Sutarman Pilih Jejak Hoegeng

Sebagaimana analisa sebelumnya saat marak-maraknya bursa calon Kapolri pengganti BHD pada era Presiden SBY yang akhirnya meloloskan Timur Pradopo ke tampuk kekuasaan Kapolri, berikut sejumlah data dan fakta akan mengarahkan kita pada siapa pewaris sesungguhnya Kapolri pengganti Jenderal Sutarman.

Beberapa fakta yang melatar belakangi tulisan ini antara lain sebagai berikut :

  • Analisa penulis pada 29 Juni 2010 pada tulisan berjudul “Proteksi Pewaris, Siapa Bisa Jadi Kapolri 2010?” Sini
  • Analisa penulis pada 5 Oktober 2010 pada tulisan berjudul “Ramalan tepat 99% Timor Pradopo, Kapolri” Sini
  • Draf usulan Mabes Polri tentang Peraturan Presiden yang diusul pada 2010 belum ditandatangani Presiden SBY sampai berhenti jabatannya. Draf yang berisi usulan Kapolri berwenang menunjuk calon penggantinya belum disetujui sampai saat ini. Di dalam situs Polri, tidak ditemukan adanya Kepres yang menampilkan hal tersebut. Lihat di http://www.polri.go.id
  • Peraturan Presiden (Perpres) No.17/2011 mengenai Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Memberi hak Tugas dan Wewenang pada Kompolnas berkaitan pemberhentian dan pengangkatan Kapolri mengajukan calon Kapolri, sesuai Pasal 4, ayat (a) dan (b)
  • Bursa calon Kapolri semakin hangat dan penuh intrik sejak era Presiden SBY mulai berkuasa (Oktober 2004 – Oktober 2014) mulai dari pengangkatan Jenderal Soetanto (Juli 2005) hingga Soetarman (Oktober 2014). Pengaruh internal Kapolri berkuasa merekomendasikan jagoannya membuat kubu lain yang berambisi untuk posisi tersebut seperti kebakaran jenggot.
  • Trik dan intrik pihak terkait mulai dari Kapolri MPP, Calon-calon Kapolri, Komisi 3 DPR, Kompolnas sampai Pers secara terbuka maupun tertutup kerap mencuat ke permukaan melalui pemberitaan media massa.
  • Bursa calon Kapolri era 2010 ditandai suasana perpecahan petinggi Kapolri saat itu dimana Kompolnas sendiri menilai adanya penzaliman terhadap Soesno Duaji. Netta S Pane dari IPW menyebut, Soesno Duadji menjadi korban politik tingkat tinggi di Polri.
  • Kapolri saat ini, Jenderal Sutarman menyatakan Budi Gunawan masih tetap sebagai calon Kapolri. Sementara itu ICM menyatakan pernyataan Mabes Polri bahwa rekening BG adalah angka yang wajar.

Kini, era pemerintah SBY telah berakhir. Seiring dengan itu Presiden Joko Widodo mencoba membentuk karakter punggawa-punggawanya yang ia nilai selaras dengan prisnip dan filosfinya dalam mengelola dan mengawasi jalannya pemerintahan di negara ini.

Salah satu target Jokowi memilih Kapolri kali ini adalah tepat sasaran dan tepat untuk digunakan. Menemukan sosok yang paling minimal kontroversial dan memiliki pandangan yang sama tentang perubahan yang digelontorkan oleh pemerintahan Jokowi.

Apa daya, meski presiden Jokowi punya pandangan seperti itu, para pembisik Jokowi mulai bermanuver, merek memasukkan calon Kapolri dalam bursa Kapolri yang ternyata adalah salah satu nama daftar hitam yang diterbitkan KPK dalam pemeriksaan rekening gendut Pati Polri yang telah diusap-usap lima tahun lamanya.

Meski berupa kemungkinan, tapi trik dan intrik di balik manuver di atas bisa dibaca. Beberapa trik dan intrik yang (kemungkinan besar) dilakukan Presiden Jokowi bersama tim adalah :

Meminta usulan calon dari Kompolnas lebih cepat dari biasanya (pemerintah sebelumnya, biasanya mulai 3 bulan sebelum diajukan ke DPR). Kompolnas mengakui hal ini. Mereka “terkejut” atas permintaan mendadak tersebut dan mengakui menyodorkan usulan tanpa berkoordinasi dengan KPK, PPATK dan Komnas HAM, sebagaimana dilansir pada 13/1/2014 lalu di kompas.com. Meski Kompolnas menyatakan keterkejutannya, kenyataannya pada September 2014 llu Kompolnas telah menyatakan beberapa nama salah satunya BG, seperti yang disampaikan oleh salah satu Komisiner Kompolnas Drs. H Eka Saputra Hasibuan pada 6/9/2014 pada media massa. Sumber http://siarbatavianews.com

Meski Jokowi mengatakan menggunakan hak Prerogatifnya dan terkejut dengan polemik tebntan Komjen BGi, pasti sebelumnya ia sudah mengetahui salah satu atau beberapa namacalon Kapolri dengan rapor merah dari KPK dan PPATK.

Presiden Jokowi tak kuasa menghadang pembisiknya dan tekanan “Tangan dari Langit” yang berjasa mengantarnya ke tampuk RI 1. Ia pun merekomendasikan sebagai calon tunggal Kapolri dengan catatan khusus.

