Sajida 2,5 Triliun Milik Al-Qaeda, Apa dan Bagaimana

Kenji Goto, salah satu sandera Jepang yang sebelumnya masih hidup akhirnya dieksekusi penggal kepala oleh ISIS yang memberi isyarat pertukaran sandera dengan Sajida Mubarak Atrous al-Rishawi (49) oleh pemerintah Jordania berjalan sangat lambat. Jika itu benar terjadi, sangat disayangkan, Goto menyusul rekannya Haruna Yukawa yang telah dieksekusi seminggu yang lalu.

Haruna Yukawa yang berniat berbisnis senjata di Suriah telah dieksekusi IS minggu lalu setelah uang tebusan senilai 2,4 triliun diabaikan oleh pemerintah Jepang. Melalui rekaman suaranya Goto  –beberapa hari lalu yang dirilis ISIS di media sosial– menyalahkan pemerintah Jepang karena tidak memenuhi tntutan untuk menyelamatkan rekannya tersebut.

IS lalu mengalihkan strateginya dengan menukar Goto dan Kaseasbeh (sandera Jordania) dengan salah satu tahanan wanita di penjara khusus Jordania, Sajida Mubarak Atrous al-Rishawi anak perempuan Mubarak Atrous al-Rishawi, salah satu kepercayaan al-Zarqawi  untuk Irak.

Sajida ditangkap di Jordania tahun 2005 setelah ia dan suaminya melakukan pengeboman bunuh diri berantai di Jordania, termasuk sebuah hotel mewan di kota Amman yang menewaskan 58 orang.

Suami kedua Sajida, Ali Hussein Ali al-Shamari, tewas dalam serangan bom bunuh diri tersebut. Sementara Sajida sendiri yang juga membalut tubuhnya dengan untaian bahan peledak, gagal meledakkan dirinya yang berujung penangkapan terhadap dirinya oleh petugas keamanan Jordania. Selanjutnya pada 2006 ia ditahan dan menjalani hari-harinya sebagai terpidana hukuman mati setelah beberapa kali permohonannya di tolak otoritas Jordania.

Suami pertama Sajida, Abu Anas al-Urdhani, salah satu pasukan terlatih al-Qaeda asal Jordania juga tewas dalam serangan sekutu di Irak pada 2004. Setahun kemudian ia dinikahi al-Shamari, lalu mengajaknya menyerang ibukota Jordania sebagaimana disebut di atas.

Ada beberapa poin penting yang perlu ditelusuri tentang Sajida yang menimbulkan pertanyaan, yaitu :

  1. Mengapa Sajida tidak meledakkan dirinya meski ia tahu suaminya telah meledakkan dirinya sendiri dikerumunan orang-orang sedang menikmati pesta pada 9 Nopember 2005 lalu.
  1. Mengapa IS bersedia mengalihkan nilai tebusan dalam bentuk uang senilai 2,4 trliun rupiah dengan Sajida saja?
  1. Berhasilkah Sajida dibebaskan  lalu ISIS tidak menerima uang tebusan senilai Rp 2,4 triliun tersebut?

Menurut pengakuan Sajida selama dalam interogasi dan pemeriksaan petugas polisi dan keamanan Jordania, ia punya masa lalu yang kelam. Dua adiknya dan seorang kakaknya tewas dalam operasi pembersihan wilayah oleh sekutu dalam komandi AS di Falujjah pada 2004.

Sebagaimana diketahui, saat itu Jepang mengirim pasukannya  sebagai pemelihara keamanan ke Irak dalam pasukan koalisi pimpinan AS. Dalam jajak pendapat yang dirilis harian Mainichi, pengiriman pasukan Jepang ke Irak ditentang sebagian besar warga Jepang, apalagi sebelumnya dua diplomat Jepang tewas dalam kampanye menggulingkan Saddam Hussen.

Ia menceritakan bagaimana cara ia masuk dari Irak menuju Jordania menggunakan paspor atas nama orang lain, Sajida Abdel Qader Latif dan menetap selama lima hari di Jordania sebelum melaksanakan misi berani mati tersebut. Dari ungkapannya baru diketahui belakangan bahwa  suaminya meminta ia keluar ballroom setelah melihat Sajida mengalami kesulitan menekan detenatornya. Setelah itu barulah Shamari meledakkan dirinya.

Timbul pertanyaan, mengapa detenator yang telah dilatih cara mengaktifkannya itu tidak bekerja dengan baik. Ada dugaan Sajida mengurungkan niatnya setelah melihat sejumlah anak-anak disudut tempat ia memilih lokasi sedang bermain bersama ibu dan keluarganya. Ataukah ada penyebab lainnya, misalnya pembatalan misi? Inikah yang ingin diketahui  secara pasti oleh al-Qaeda.

Sajida memberi alasan mengapa  al-Qaeda menargetkan Jordania sebagai sasaran  karena –katanya- pemereintah Jordania dinilai memihak barat dan terlihat tidak memihak Islam.

Begitu pentingkah Sajida karena merupakan anak perempuan petinggi al-Qaeda di Irak ataukah terindikasi pembatalan misi serangan itu yang menjadi perhatian serius al-Qaeda sehingga rela melepas 2,4 triliun demi mendapatkannya kembali. Atau juga bisa jadi dia merupakan “simpanan berharga” pemerintah Jordania sendiri dalam upaya membebaskan pilotnya.

Atas dasar penjelasan di atas, kemungkinan besar Sajida akan dilepas oleh pemerintah Jordania setelah berkoordinasi dengan AS, Qatar dan Jepang dan pihak terkait dengan PBB dan dengan ISIS sendiri.

Lobi dengan ISIS sedang berlangsung. Jordania memberi isyarat pada ISIS, jika Kaseasbeh masih hidup pembicaraan negosiasi akan dijalankan. Namun jika itu tidak terjadi maka Sajida dan beberapa pentolan ISIS yang tertangkap selama ini akan diadili dan dieksekusi hukuman mati.

Sementara itu, tekanan dari keluarga dari suku Hashemite yang merupakan suku dari Kaseasbeh berasal, semakin gencar. Entah itu sebuah strategi ataukah murni tekanan, hal ini membuat pemerintah Jordania meningkatkan koordinasinya dengan sejumlah pihak disebutkan di atas dan segera memutuskannya dalam waktu dekat.

Jika ke dua warga Jepang telah menjadi korban ganasnya ISIS tentu Jordania tinggal menunggu nasib pilotnya masih selamat apa tidak? Jika masih selamat maka Jordania AKAN TERPAKSA melepas Sajida.Tapi sayangnya ke dua sandera Jepang harusnya TIDAK menjadi martir untuk keputusan yang amat dilematis tersebut.

Salam AGN

Iklan

Satu pemikiran pada “Sajida 2,5 Triliun Milik Al-Qaeda, Apa dan Bagaimana

  1. Ping balik: Sajida 2,5 Triliun Milik Al-Qaeda, Apa dan Bagaimana | Abanggeutanyo News

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s