Jegal Menjegal Dari Desa Hingga Negara

Gemerlapnya perjalanan karier dan jabatan seseorang senantiasa mengundang rasa kagum dan iri lawan maupun kawan dalam satu institusi maupun dari luar institusi atau lembaga yang lain.

Kagum karena ikhlas melihat sukses menyertai orang lain dari waktu ke waktu dan membangkitkan rasa senang dan rasa ingin mencicipi hal yang sama.

Iri karena merasa diri sendiri lebih hebat, lebih matang dan lebih jago dari orang tersebut akan tetapi suratan takdir membuat ia merasa berlumut ditelan waktu dan tenggelam bersama kebenciannya yang semakin membuncah dari hari ke hari.

Di sisi lain, dengki juga merupakan bagian dari iri. Kelompok dengki ini TIDAK berkaitan dengan rebutan kekuasan atau persaingan dalam karier, melainkan dengki karena bawaan. Ciri utamnya senang melihat orang lain susah atau kebalikannya, susah melihat orang lain senang.

Aneka cara pun ditempuh untuk melampiaskan rasa iri bercampur dengki yang telah membalut seluruh nurani pendengki tersebut. Beberapa cara yang lazim diketahui terjadi di berbagai lembaga, institusi atau organansi baik Pemerintah, BUMN dan Swasta adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan lobi ke atas menebar informasi sesat tentang orang yang dimaksud.
  1. Membuat gosip ke bawah menebar aneka fitnah yang tidak dapat dipertanggung jawabkan
  1. Membuat kelompok yang memiliki selera dan pandangan yang sama untuk menciptakan citra negatif seseorang.
  1. Meremehkan dan merendahkan orang sukses tersebut baik secara terbuka maupun tertutup. Secara terbuka menantang dan menentang aneka kebijakan dan aturan. Secara tertutup menggalang pemberontakan terutama yang berada dalam satu institusi atau lembaga.
  1. Menjegal dengan cara apapun meski keluar biaya sekalipun atau dalam kapasitas lebih besar huru hara sekalipun tak penting asalkan tercapai tujuan.

Khusus poin ke lima di atas, dalam hal menjegal kini sudah ada serangan baliknya yaitu menjegal. Pihak atau orang yang merasa dijegal melakukan counter attack atau serangan balik menjegal pihak yang menjegalnya. Timbullah fenomena jegal menjegal.

Fenomena itu kini sepertinya telah membudaya di tanah air kita tercinta yang katanya berbangsa Indonesia itu adalah bangsa yang ramah, bertatat krama, berbudi luhur, santun dan paling bersaudara se dunia.

Julukan dan predikat bangsa Indonesai sebagai bangsa paling ramah sedunia rasanya kini hampir tinggal kenangan. Bangsa yang paling menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan tepo seliro rasanya sudah sulit ditemukan seiring semakin menguatnya konsep Hedonisme dalam wujud primordialistis dan materialistis merambah hampir seluruh sendi sosial dari kota metropolitan hingga pedesaan.

Katanya modern tapi perbuatan itu kontradiktif dengan konsep orang modern yang hidup di negara-negara maju. Ambisi dicapai melalui debat terbuka, audiensi, diskusi dan melalui analisis data dan fakta. Dan ketika kalah ia mengakui lawannya lebih berhak darinya sekaligus menyampaikan selamat dan sukses pada lawannya.

Jadi modern seperti apa konsepnya yang diinginkan oleh bangsa kita, sementara konsep di negara maju dalam bersaing (sebab iri) seperti disebut diatas. Sementara, persaingan yang di anut oleh bangsa yang berbudi luhur ini adalah jegal menjegal bahkan sampai ke liang kubur pun masih dijegal.

Lihatlah dalam beberapa kasus  dan penyikapan seperti di bawah ini :

  • Pemilihan kepala dusun dan kepala desa, ribut sedesa. Terjadi perang dingin antar kubu dan tidak cakapan atau bercengkerama lagi karena kubu yang satu menang atau kalah. Baru baikan ketika ada keperluan mengurus surat-surat jaminan kesehatan, KTP, ada pesta, menikahkan keluarga atau ada kemalangan.
  • Pemilihan pemenang tender proyek kelas ringan. Ribut semua peserta tender hingga cakar-cakaran bahkan menghabisi pengguna anggaran (kepala dinas) dengan teror. Belum lagi pemenang tender ada yang dibunuh oleh pihak yang kalah.
  • Penetapan kepala kantor dan seksi-seksinya. Tak beda dengan di atas. Pihak yang kalah seperti kiamat rasanya, tak ada nafsu makan dan tak bisa tidur berbulan-bulan. Terjadi demotivasi, terjadi pembangkangan di bawah alam sadar.
  • Pemilihan Walikota dan wakilnya, juga termasuk Bupati dan Gubernur, tak jauh dari fenomena kontradiktif orang modern.
  • Pemilihan anggota Dewan dari tingkat dua sampai pusat, tak dipungkiri lagi banyak yang gila sendiri akibat iri melihat lawan atau kawannya melenggang dengan senyuman hangat menggoda.
  • Pemilihan Presiden? Oh My God, tak ada kata lagi untuk melukiskan betapa vulgarnya lawan atau teman yang kalah untuk bersikap elegan –tanda orang modern– menyikapi pihak yang menang. Yang terjadi adalah pembangkangan, penggembosan, membuat citra negatif dan merusak sistem dalam program presiden terpilih. Jangan minta mereka berbesar hati karena hati mereka sudah termakan sendiri akibat sakit hati yang katanya sangat tak termaafkan sampai kapan pun…
  • Sebagian pemenang pun jangan berharap bersikap elegan. Mereka mendata dan mendaftar kelompok lawan dan pada akhirnya tidak memberi kesempatan dalam bidang apapun pada bekas lawannya. Katanya, pengkhianatlah, lawan sejatilah atau musuh bebuyutanlah atau pemberontak. Tanpa memikirkan sebagian dari mereka mungkin teman satu desa, atau saudara atau teman saat sekolah dahulu dan tinggal sekamar kost dalam suka dan duka.

Dari pelajaran kasus di atas, dikaitkan dengan maraknya kontra menentang pencalonan Komjen BG sebagai Kapolri apakah mereka termasuk pihak yang dengki? Sebaliknya pihak yang meloloskannya termasuk dalam katagori yang tidak punya malu karena meloloskan orang yang diduga atau dituduh korup dan punya uang menjadi Kapolri?

Kembalikan pada predikat di atas, kita termasuk orang Indoenesia yang punya martabad tinggi, berbudaya tinggi, berbudi luhur, santun dan pandai menghargai orang lain apa tidak?

Salam AGN

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s