LPG 9 Kg Atasi Krisis 12 Kg vs 3 Kg

Aneka kemasan LPG (butana dan Propana) Aniol gasol, Swedia. Sumber : http://www.aniolgasol.se/vad-%C3%A4r-gasol-9366119

Aneka kemasan LPG (butana dan Propana) Aniol gasol, Swedia. Sumber : http://www.aniolgasol.se/vad-%C3%A4r-gasol-9366119

Dalam menetapkan harga Minyak dan Gas, Pemerintah dan Pertamina berada pada posisi yang sulit. Bagaikan buah simalakma atau dua mata pisau dengan nilai tambah dan risikonya sendiri.

Tidak mudah berada kondisi tidak populis karena akan ditunggangi oleh kelompok partisan mengatasnamakan rakyat jelata yang menyulut gejolak sosial dalam masyarakat dan berimplikasi pada rawannya keamanan dan ketertiban dalam masayarakat.

Pada Januari 2014, Pertamina – atas dasar pertimbangan Pemerintah agar LPG  Non Public Service Obligation (Non PSO) 12 kg)- tidak jadi menaikkan harga. Pertamina  dan pemerintah “menganulir”  harga harga baru LPG Non PSO 12 kg yang sempat naik harganya selama seminggu. Revisi penurunan kembali dipublikasikan pada 7 Januari 2014.

Harga yang dinaikkan pada 1 Januari 2014 (akibat melepas subsidi) hanya pada Non PSO 12 kg. Sementara itu pada tabung PSO 3 kg tetap ditanggung subsidinya (tidak naik).

Tahun 2014, waktu terus berlalu, tanpa terasa kita hampir berada di penghujung 2014 saat cadangan BBM 2014 berada pada titik kulminasi. Kondisi ini membuat Pertamina dan lembaga terkait (kementerian ESDM, Kementerian Perekonomian, Kementerian Keuangan dan DPR)) terpalsa harus mengambil sikap tidak populis.

Akhirnya harga LPG 12 Kg (Non PSO) ditetapkan dengan pasti pada 10/9/2014. Meski ada sedikit dampaknya serta protes dan gejolak pada minggu pertama kenaikannya lambat laun kondisi tersebut mulai terdaptasi dengan sendirinya di seluruh lapisan masyarakat.

Pemerintah telah memprediksi seluruh dampak, gejolaj dan protes yang berpotensi menimbulkan gejolak dalam masyarakat karena mekanisme dan prosesnya memang telah melalui tahapan yang amat panjang.

Mekanisme kenaikan harga BBM termasuk LPG dirancang sedemikian rupa agar telah benar-benar menyentuh “alam bawah sadar” masyarakat melalui :

  1. Program konversi BBM ke Gas (LPG) digalakkan secara terstruktur, masif dan sistemtis (TSM) sejak 2 tahun terakhir.
  2. Memberi penyuluhan dan informasi yang merakyat dan fakta-fakta. Sosialisasi merkyat dapat dilihat di sini. Sementara itu, melalui fakta, Pertamina mempunyai pandangan realistis, terus merugi sejak 2008 sebelum kenaikan pada 10/9/2014 lalu. Harga elpiji tidak pernah dinaikkan sejak Oktober 2009.
  3. Mencabut kembali kenaikan 1 Januari 2014 dan mengembalikan pada harga tetap untuk seluruh jenis LPG pada 7 Januari 2014
  4. Berkembangnya opini pro dan kontra akan membuat masyarakat terkondisi dengan sendirinya sehingga seara psikologis tidak merasa dikagetkan
  5. Munculnya polemik dalam kepemimpinan nasional (SBY atau Jokowidodo) tentang siapa yang paling tepat menaikkan harga BBM termasuk LPG secara tidak langsung membuat masyarakat tidak terkejut dengan kondisi kelangkaan LPG dan BBM serta kenaikan harganya.

Mekanisme sosialisasi Pertamina dan pemerintah seperti di atas telah berjalan seara terstruktur, sistematis dan massif (TSM). Dalam berbagai pendapat pejabat Pertamina dan Pemerintah telah memprediksi dampak kenaikannya akan menimbulkan goncangan meski sesaat atau sebulan saja akibat migrasi massal pengguna tabung 12 Kg ke tabung masih subsidi 3 Kg.

Dalam pandangan pemerintah dan Pertamanina, nantinya pengguna tabung 12 Kg tidak merasa efektif menggunakan tabung 3 Kg,  cepat atau lambat migrasi atau eksodus massal pengguna tabung 3 Kg “kagetan”” akan kembali  lagi dengan sendirinya ke tabung 12 Kg meski harganya telah Non Subsidi.

