Kanada. Empat F-22 AS dan Kanada kemudian mengarahkan konvoi tersebut menjauhi wilayah Alaska tanpa insiden.

Peristiwa terkini, pada 30 Oktober 2014, dua Thypoon RAF Inggris menuntun dua Tupelov, TU-95 bomber Rusia keluar dari udara Inggris di Laut Utara.

Di Tanah Air, peristiwa masuknya pesawat asing (komersial atau militer) secara ilegal di atas wilayah udara Indonesia semakin menantang dan menjadi-jadi.

Semakin menantang karena dalam proses pengusiran atau pemaksaan mendarat terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi menjurus melarikan diri yang dapat memancing penembakan terhadap pesawat yang dianggap asing atau ilegal.

Semakin menjadi-jadi karena peristiwanya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ambil saja peristiwa dari 2006, stasisun radar mengirim laporan sasaran tak dikenal (Lasa X) sebanyak 18 kali. Setelah itu, pada 2007 lasa x atas obyek penerbangan tidak dikenal meningkat menjadi 23 kali. Pada 2008 kasusnya menjadi 28 kali. Berikutnya pada 2009 menurun sedikit menjadi 15 kali dan pada 2010 turun lagi menjadi 8 kali.

Sejak 2011 hingga 2013 terjadi banyak sekali kasus pelanggaran wilayah udara kita oleh pesawat komersial atau militer asing baik yang mengancam zona larangan maupun yang tidak teridentifikasi (Black Flight)  yang  mulai memancing perhatian serirus dengan meningkatkan kemampuan sistem informasi dan pertahanan udara.

Menjaga wilayah teritorial negara termasuk laut dan udara menjadi simbol eksistensi setiap negara sekaligus jati diri yang dilindungi oleh undang-undang internasional maupun nasional. Sebut saja UNCLOS 1982 yang telah diratifikasi oleh berbagai negara termasuk Indonesia serta sejumlah peraturan pemerintah yang memberi batasan sangat jelas mengenai hak dan kewajiban TNI untuk mengamankan ruang udara Indonesia, misalnya pada pasal 10  UU nomor 34 tahun 2004.

Dalam proses tersebut pernah hampir menjadi malapetaka tim pemburu kita ketika F-16 TNI AU mengindentifikasi F-18 Hornet AS di atas perairan Laut Jawa pada 3 Juli 2003 lalu. Pesawat kita di-lock, lalu diancam tembak jika mencoba mengindentifikasi dan disuruh pergi setelah mendapat penjelasan bahwa mereka adalah armada US Navy dan telah mendapat izin melintasi udara Indonesia.

Kini, peristiwa masuknya pesawat asing ke ruang udara kita pada 2014 semakin menjadi-jadi. Kondisi ini memancing perhatian kita untuk menganalisis apa sebetulnya yang terjadi di balik peristiwa yang kesannya menyepelekan jati diri negara kita.

Tercatat sejak 2014 terjadi empat kali penyusupan pesawat asing yang dipaksa mendarat di sejumlah lapangan udara di Tanah Air, yaitu:

  • Pada 14 April 2014 ketika 2 F-16 TNI AU mencegat dan memaksa mendarat (force down) pesawat asing milik penerbang Swiss,  Heins Pieier di Medan, Sumatera Utara. Setelah melengkapi dokumennya pesawat tersebut diizinkan kembali terbang.
  • Kemudian, pada 22 Oktober 2014, pesawat Cessna Beecraft milik Australia yang dipiloti oleh Jacklin Graeme Paul dan kokpit Maclean Richard Wayne dipaksa mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Penyergapan yang tergolong dramatis tersebut nyaris menimbulkan tragedi penerbangan akibat pilot Australia memperlihatkan keegoannya dengan menolak mendarat beberapa kali karena merasa telah mendapat persetujuan/izin melintasi wilayah kita dari Filipina menuju Darwin.
  • Selanjutnya pada 28 Oktober 2014, giliran pesawat latih Cessna milik Singapoea yang dijepit Sukhoi dan dipaksa mendarat di Bandara Supadio, Pontianak akibat melanggar wilayah udara Indonesia. Pilot Tan Chin Kian yang katanya sebagai pelatih sedang menuntun pilot muda masih amatiran beralasan tidak menduga melewati batas Indonesia. Setelah ditahan, ketiganya menginap di sebuah hotel mewah di Pontianak dan keesokan harinya dilepas kembali setelah dokumen izin dilengkapi.
  • Selang berapa hari kemudian, pada 3 November 2014, TNI AU kembali melakukan intercept (penyergapan) terhadap pesawat komersial jenis Gulfstream IV bernomor HZ-103  milik Arab Saudi. Ketujuh awak termasuk pilot masih dalam penyelidikan saat ini. Bisa ditebak, mereka pasti akan memberi alasan telah mendapat izin dan setelah menginap dan mengurus dokumen izin terbang akan segera dilepas kembali.

Atas sejumlah fenomena di atas, sejumlah pengamat menduga pihak asing sedang menguji sistem pertahanan udara kita? Padahal dalam beberapa kasus pada tahun sebelumnya “ujian” kerap dilakukan -7 H sebelum 5 Oktober (HUT TNI) dan -7 H sebelum 9 April (HUT TNI AU). Alasannya, pada saat itu perhatian dan perlengkapan difokuskan untuk perlehatan akbar kedua acara tersebut sehingga memancing penyusup melintasi ruang udara dari sisi yang rawan pengamatan radar (GCI) di berbagai Kosek Hanudnas.