Di sisi lain, KPK diminta Jokowi secara rahasia segera mengumumkan nama calon tunggal yang terpaksa direkomendasikan. Tak heran melihat cara Abraham Samad memberikan statemen dan gayanya mengangkat tinggi-tinggi berkas BG saat memutuskan sebagai tersangka. Ada pesan khusus Abraham Samad dengan ekspresi sedikit aneh ketika tampil pada moment tersebut. Langkah itu ditempuh Jokowi untuk mereduksi arus kuat mencalonkan BG sebagai Kapolri

Atas dasar seluruh rangkaian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Penunjukan BG mengganti Sutarman sebagai Kapolri 2015 adalah arus sangat kuat dan telah terkondisikan sejak Sutarman menjabat sebagai Kapolri penghargaan menjelang MPP..
  2. Jenderal BG adalah calon terkuat. Ia tidak saja memperoleh dukungan dari atasannya tapi juga dukungan dari politisi PDI P yang mempunyai pertalian hubungan erat dengan partai tersebut meski ia BUKAN anggota PDI P.
  3. Sampai kini, BG tak tergoyahkan. Ia mempunyai rapor hebat dalam setiap bidangnya. Lihat rekornya dari Akpol 1983 terbaik sampai penerima bintang Adhi Makayasa. Ia merupakan alumni 1983 pertama yang paling tinggi pangkatnya sebagai Komjen.
    Ia juga mendapat dukungan 9 fraksi dari 10 fraksi DPR RI dan telah diundang mengikuti fit and proper tes pada 19/1/2015 lalu

Meski gambarannya seperti di atas, mari kita intip, bagaimanakah peluang ke lima calon Kapolri 2015. Mari kita telusuri peluang mereka sebagai berikut :

1.Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal (Komjen) Badroddin Haiti.

Ia adalah orang nomor 2 di Korps Bhyangkara. Mempunyai segudang reputasi dan kaya pengalaman bersama atasan bersama sejumlah Kapolri yang kini dan terdahulu. Sayangnya, ia termasuk dalam salah satu daftar rekening gendut yang dilaporkan KPK dan PPATK pada Juni 2010 lalu.
Usia 56 tahun, masuk jalur MPP. Peluang tipis. 50%. Kecuali menjabat sementara anatar waktu.

2. Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Suhardi Alius.

Angkatan 1985 yang pertama sekali menembus pangkat bintang tiga (Komjen).
Punya pengalaman 25 kali aneka tugas, posisi dan jabatan di berbagai tempat. Kaya pengalaman dan TIDAK termasuk daftar rekening gendut yang meresahkan Pati Polri lainnya.
Prestasinya dalam memberantas jatantras sejak 2013 patutu dibanggakan. Ia tidak menggelegak-gelegak seperti sejumlah pendahulunya. Tidak sering menonjol di media massa dan terkesan tertutup tapi perencanaan dan implementasinya terus berjalan.
Apabila Komjen BG dianulir, kemungkinan besar peluang Suhardi terbuka lebar, 99%.

3. Inspektur Pengawasan Umum Komjen Dwi Priyatno.

Berpengalaman sebagai ajudan mantan Presiden SBY. Perjalanan karier dan pangkat tergolong mengkilap.
Berpengalaman di beberapa tempat dan penugasan. Termasuk posisi jabatan Kapolda Metro Jaya yang paling singkat usia jabatannya.
Berpengalaman dalam organisasi dan membentuk jaringan yang solid

4. Kepala Badan Pendidikan Polri Komjen Budi Gunawan.

Dia adalah sosok yang paling ideal. Selain mempunyai segudang pengalaman dan reputasi ia juga telah mendapat rekomendasi atasan dan sejumlah faktor pendukung dari Politis sampai Presiden. Sayangnya ia tersangkut dalam daftar pemilik rekening gendut Polisi yang disinyalir dari hasil gratifikasi atau lainnya.
Sangat disayangkan pengumuman itu terjadi menjelang penetapannya sebagai Kapolri sehingga peluangnya kemungkinan akan mendapat protes besar dari masyarakat.
Trik dan intrik mempolitisir peluangnya sangat kental sehingga bisa jadi peluangnya gugur menjadi 50%. Bisa jadi Kapolri bisa juga tidak atau ditunda.

5. Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri Komjen Putut Eko Bayu Seno.

Jabatannya saat ini sangat strategis sebagai kepala keamanan Polri. Ia juga punya pengalaman hebat dalam kariernya sejak lulus Akpol pada 1984.
Berpengalaman sebagai Kapolda di daerah yang sangat kompleks seperti Banten, Jabar dan DKI Jakarta. Segudang perjalanan karier membuatnya sedikit menjadi perhatian Pati Polisi lainnya sehingga ia merasa direduksi dengan kembali ke Mabes meski jabatannya sebetulnya sangat strategis.
Bertalenta tinggi dalam memimpin organisasi terbilang handal.
Ia tidak termasuk dalam daftar Polisi Rekening Gendut sehingga tetap berpeluang apabila Komjen BG di anulir.
Peluang Komjen Eko Bayu Seno terbuka agak lebar, 80% setelah Komjen Suhardi Ailus.

Atas dasar seluruh rangkaian di atas apabila Komjen BG dianulir peluang terbesar ada pada Komjen Suhardi Ailus. Potensi dianulirnya Komjen BG sangat besar. Salah satunya raktifnya KPK dengan skema dan tampilan yang diluar kebiasaan pada saat pengumuman yang mendadak tersebut.

Meski KPK bukanlah sebuah lembaga yang mentakdirkan perjalanan karier Komjen BG, tapi rekor dan posisi KPK dalam menghadang laju karier -bahkan- menamatkan karier seseorang bukanlah hisapan jempol belaka. Anda, saya dan kita semua pasti telah mengetahui tentang posisi KPK dalam mewujudkan Indonesia menjadi pemerintahan yang bersih, bukan?

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s