Solusi Melepas Subsidi LPG, Tenang tapi Pasti

Meski sampai saat ini dampak kenakan harga BBM dan LPG 12 Kg TIDAK terjadi tak salah mempersiapkan antisipasi lebih mendalam. Apa jadinya jika analisa atau assumsi pemerintah di atas ternyata meleset. Misalnya, dampak kenaikan BBM termasuk LPG ternyata menimbulkan kekacauan ekonomi dalam masyarakat dan berdampak pada aneka dimensi ekonomi makro  negara?

Kata peribahasa, “Pintar-pintarlah meniti buih agar selamat badan ke seberang.” Tak salah PERTAMINA dan Pemerintah mengadopsi pepatah lama itu. Bagaimana melepas pelan-pelan Subsidi pada BBM dan Gas LPG namun mampu membuat Pertamina menipis keugiannya dan di sisi lain pendapatan negara dari sektor Migas juga meningkat.

Tabung Non PSO 9 Kg salah satu mediator pemberi solusi

Tabung kemasan LPG tidak musti harus 3 Kg, 12 Kg dan 50 Kg. Seperti di negara lainnya tabung LPG tentu dapat diperkecil atau diperbesar kemasannya. Untuk efisiensi dalam kaitan ketersediaan stok LPG dan mengeliminir konsumsi gas partai besar, tak salah Pertamina menyediakan kemasan 9 Kg, atau 6 Kg di luar kemasan yang sudah ada selama ini.

Aneka kemasan LPG dapat ditemui di berbagai negara sehingga masyarakat di negara tersebut dapat leluasa memilih LPG sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Misalnya produksi Swedia, menyediakan LPG dari kemasan 1,25 Kg sampai 100 Kg, seperti terlihat pada gambar di atas pada tulisan ini.

Kemasan 11 Kg ada di Filipina, buatan Brenton International Venture Manufacring Corpration.

Kemasan 7 dan 11 Kg ada di Inggris, London, buatan Ady”s Gas (Bristol). Selain itu juga terdapat kemasan 5 dan 10

Kg dan kemasan lainnya.

Aneka kemasan lebih bervariasi dan menarik juga terdapat di Australia seperti yang disampaikan oleh bapak Tjiptadina Efendi, dalam reportasenya di Kompasiana pada 14 September 2014, di sini. Di Sini

Hampir semua negara di seluruh dunia mempunyai kemasan yang tidak statis pada kemasan 3 Kg, 12 Kg, 50 Kg sebagaimana yang kerap dan umum di Indonesia.

Oleh karenanya, dengan memproduksi kemasan 9,5 Kg (net) misalnya akan membuat keuntungan 2 kali sekaligus, yaitu :

  1. Konsumen pengguna gas non subsidi tidak terlalu banyak menanggung subsidi dari 12 Kg menjadi 9 Kg setiap pembelian.
  2. Pertamina dapat melepas HPP lebih efisien karena lebih irit 3 Kg akibat telah diserap oleh konsumen melalui penggunaan tabung 9 Kg.
  3. Tabung kemasan baru (misal 9 Kg) tersebut dapat disediakan Pertamina melalui cara barter tabung 12 Kg ditukar dengan 1 tabung 9 Kg. Atau 3 tabung 3 Kg ditukar dengan 1 tabung 9 Kg yang baru.
  4. Keuntungan lainnya untuk Pertamina adalah mengeliminir munculnya tabung-tabung palsu yang rentan bocor atau meledak yang sering terjadi pada kemasan 3 Kg beberapa waktu yang lalu. Melalui program ini sedikit demi sedikit tabung 3 Kg akan ditukar dengan kemasan 9 Kg, misalnya.
  5. Keuntungan investasi lainnya akan berdampak pada terciptanya industri pembuat tabung yang mendapat lisensi Pertamina atau Pertamina sendiri yang memproduksinya untuk menjaga mutu dan jaminan keamanannya.

Pada tahap awal Pertamina tentu akan mengeluarkan kos lebih besar untuk menyiapkan dan memproduksi tabung kemasan baru tersebut. Akan tetapi dengan animo migrasi konsumen 3 Kg dan 12 Kg ke tabung kemasan alternatif tersebut selain berhemat penggunaan LPG maka subsidi yang dilepas secara perlahan juga akan menemukan posisinya secara pasti.

Tentu semua itu harus dikaji lebih mendalam lagi oleh semua pihak berkompeten di Pertamina. Perusahaan kelas dunia milik kita ini pasti memiliki SDM handal dan terampil yang dapat mencerna, membahas dan mempertimbangkan usulan pada tulisan sederhana ini.

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s