Menurut hemat penulis, maraknya aktivitas penyusupan pihak asing yang berhasil dideteksi radar GCI akhir-akhir ini TIDAK sekadar uji coba kesiapan sistem pertahanan dan informasi udara kita, melainkan ada motif terselubung di dalamnya.

Kita mudah menebak hal itu mengacu pada contoh kasus yang sekarang intens dilakukan angkatan udara Rusia yang semakin meningkatkan penyusupan ke dalam wilayah udara NATO dengan berbagai alasan dan tujuan, salah satunya adalah provokasi dan membangkitkan kembali program Perang Dingin tahap II.

Pesawat NATO atau negara yang dilintasi penyusup tersebut memperlakukan dengan dewasa sang penyusup untuk pergi dari wilayahnya. Meski sangat kontras dengan cara kita menangani persoalan tersebut –terkesan berlebihan dengan aksi sniper bertiarap di landasan dan lainnya- kita memandang serius penyusupan tersebut melukai jati diri bangsa dan negara kita diperlakukan semena-mena seolah-olah ruang udara gratis tak bertuan dan dapat melaksanakan aktivitas apa saja mencuri data dan informasi yang diinginkan penyusup.

Benang Merah atas fenomena di atas adalah, mengapa peristiwa dan intensitasnya semakin menjadi-jadi?

Mengacu pada fakta di atas, sejumlah alasan dan jawaban penyusup yang perlu dikembangkan lebih lanjut informasinya adalah:

  1. Pengembangan lebih detail dan mendalam, siapa sesungguhnya kapten pilot yang mengawaki pesawat penyusup tersebut. Jika ada penumpangnya, dapat dipelajari lebih mendetail siapa sesungguhnya penumpang dalam pesawat tersebut. Tidak tertutup kemungkinan para awak dan pilot adalah spionase yang bertugas memeta dan mengambil data informasi beberapa obyek untuk ditindaklanjuti dalam aktivitas berikutnya.
  1. Mengapa setiap kali proses penangkapan kita menemukan jawaban “telah mendapat persetujuan melintas” atau “kami tidak menduga telah berada dalam batas ruang udara Indonesia”. Apakah pilot dan pesawat-pesawat yang digunakan itu model pesawat tempo doeloe yang tidak dilengkapi sistem informasi dan navigasi modern? Tak masuk akal rasanya jawaban klasik di jaman teknologi sekarang ini.

Berkaitan dengan hal pertama di atas, kelihatannya ada “Lubang Hitam” yang memang tercipta untuk masuk ke ruang udara kita. Oleh karenanya kini saatnya otoritas Indonesia mempertanyakan kerja sama dengan menara kontrol regio di Singapore atau FIR (Flight Information Region) yang kelihatannya memberi izin tanpa koordinasi dengan pusat Radar Kosek Hanudnas atau pusat Radar sipil. Atau bisa juga terjadi koordinasi antar Kosek Hanudnas dan Sipil belum terintegrasi.

Peranan FIR Singapore atau juga disebut dengan AIP (Aeronautical Information Publication) mengontrol area udara Indonesia kini saatnya dikaji ulang meski hal ini memang agak sulit karena berkaitan dengan kerja sama internasional dalam memetakan pusat-pusat regio informasi penerbangan dunia yang telah baku disepakati internasional selama ini.

Meski meragukan tidak berarti mustahil. Justru sangat mustahil adalah mengapa wilayah negara raksasa yang memiliki ruang udara yang sangat luas ini dikendalikan oleh luas negara kecil dan tidak mendapatkan fee atas aktivitas pada regio tersebut. Yang terjadi bahkan rentetan peristiwa penyusupan penerbangan ilegal seperti ini.

Tanpa bermaksud memanasi atau memprovokasi dalam kaitan FIR Singapore, menrut hemat penulis, pemerintah Indonesia harus mampu menginventarisasi seluruh rangkaian peristiwa-peristiwa tersebut untuk dijadikan bukti ke forum internasional yang membidangi penerbangan internasional. Tuntutan kita adalah melepas FIR dari Singapore atau FIR Singapore bekerja lebih efektif, efisien agar tidak merugikan dan mencederai jati diri wilayah kita.

Jika itu berlebihan dan tak masuk akal, pemerintah kita harus berhadapan dengan tuntutan zaman penyediaan perangkat teknologi canggih sistem informasi dan pengamanan udara kita, ditambah dengan penempatan SDM yang tepat di bidang tersebut jika harus tunduk pada konsesus internasional tentang keberadaan FIR Singapore.

Jika FIR memang harus berbasis di Singapore, tuntutan kita adalah kompensasi, bagi hasil fee atau denda berlipat ganda atas siapa pun penyusup yang masuk ke ruang kita tanpa informasi lebih awal dari FIR Singapore. Inilah celah semacam Black Hole atau lubang hitam yang sengaja diciptakan asing tanpa kita sadari sangat merugikan selama ini.

Mungkinkah otoritas kita menggunakan seluruh daya upaya melakukan lobi internasional untuk menutup lubang hitam tersebut? Jangan-jangan pelobi ulung kita malah semakin diperdaya oleh orang pintar sekelas Singapore, dengan alasan kesiapan kita dalam hal teknis, teknologi, kualitas SDM dan keamanan dan lain-lainnya, hehehehhehe..

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s